Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

MANFAAT DAN BAHAYA OZON (Bagian I)

LAPISAN OZON DI STRATOSFER

Ozon pertama kali ditemukan oleh Christian Friedrich Schonbein pada tahun 1840. Penamaan ozon diambil dari bahasa yunani OZEIN yang berarti smell atau bau. Ozon dikenal sebagai gas yang tidak memiliki warna. Soret pada tahun 1867 mengumumkan bahwa ozon adalah sebuah molekul gas yang terdiri tiga buah atom oksigen (O3).

Secara alamiah ozon dapat terbentuk melalui radiasi sinar ultraviolet pancaran sinar Matahari. Chapman menjelaskan pembentukan ozon secara alamiah pada tahun 1930. Di mana ia menjelaskan bahwa sinar ultraviolet dari pancaran sinar Matahari mampu menguraikan gas oksigen di udara bebas.

Molekul oksigen tadi terurai menjadi dua buah atom oksigen, proses ini kemudian dikenal dengan nama photolysis. Lalu atom oksigen tadi secara alamiah bertumbukan dengan molekul gas oksigen yang ada disekitarnya, lalu terbentuklah ozon. Ozon yang terdapat pada lapisan stratosphere yang kita kenal dengan nama ozone layer (LAPISAN OZON) adalah ozon yang terjadi dari hasil proses alamiah photolysis ini.

Lapisan ozon berada pada ketinggian 19 – 48 km (12 – 30 mil) di atas permukaan Bumi. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu.

LAPISAN OZON sangat bermanfaat bagi kehidupan di Bumi karena ia melindungi kita dengan cara menyerap 90% radiasi sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan oleh matahari. Diketahui bahwa Sinar UV sangat berbahaya dan dapat menyebabkan:

  1. penyakit kanker kulit,
  2. katarak
  3. kerusakan genetik
  4. penurunan sistem kekebalan hewan, tumbuhan dan organisme yang hidup di air
  5. mengurangi hasil pertanian dan hutan
  6. mematikan anak-anak ikan, kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah plankton yang menjadi salah satu sumber makanan kebanyakan hewan-hewan laut

Kerusakan lapisan ozon juga memiliki pengaruh langsung pada pemanasan bumi yang sering disebut sebagai “efek rumah kaca”Sebagian besar ozon stratosfer dihasilkan di kawasan tropis dan diangkut ke ketinggian yang tinggi dengan skala-besar putaran atmosfer semasa musim salju hingga musim semi. Umumnya kawasan tropis memiliki ozon yang rendah.

OZON DI MUKA BUMI, DI LINGKUNGAN SEKITAR KITA

Ozon bisa terjadi secara alamiah di dalam smog (kabut) terutama di kota-kota besar, seperti di Jakarta. Gas NOx dan hydrocarbon dari asap buangan kendaraan bermotor dan berbagai kegiatan industri, merupakan sumber pembawa terbentuknya ozon.

Reaksi dari ozon dengan gas hydrocarbon ini dilanjutkan dengan terbentuknya asam nitrat dan asam sulfate yang selanjutnya dapat menimbulkan hujan asam, yang selain membahayakan manusia juga dapat merusak berbagai ekosistem air.

Ozon adalah gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dapat merusak paru-paru bahkan mampu menyebabkan kematian.

Karena sifat racun yg dimiliki oleh ozon ini, manusia menemukan ide seharusnya ozon bisa dimanfaatkan seperti: untuk membunuh kuman-kuman penyakit.

Berdasarkan pengetahuan manusia mengenai proses bagaimana terjadinya ozon, pada tahun 1857 Siemens berhasil membuat ozon dengan metode dielectric barrier discharge.

Pembentukan ozon dengan electrical discharge ini secara prinsip sangat mudah. Prinsip ini dijelaskan oleh Devins pada tahun 1956. Ia menjelaskan bahwa tumbukan dari electron yang dihasilkan oleh electrical discharge dengan molekul oksigen menghasilkan dua buah atom oksigen.

Selanjutnya atom oksigen ini secara alamiah bertumbukan kembali dengan molekul oksigen di sekitarnya, lalu terbentuklah ozon. Dewasa ini, metode electrical discharge merupakan metode yang paling banyak dipergunakan dalam pembuatan ozon diberbagai kegiatan industri.

Ozon, aktif species yang mempunyai sifat radikal ini, memerlukan juga perhatian khusus dalam penyimpanannya. Kadar 100 persen ozon pada suhu kamar mudah sekali meledak. Ozon akan aman disimpan pada suhu di bawah -183 oC dengan kadar ozon dalam campuran ozon dan oksigen dibawah 30 persen. Sekarang ozon kebanyakan disimpan dalam bentuk ozonized water atau ozonized ice.

MANFAAT OZON
Pemanfaatan ozon telah dilakukan lebih dari seratus tahun yang lalu. Ozon pertama kali di pergunakan oleh Nies dari Prancis pada tahun 1906 untuk membersihkan air minum. Berawal dari kesuksesan Nies ini di berbagai negara Eropa penggunaan ozon untuk mengolah air minum berkembang pesat.

