Lubuk Linggau atau Lubuklinggau ? Musi Rawas atau Musirawas ?
Nama geografi, khususnya nama kota atau wilayah di Tanah Air, sering kali ditulis dalam bentuk: ada yang dipisah dan ada pula yang dirangkai. Dalam kaitan ini, Pusat Bahasa bekerja sama dengan Bakosurtanal telah menetapkan pembakuannya (Dendy 2003).
Pada prinsipnya, nama geografi ditulis dalam satu kata atau serangkai, kecuali
- terdiri atas 3 unsur atau lebih
- berupa arah mata angin
Dengan demikian nama wilayah geografi yang hanya terdiri atas 2 unsur ditulis serangkai, seperti Rejanglebong, Tulungagung, Bukittinggi, Sawahlunto, Balikpapan, Parepare, Acehbesar dan Tebingtinggi.
Sedangkan nama wilayah geografi yang terdiri atas 3 unsur atau lebih tetap ditulis terpisah, seperti Ogan Komering Ilir.
Arah mata angin yang digunakan sebagai nama wilayah geografi juga tetap ditulis terpisah, meskipun nama wilayah itu hanya terdiri atas 2 unsur, seperti Jakarta Barat, Sumatera Selatan, atau Kalimantan Timur.
Dalam kaitan ini nama daerah atau wilayah geografi, yang masih ditulis dalam bahasa daerah tetap ditulis dengan nama aslinya, tidak diindonesiakan, dengan alasan historis, asal-usul daerah, atau budaya khas daerah setempat, seperti Banyuasin, Tanahabang, atau Kalianyar (bukan Airasin, Tanahmerah, atau Sungaibaru).
sumber: Berani Menulis Artikel, Wahyu Wibowo.Gramedia Pustaka Utama
Udah lama penasaran kenapa Lubuk Linggau harus ditulis menjadi Lubuklinggau
Bagaimana dengan Musi Rawas?….hayooo

















saya rasa digabung karena kalau kita sisipkan kata misal kata petunjuk “di” atau “ke” maupun “bagian” maka artinya jadi ga nyambung:
misal Sumatera Selatan => Sumatera (bagian) Selatan; Sumatera (di) Selatan
kalo Lubuk Linggau => Lubuk (bagian) Linggau; Lubuk (di) Linggau
Kalau “Lubuk di Linggau” artinya kota tersebut bernama Linggau dan Lubuk Linggau adalah daerah di dalam kota Linggau itu sendiri, seperti misalnya kata Sudirman Jakarta yang artinya kawasan Sudirman di Jakarta.
Jadi yang benar menurut saya sih ya “Lubuklinggau” dan “Musirawas”
Saya juga sependapat dengan Anda. Kondisi sekarang ini, di daerah kami, penulisan nama daerah ada yang sudah digabung dan masih ada yang dipisah, yaitu Lubuklinggau dan Musi Rawas. dan menurut kami juga, kata musi rawas harus digabung….jadi musirawas….oce Om..tengkyu komen nya ya…salam kenal
hai salam dari putra sebiduk semare…
ayo mampir mang ke blogg kito
wong coul
ya dak usah bingung lah mang..!!!kan musi rawas dan linggau juge di name ke BUMI SILAMPARI….dan ade pribahasa lan saresan sekantenan..!! ndak linggau ape musi rawas..yang pasti…kite..gale..bersatu..supayo daerah kite di kenal di mane2..!!!
terserah apo nak nyebutnyo yang penting………………kiti pacak hidup dng nyaman dan tentram…………..?
amen pck wong kito dari bumi silampari tu ado kumpul2nyo biar ado perkembangan di jakarta, pening amen cak ini terus………….bejaln dewek2an bae
Apa kabar Lubuklinggau…….
Saya juga sependapat kalau Lubuklinggau itu nulis nya di gabung.
saya juga orang Lubuklinggau yg merantau,saya pengen tau perkembangan nya.
silahkan add YM saya mujionno@yahoo.com
Terimakasih.
Lubuklinggau….. kota penuh kenangan. Ditulis satu kata, maknanya TETEP sama, kan? Musirawas, jugo cak itu. Makna yg tersirat dan tersurat dak berubah, halah…. Kemaren (dec 27-29)sempat balek n perkembangannyo luar biasa. Sudah punyo beberapo hotel *3, kami nginep di Hotel Abadi dengan pelayanan yg lah lumayan, ado kolam renang n hot spot pulo (canggih kan), he he he. Harga-harga melambung disini, mulai harga pulsa, makanan, pijat (reflexy) sampe harga tanah, satu lagi –> banyak ojek yg disetiap tikungan. Dengan SDM yang bergerak membaik (namun temperamen penduduknya belum banyak berubah), semoga kota ini bergerak maju dan sejajar dengan kota2 lain di Bumi Pertiwi. Bravo Linggau…
menurut saya nama disambung atau tidak ngak begitu penting,
tapi yang paling penting bagi saya daerah dimana saya pernah dilahirkan dan dibesarkan bisa lebih maju, seperti daerah lain.
salam saya buat orang kampung saya di desa petung/ merasi
surono