Di Asia, pemanfaatan ozon untuk mengolah air minum pertama kali dilakukan di Kota Amagasaki, Jepang, pada tahun 1973. Namun, pemanfaatan pada waktu masih terbatas hanya untuk menghilangkan bau. Di Amerika, pemanfaatan ozon termasuk lambat, ozon dipergunakan pertama kali pada pusat pengolahan air di Los Angeles pada tahun 1987.

Memasuki tahun 1990-an pemanfaatan ozon berkembang sangat pesat. Berbagai pemanfaatannya antara lain, ozon untuk pengolahan air minum dan air limbah, ozon untuk sterilisasi bahan makanan mentah, serta ozon untuk sterilisasi peralatan.

Luasnya ruang lingkup penggunaan ozon ini tidak terlepas dari sifat ozon yang dikenal memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya) serta memiliki oksidasi potential 2.07 V. Ozon dengan kemampuan oksidasinya dapat menguraikan berbagai macam senyawa organik beracun yang terkandung dalam air limbah, seperti benzene, atrazine, dioxin (Daito, 2000), dan berbagai zat pewarna organik (Sugimoto, 2000).

Melalui proses oksidasinya pula ozon mampu membunuh berbagai macam microorganisma seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella enteriditis, serta berbagai bakteri pathogen lainnya (Violle, 1929).

Ozon juga dapat dipergunakan untuk mengawetkan bahan mentah makanan seperti daging dan ikan dengan menghambat perkembangan jamur (Kuprianoff, 1953). Hal yang sama juga dipergunakan untuk menghambat perkembangan jamur (Botrytis cinerea) pada sayur-mayur dan buah-buahan (Barth, 1995).

Dalam bidang kedokteran ozon mulai banyak dipergunakan setelah ditemukannya alat penghasil ozon untuk sterilisasi kedokteran oleh J Hansler pada tahun 1957. Penggunaan ozon dalam bidang kedokteran antara lain adalah untuk mencuci peralatan kedokteran.

Ozon dapat pula dipergunakan untuk meperlancar jalannya aliran darah. Di Jepang penggunaan ozon sebagai salah satu metode untuk mencuci peralatan kedokteran telah mendapatkan pengesahan dari Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan pada tahun 1995.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan manusia, ozon pun dimanfaatkan di bidang pengobatan untuk mengobati pasien dengan cara terawasi dan mempunyai penggunaan yang meluas, seperti di Jerman. Di antaranya ialah untuk perawatan kulit terbakar.

Sedangkan dalam perindustrian, ozon digunakan untuk:

  1. mengenyahkan kuman sebelum dibotolkan (antiseptik)
  2. menghapuskan pencemaran dalam air (besi, arsen, hidrogen sulfida, nitrit, dan bahan organik kompleks yang dikenal sebagai warna)
  3. membantu proses flokulasi (proses pengabungan molekul untuk membantu penapis menghilangkan besi dan arsenik)
  4. mencuci, dan memutihkan kain (dipaten)
  5. membantu mewarnakan plastik
  6. menentukan ketahanan getah
  7. pengawetan bahan makanan,
  8. sterilisasi peralatan kedokteran

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Lapisan_ozon
http://id.wikipedia.org/wiki/Ozon
http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=29
http://www.e-smartschool.com/PNU/001/PNU0010007.asp
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/ozon-dan-pemanasan-global.html
http://s0leh.blogspot.com/2007/09/banyak-masyarakat-kita-yang-belum-dan.html
http://antara.co.id/arc/2007/11/12/petugas-bahan-perusak-ozon-25-negara-bertemu-di-bali/

Lanjut ke bagian II, Lapisan Ozon Menipis Akibat Pemakaian CFC

Iklan

Januari 30, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , | 17 Komentar

LAPISAN OZON MENIPIS AKIBAT PEMAKAIAN CFC (CLOROFLUOROCARBON) (Bagian II)

Ancaman yang diketahui terhadap keseimbangan ozon adalah kloroflorokarbon (CFC) yang mengakibatkan menipisnya lapisan ozon.

CFC digunakan oleh masyarakat modern dengan cara yang tidak terkira banyaknya,

  1. AC
  2. kulkas
  3. bahan dorong dalam penyembur (aerosol), diantaranya kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut atau parfum
  4. pembuatan busa
  5. bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik

Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.

MEKANISME PERUSAKAN LAPISAN OZON


Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 – 50 km). Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dan membebaskan atom KLORIN. Atom klorin ini berupaya memusnahkan ozon dan menghasilkan LUBANG OZON.

Penipisan lapisan ozon akan menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi.

Lubang ozon di Antartika disebabkan oleh penipisan lapisan ozon antara ketinggian tertentu seluruh Antartika pada musim semi. Pembentukan ‘lubang’ tersebut terjadi setiap bulan September dan pulih ke keadaan normal pada lewat musin semi atau awal musim panas.

Dalam bulan Oktober 1987, 1989, 1990 dan 1991, lubang ozon yang luas telah dilacak di seluruh Antartika dengan kenaikan 60% pengurangan ozon berbanding dengan permukaan lubang pra-ozon. Pada bulan Oktober 1991, permukaan terendah atmosfer ozon yang pernah dicatat telah terjadi di seluruh Antartika.

REGULASI

1975, dikhawatirkan aktivitas manusia akan mengancam lapisan ozon. Oleh itu atas permintaan “United Nations Environment Programme” (UNEP), WMO memulai Penyelidikan Ozon Global dan Proyek Pemantauan untuk mengkoordinasi pemantauan dan penyelidikan ozon dalam jangka panjang. Semua data dari tapak pemantauan di seluruh dunia diantarkan ke Pusat Data Ozon Dunia di Toronto, Kanada, yang tersedia kepada masyarakat ilmiah internasional.

1977, pertemuan pakar UNEP mengambil tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon;

1987, ditandatangani Protokol Montreal, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat.

1990 Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George Bush.

1991 Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas.

1995, lebih dari 100 negara setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju. Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun 2000.

1995 CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun dan dihentikan secara bertahap di negara berkembang hingga tahun 2010.
Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC

  • hingga 2020 pada negara maju dan
  • hingga 2016 di negara berkembang.

UPAYA INDONESIA

Indonesia telah menjadi negara yang turut menandatangani Konvensi Vienna maupun Protokol Montreal sejak ditetapkannya Keputusan Presiden No 23 Tahun 1992. Berdasarkan Keputusan Presiden itu, Indonesia juga punya kewajiban untuk melaksanakan program perlindungan lapisan ozon (BPO) secara bertahap.

Secara nasional Indonesia telah menetapkan komitmen untuk menghapus penggunaan BPO (Bahan Perusak Lapisan Ozon) pada akhir tahun 2007, termasuk menghapus penggunaan freon dalam alat pendingin pada tahun 2007. Untuk mencapai target penghapusan CFC pada tahun 2007, Indonesia telah menyelenggarakan beberapa program. Dana untuk program penghapusan CFC diperoleh dalam bentuk hibah dari Dana Multilateral Montreal Protocol (MLF), di mana UNDP menjadi salah satu lembaga pelaksana. Dengan dukungan dari UNDP, Indonesia telah melaksanakan 29 proyek investasi tersendiri di sektor busa dan 14 proyek investasi tersendiri di sektor pendinginan.

Pekerjaan di kedua sektor ini telah membantu mengurangi produksi CFC Indonesia sebanyak 498 ton metrik dan 117 ton metrik di masing-masing sektor.

Memang timbulnya penipisan lapisan ozon ini dipicu dari tingginya pemakaian CFC oleh negara-negara maju beberapa dekade yang lalu, namun guna menormalkan kembali kondisi ozon ini diperlukan kerja sama yang baik dari semua pihak. Baik negara maju maupun negara berkembang yang saat ini masih menginginkan penggunaan zat kimia buatan manusia tersebut dalam industrinya perlu melakukan tindakan yang diperlukan. Tindakan yang dapat kita lakukan saat ini demi memelihara lapisan ozon, misalnya mulai mengurangi atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang mengandung zat-zat yang dapat merusak lapisan pelindung bumi dari sinar UV ini. Untuk itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang tidak merusak lapisan ozon. Bila tidak, maka proses penipisan ozon akan semakin meningkat dan mungkin saja akan menyebabkan lapisan ini tidak dapat dikembalikan lagi ke bentuk aslinya.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Lapisan_ozon
http://id.wikipedia.org/wiki/Ozon
http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=29
http://www.e-smartschool.com/PNU/001/PNU0010007.asp
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/ozon-dan-pemanasan-global.html
http://s0leh.blogspot.com/2007/09/banyak-masyarakat-kita-yang-belum-dan.html
http://antara.co.id/arc/2007/11/12/petugas-bahan-perusak-ozon-25-negara-bertemu-di-bali/

Januari 30, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , | 50 Komentar

DAFTAR PESTISIDA BERBAHAYA FSC

No

Bahan Aktif

No

Bahan Aktif

1

Aldicarb

38

Gamma-HCH, lindane

2

Aldrin

39

Haloxyfop

3

Alumunium fosfid

40

Heptachlor

4

Amitrole

41

Hexachlorobenzene

5

benomyl

42

Hexazinone

6

Brodifacoum

43

Hydramethylnon

7

Bromadialone

44

Imazapyr

8

Carbaryl

45

Imazapyr, isopropylamine salt

9

Chlordane

46

Mancozeb

10

Chloropicrin

47

Metam sodium

11

Chlorothalonil

48

Methoxychlor

12

Cyfluthrin

49

Methylarsonic acid (MSMA)

13

cypermethrin

50

Methylbromide

14

Alpha-cypermethrin

51

Metolachlor

15

Zeta-cypermethrin

52

Mirex

16

2,4-D, butoxyethanol ester

53

Naled

17

2,4-D, diethanolamine salt

54

Oryzalin

18

2,4-D, dimethylamine (dma) salt

55

Oxydemeton-methyl, metasystox

19

2,4-D, ethylhexyl ester

56

Oxyfluorfen

20

2,4-D isopropylamine salt

57

Paraquat

21

2,4-D triisopropanolamine salt

58

Parathion

22

2,(2,4-DP), dma salt (dichlorprop)

59

Pendimethalin

23

DDT

60

Pentachlorophenol

24

Diazinon

61

Permethrin

25

Dicamba, dma salt

62

Quintozene

26

Dichlobenil

63

Simazine

27

Dicofol

64

Sodium cynide

28

Dieldrin

65

Sodium fluoroacetate, 1080

29

Dienochlor

66

2,4,5-T

30

Difethialone

67

Tebufenozide

31

Diflubenzuron

68

Terbumeton

32

Dimethoate

69

Terbuthylazine

33

Diquat dibromide

70

Terbutryin

34

Diuron

71

Trifluralin

35

Endosulfan

72

Toxaphene (camphechlor)

36

Endrin

73

Warfarin

37

Esfenvalerate

74

Zinc phosphid

Hati-hati Memakai Pestisida

Januari 29, 2008 Posted by | Pestisida | , | 11 Komentar

Hati-hati Memakai Pestisida

Penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit dalam beberapa hal menguntungkan petani. Pada musim penghujan alang alang tumbuh begitu subur sehingga menyulitkan petani untuk melakukan pemeliharaan tanaman pokok. Penebasan dengan cara manual tidak menampakkkan hasil optimal. Penggunaan herbisida adalah pilihan yang terbaik.

Pembakaran tumbuhan pengganggu termasuk pekerjaan yang paling mudah dan murah. Tapi bagaimana nasib tanaman pokok? Pembakaran biasa dilakukan petani menjelang hanya pada musim tanam.

Setiap tahun XIP berusaha menekan pemakaian pestisida, hal ini berkaitan untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan bagi karyawan dan petani. Di samping XIP tidak memakai pestisida berbahaya, berdasarkan Surat No.01/XIP-STFK/I/2008, di lokasi persemaian XIP memutuskan tidak menggunakan pestisida pembasmi alang-alang. Pembasmian wajib dilakukan secara manual.

Diketahui bahwa pemakaian pestisida memberikan dampak negatif yang luas bagi kesehatan manusia, juga bagi keseimbangan ekosistem karena satu atau beberapa rantai makanan teracuni dan bahkan sampai terputus.

XIP mengenalkan dan mengingatkan kepada karyawan, petani mitra serta beberapa pihak yang terkait mengenai 74 buah jenis Pestisida Berbahaya, terlampir pada dokumen FSC GUI 30 001 EN FSC Pesticides Policy Guidance 2006. Di dalam dokumen tersebut dijelaskan dasar alasan mengapa masing-masing jenis pestisida tersebut berbahaya.

Berdasarkan pengamatan di Kota Lubuklinggau dan Kab. Musi Rawas telah ditemukan:

26 buah pestisida berbahaya

  • (10 jenis bahan aktif, 4 jenis pestisida)

masih dijual secara bebas

Hal ini wajib diperhatikan secara serius, khususnya bagi karyawan, petani mitra dan pihak yang terkait dan kepada seluruh masyarakat pada umumnya demi terjaganya kesehatan kita dan keselamatan lingkungan.

Pengamatan ke-1 :

JENIS Bahan Aktif Jumlah
     
Insektisida Permetrin 20 g/l 1 botol
Rodentisida Brodifokum 0,005 % 1 bungkus
Insektisida Cypermethrin 50 g/l 1 botol
Insektisida Diazinon 600 g/l 3 botol
Herbisida Parakuat diklorida 276 g/l 3 botol
Fungisida Mankozeb 80 % 1 bungkus
Fungisida Endosulfan 350 g/l 1 botol

pstd.jpg

Hasil pengamatan ke-2:

JENIS BAHAN AKTIF JUMLAH
     
Insektisida Endosulfan 20 % 2 bks
Imsektisida Cypermethrin 50 g/l 1 btl
Insektisida Cypermethrin 113 g/l 1 btl
Rodentisida Brodifakum 0,005% 1 bks
Fungisida Mankozeb 80 % 2 bks
Insektisida Carbaril 85% 4 bks
Insektisida Alfa sipermetrin 50 g/l 1 btl
Insektisida Endosulfan 33 % 1 btl
Insektisida Diazinon 60 g/l 1 btl
Herbisida 2,4-D dimetil amina 865 g/l 1 btl
     

pestisida berbahaya

Oleh karena itu saat pembelian pestisida perhatikanlah bahan aktif yang tertera pada label.
Daftar Pestisida Berbahaya

FSC GUI 30 001 EN FSC Pesticides Policy Guidance 2006

Januari 29, 2008 Posted by | Pestisida | , , , , , , , , | 10 Komentar

Apa itu Pengelolaan Hutan Lestari? dan Mengapa?

Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management)

adalah sistem pengelolaan hutan yang menjamin keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dengan memperhatikan fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan secara seimbang.

Sosial

Dampak positif pada kesejahteraan sosial dan ekonomi jangka panjang untuk masyarakat lokal

Lingkungan

Menjaga fungsi lingkungan hidup yang meliputi stabilitas daerah aliran sungai, konservasi sumberdaya biologi dan perlindungan habitat hidupan liar

Ekonomi

Perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan harus memasukkan konsep kelestarian hasil

Sertifikasi PHL & CoC, Mengapa Penting?

  1. Pemerintah mensyaratkan unit pengelola hutan & industrinya memenuhi minimum requirement standard PHL.
  2. Pasar internasional Green Buyers mensyaratkan produk kehutanan yang ramah sosial dan lingkungan
  3. Tekanan lembaga keuangan terhadap para investor untuk membangun Green-Image
  4. Jaminan pasar bagi produsen produk kehutanan ramah sosial dan lingkungan
  5. Mengurangi resiko dampak sosial dan lingkungan dalam jangka panjang
  6. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja unit pengelola

Januari 29, 2008 Posted by | Sertifikasi | , , | 1 Komentar

Sinopsis Proses Penilaian Sertifikasi oleh SmartWood

Para penilai dari SmartWood diberi petunjuk secara rinci, termasuk penjelasan pra-penilaian (baik secara langsung atau melalui telpon) dan akses pada manual SmartWood tertulis untuk penilaian hutan. Tujuan penjelasan dan manual ini adalah untuk menjamin bahwa mereka mengikuti proses sertifikasi yang konsisten dan menyeluruh.

Selain mengikuti prosedur SmartWood yang digariskan dalam manual untuk penilaian hutan, ada tiga cara yang digunakan oleh SmartWood untuk menjamin akurasi dan keadilan dalam sertifikasi kami:

  1. Penilaian tersebut harus melibatkan individu yang sangat paham kawasan tertentu dan jenis pengelolaan hutan dengan evaluasi itu. Kebijakan SmartWood adalah melibatkan spesialis lokal dalam semua kegiatan penilaian.
  2. Anggota tim harus familiar dengan prosedur sertifikasi SmartWood. Setiap penilaian sertifikasi SmartWood mempunyai seorang pimpinan tim yang harus berpartisipasi dalam pelatihan formal oleh SmartWood dan sebelumnya telah mengikuti penilaian pengelolaan hutan oleh SmartWood.
  3. Penilaian tersebut harus menggunakan pedoman evaluasi yang khas wilayah (kriteria dan indikator lokal), jika ada, atau mengadaptasi Pedoman Umum SmartWood dengan situasi lokal; semua pedoman tersebut merupakan dokumen publik.

Organisasi Tim

Di lapangan, tugas pertama pimpinan tim penilai adalah untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memahami ruang lingkup dan tujuan proses penilaian. Tim tersebut mereview dan membahas kriteria dan indikator umum,atau mereka bisa juga langsung mereview standar lokal jika ada. Berdasar review ini, tim akan menugaskan individu untuk menilai subyek dan criteria. Semua anggota tim dapat memberikan input pada setiap kategori informasi, tetapi yang terpenting adalah adanya tanggung jawab yang jelas untuk pengumpulan dan analisis data serta pelaporan untuk setiap subyek dan semua kriteria yang ditugaskan.

Mereview/merevisi Kriteria dan Indikator Penilaian

Tim Penilai harus mencakup semua elemen yang ada dalam Pedoman Umum SmartWood, pedoman regional SmartWood atau standar regional yang disetujui oleh FSC. Kriteria dan indikator tersebut merupakan bagian dari catatan publik untuk setiap penilaian sertifikasi. Kriteria dan indikator tersebut akan direview oleh calon perusahaan yang akan disertifikasi, peer reviewer dan kantor pusat SmartWood dan tersedia bagi publik stakeholders. Anggota tim juga mereview hukum, peraturan dan persyaratan administratif nasional dan internasional yang berlaku dan dapat memasukkan hal-hal yang relevan pada kriteria yang sesuai dalam pedoman ini.

Pengumpulan Data

Setelah ada diskusi internal dalam tim, anggota tim bertemu dengan staff dari perusahaan yang dinilai. Pertemuan awal berfokus pada klarifikasi prosedur penilaian dan kriteria serta indikator. Proses penilaian diteruskan dengan tahap lapangan. Kunjungan ke lapangan ke tempat-tempat tertentu dipilih oleh penilai SmartWood berdasar review yang komprehensif pada kondisi perusahaan dan kegiatan pengelolaan, diskusi dengan pemilik lahan dan masyarakat, dan identifikasi masalah-masalah kritis, lokasi-lokasi penting dsb. Kunjungan lapang dilakukan di kawasan hutan, fasilitas pabrik dan masyarakat lokal di sekitarnya. Kunjungan lapangan menekankan pada kegiatan pengelolaan di semua jenis dan tahap, oleh staff yang berbeda dari perusahaan tersebut dan dalam kondisi biologi dan fisik yang berbeda pula. Anggota tim juga bertemu secara independen dengan stakeholder.

Semua penilaian adalah untuk mencari dan memasukkan input (baik yang rahasia atau terbuka) dari stakeholder yang terkena dampak atau berpengetahuan, yang meliputi masyarakat lokal, pemilik lahan di sekitar, industri kehutanan lokal, organisasi lingkungan hidup, lembaga pemerintah dan peneliti ilmiah.

Sepanjang konsultasi ini, anggota tim penilai menjelaskan proses penilaian, mencari pendapat dan mengumpulkan pandangan-pandangan mengenai kinerja lapangan dari perusahaan yang sedang dinilai tersebut. Sebelum, selama dan setelah kunjungan ke stakeholder dan lapangan, tim bertemu untuk mereview kriteria, membahas progress dalam pengumpulan informasi dan membahas temuan-temuan pendahuluan.

Analisis Data dan Skoring

Tim penilai bekerja dengan cara konsensus untuk menganalisis, memberi skor dan mencapai kesepatan tentang kesimpulan sertifikasi. Pertemuan internal tim dilakukan selama proses penilaian. Satu langkah penting selama analisis tersebut adalah mengidentifikasi prakondisi, kondisi dan rekomendasi dengan menggunakan definisi berikut ini:

  • Prakondisi adalah perbaikan yang harus dilakukan oleh perusahaan sebelum sertifikat SmartWood diberikan;
  • Kondisi adalah perbaikan yang harus dilakukan oleh perusahaaan dalam kurun waktu tertentu selama period lima tahun sertifikasi, dan
  • Rekomendasi adalah perbaikan sukarela yang disarankan oleh tim penilai, tetapi tidak wajib dilakukan.

Berikut ini adalah sistem skoring yang digunakan penilaian sertifikasi SmartWood. Untuk setiap kriteria SmartWood, penilai harus memberi nilai yang wajar dengan menggunakan tabel berikut ini sebagai petunjuk dan berdasar informasi yang diperoleh selama observasi lapangan, dokumen dan wawancara. Dalam memberikan nilai, penilai SmartWood menggunakan pertimbangan norma-norma dan peraturan nasional, skala dan konteks perusahaan dan standar atau pedoman lokal yang mungkin telah dikembangkan oleh POKJA FSC.

Skor

KINERJA

Gambaran Umum

KETAATAN

Prakondisi, Kondisi dan Rekomendasi

N/A

Kriteria tidak dapat diterapkan Tidak diterapkan, oleh karenanya tidak ada prakondisi, kondisi dan rekomendasi. Kriteria tidak digunakan untuk membuat rata rata skor

1

Kinerja sangat lemah, kurang data. Harus ada prakondisi

2

Kinerja lemah, perbaikan signifikan masihdiperlukan. Prakondisi bersifat opsional, harus ada kondisi
3 Kinerja memuaskan Kondisi bersifat opsional

4

Kinerja baik Rekomendasi, tidak ada kondisi yang diperlukan

5

Kinerja sangat baik Rekomendasi dimungkinkan tetapi tidak perlu secara khusus

Jika ada prakondisi, maka prakondisi ini harus dipenuhi sebelum sertifikasi SmartWood diberikan.

Penulisan Laporan

Laporan penilaian sertifikasi mengikuti struktur Prinsip dan Kriteria FSC, dengan pembahasan mengikuti setiap kriteria dan menganalisis kinerja yang berhubungan dengan indikator untuk kriteria tersebut. Analisis itu memberikan prakondisi, kondisi atau rekomendasi yang mungkin dan skor untuk setiap kriteria.

Review Laporan Penilaian oleh Perusahaan, Peer Reviewer independed dan kantor pusat SmartWood.

Setiap laporan penilaian sertifikasi direview oleh perusahaan, peer reviewer independen (paling tidak dua orang), dan staff pada kantor pusat SmartWood. Kantor Pusat SmartWood memberikan persetujuan untuk semua sertifikasi SmartWood.

Keputusan Sertifikasi

Begitu tahap di atas selesai, kantor pusat SmartWood akan mengkoordinasikan proses keputusan sertifikasi, dengan input dari perwakilan regional SmartWood. Jika keputusan sertifikasi positif, kontrak sertifikasi selama lima tahun akan dilaksanakan yang meliputi audit tahunan, sebagaimana yang diwajibkan. Jika tidak disetujui, keputusan sertifikasi akan memberikan penjelasan tentang apa yang harus dilakukan agar perusahaan memperoleh status sertifikasi di masa depan, misalnya melalui prakondisi untuk sertifikasi.

Untuk informasi yang lebih detil tentang prosedur sertifikasi, silakan kontak kantor pusat atau kantor wilayah SmartWood

Sumber : Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia,
SW Indonesia Interim Standards April 2003 (IND).doc

Januari 28, 2008 Posted by | Sertifikasi | , , | 8 Komentar

SmartWood

Smartwood adalah lembaga independen yang telah diakreditasi oleh Forest Stewardship Council (FSC), bertujuan untuk mengakui pengelola hutan yang baik melalui verifikasi independen yang kredibel terhadap praktek-praktek kehutanan.

Alamat kantor pusat :

SmartWood Program of the Rainforest Alliance
65 Millet St, Suite #201
Richmond , VT 05477 USA
Tel: 001-802-434-8705 Fax: 001-802-434-3116

http://www.smartwood.org/

Alamat kantor wilayah Asia Pasifik :

Rainforest Alliance SmartWood Program
Asia Pacific Regional Office
Jl. Ciung Wanara No.1x
Lingkungan Kerta Sari, Kelurahan Panjer,
Denpasar Selatan 80225
Bali, Indonesia
Tel: +62 361 224 356
Fax: +62 361 235 875

Sekilas…

  • 1991, Program SmartWood menerbitkan rancangan “Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan Alam” sebagai sekumpulan kriteria penilaian yang luas (berlaku di seluruh dunia) yang dapat diterapkan pada level lapangan atau operasional. Pada saat yang sama, SmartWood mengembangkan dan membagikan pedoman yang khas wilayah untuk pengeloaan hutan alam di Indonesia.
  • 1993, SmartWood mendistribusikan rancangan “Pedoman Umum untuk Penilaian Hutan Tanaman” dan merevisi pedoman untuk pengelolaan hutan alam.
  • 1998, setelah tujuh tahun penerapannya dan melakukan proses “learning by doing” melalui berbagai kegiatan penilaian dan audit hutan, SmartWood memberikan sekumpulan kriteria baru hasil revisi untuk penilaian pengelolaan hutan, baik itu hutan alam atau hutan tanaman. “Pedoman Umum” ini kemudian direview dan disetujui oleh Forest Stewardship Council (FSC), sebuah lembaga internasional yang telah mengakreditasi (menyetujui) SmartWood sebagai penilai pengelolaan hutan (forest management) dan lacak balak (chain of custody).
  • 1999, SmartWood memberikan kriteria yang telah direvisi yang mengikuti struktur Prinsip dan Kriteria FSC.

Filosofi Pedoman SmartWood

SmartWood telah mengembangkan kriteria di bawah ini sebagai ukuran minimum yang dapat diterima untuk menilai keberlanjutan dari praktek pengelolaan hutan dan dampak kegiatan kehutanan yang ingin disertifikasi oleh SmartWood.

Sertifikasi merupakan suatu alat untuk menunjukkan kepada publik dan industri kehutanan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan bisa dicapai dan bermanfaat. Kriteria yang ringkas, yang didasarkan pada ilmu dan pengalaman yang baik,merupakan cara terbaik untuk mengkomunikasikan pengelolaan hutan berkelanjutan (SFM) pada tingkat lapangan.

Perusahaan yang disertifikasi, secara ilmiah atau definitif mungkin tidak “lestari” dalam semua aspek, namun mereka harus menunjukkan komitmen yang jelas dalam kebijakan dan praktek pelaksanaan SFM, dan khususnya tiga konsep penting yang dianggap sangat mendasar oleh SmartWood dalam SFM:

  1. Perusahaan hutan harus menjaga fungsi lingkungan hidup yang meliputi stabilitas daerah aliran sungai, konservasi sumberdaya biologi dan perlindungan habitat hidupan liar;
  2. Perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan harus memasukkan konsep kelestarian hasil untuk semua produk hutan yang dipanen atau dimanfaatkan, berdasar pemahaman tentang, dan dokumentasi terkait dengan ekologi hutan lokal, dan
  3. Kegiatan harus mempunyai dampak positif pada kesejahteraan sosial dan ekonomi jangka panjang untuk masyarakat lokal.

Dalam prakteknya, staff SmartWood sering menjumpai bahwa pengelola hutan yang disertifikasi secara konsisten menunjukkan komitmen nyata dan terukur terhadap konsep “continuous improvement” (perbaikan terus menerus). Konsep ini telah menjadi prinsip tidak saja untuk perusahaan yang disertifikasi oleh SmartWood tetapi juga untuk SmartWood sebagai program sertifikasi.

Jenis-Jenis Sertifikasi

Perusahaan pengelola hutan yang mengikuti kriteria yang diberikan dalam dokumen ini dinilai sebagai “well managed” oleh SmartWood. Perusahaan tersebut dapat menggunakan label SmartWood dan FSC untuk tujuan pemasaran dan iklan.

Saat ini SmartWood menawarkan tiga jenis sertifikasi yang telah disetujui oleh FSC:

  1. Sertifikasi pengelolaan hutan untuk perusahaan yang mengelola hutan alam atau hutan tanaman;
  2. Sertifikasi pengelola sumberdaya untuk konsultan kehutanan dan pengelola lahan yang mengelola lahan orang lain hingga mencapai standar yang dapat disertifikasi (lihat dokumen terpisah tentang kebijakan SmartWood untuk sertifikasi pengelola sumberdaya), dan
  3. Sertifikasi lacak balak untuk perusahaan yang mengolah, membeli, menjual atau mendistribusikan produk hutan bersertifikat.

Sumber : Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia
SW Indonesia Interim Standards April 2003 (IND).doc

Januari 28, 2008 Posted by | Sertifikasi | , | Tinggalkan komentar

Forest Stewardship Council (FSC)

FSC adalah lembaga independen, non profit, didirikan pada tahun 1993 terletak di kota Bonn, Jerman. FSC memiliki standard dan pelayanan akreditasi bagi perusahaan atau organisasi yang berminat terhadap pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.

FSC memiliki misi mempromosikan pengelolaan hutan lestari di seluruh penjuru dunia, dengan memperhatikan keseimbangan aspek ekologi, sosial dan ekonomi.

Para pendiri lembaga ini terdiri dari perwakilan yang berasal dari beragam kelompok, seperti lembaga lingkungan, perdagangan kayu, profesional kehutanan, organisasi masyarakat lokal, asosiasi kehutanan dan lembaga sertifikasi dari 25 negara.

Lembaga ini mulai merancang kriteria dan indikator pengelolaan hutan lestari sejak 1991. Pada 1996, FSC mengakreditasi The SmartWood Program (SW) dari Rainforest Alliance sebagai salah satu lembaga sertifikasi (certification body).

FSC merupakan organisasi internasional yang membawa masyarakat bersama-sama menemukan solusi untuk mempromosikan penghargaan (stewardship) bagi pengelolaan hutan yang bertanggung jawab di seluruh dunia

  • FSC merupakan suatu sistem yang dimiliki oleh stakeholder mempromosikan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab di seluruh dunia
  • melalui proses konsultatif, FSC menyusun standard internasional bagi pengelolaan hutan yang bertanggung jawab
  • FSC mengakreditasi lembaga independen yang mampu mensertifikasi pengelola hutan dan produsen hasil hutan berdasarkan standard FSC
  • Trademark FSC merupakan suatu pengakuan internasional bahwa perusahaan/organisasi telah mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab
  • Label FSC pada produk kehutanan dapat dikenali oleh konsumen bahwa produk tersebut telah mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab
  • FSC melakukan pemasaran dan pelayanan informasi bagi promosi kehutanan yang bertanggung jawab di seluruh dunia
  • Lebih dari 13 tahun, 90 juta hektar berasal dari lebih dari 70 negara telah bersertifikat FSC dimana jutaan produk dihasilkan dari kayu bersertifikat FSC dan membawa FSC trademark. FSC bekerjasama dengan National Initiative di 45 negara

Alasan Memilih Standard FSC

  1. Standard FSC independen
  2. Standard FSC kredibel
  3. Standard FSC berskope internasional
  4. Standard FSC diakui pasar internasional
  5. Standard FSC meningkatkan image perusahaan

Contact details in Bonn

FSC International Center
Charles-de-Gaulle 5
53113 Bonn
Germany

Phone: ++ 49 228 367 66 0
Fax: ++ 49 228 367 66 30

E-mail: fsc@fsc.org

http://www.fsc.org/en/

Januari 28, 2008 Posted by | Sertifikasi | , , , | 4 Komentar

10 PRINSIP DAN KRITERIA FSC

Sobat, tentu sekali kita sangat berharap hutan yang tersebar di nusantara ini bisa dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Hal ini demi kepentingan anak cucu di masa yang akan datang.

Kita telah menyaksikan berbagai masalah lingkungan dialami oleh saudara-saudara kita di berbagai tempat. Banjir tahunan melanda kota Jakarta, longsor di pati, luapan banjir sungai bengawan solo……gempa.

Apakah kita sudah terlambat menanganinya? Tidak ada kata terlambat! Mari bersikap lebih ramah kepada lingkungan dimulai dari kebiasaan hidup kita masing-masing bahkan dari yang paling sederhana, seperti perilaku membuang sampah.

XIP bersama pihak yang berkaitan berkomitmen dengan sungguh-sungguh bagaimana mengelola sumberdayanya sehingga bermanfaat bagi kepentingan ekologi, sosial dan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang.

Pengembangan dan penerapan prosedur kerja setiap unti manajemen sangatlah penting untuk memastikan apakah proses kerja sudah sesuai dengan prinsip kerja atau belum.

Untuk tujuan tersebut, XIP senatiasa menerapkan dan mensosialisasikan prinsip yang paling mendasar berkaitan dengan pengelolaan hutan lestari, yang dikenal dengan 10 Prinsip dan Kriteria FSC.

  1. Taat pada Hukum Perundangan dan Prinsip-Prinsip FSC
    • (6 kriteria)
  2. Hak dan Tanggung Jawab Penggunaan Lahan serta Kepastian Kawasan
    • (3 kriteria)
  3. Hak-Hak Masyarakat Asli
    • (4 kriteria)
  4. Hubungan dengan Masyarakat Sekitar dan Hak- Hak Pekerja
    • (5 kriteria)
  5. Keuntungan dari Hutan
    • (6 kriteria)
  6. Dampak Lingkungan
    • (10 kriteria)
  7. Rencana Pengelolaan
    • (4 kriteria)
  8. Monitoring dan Evaluasi
    • (5 kriteria)
  9. Pemeliharaan Hutan yang Memiliki Nilai Konservasi Tinggi
    • (4 kriteria)
  10. Hutan Tanaman
    • (9 kriteria)

Detail 10 Prinsip dan kriteria FSC dijelaskan di dalam dokumen Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia, silahkan Anda download disini

Standard dan Prinsip COC
Sistem Kontrol yang terdokumentasikan :
Perusahaan harus memiliki sistem kontrol tertulis yang menjelaskan:
• Prosedur mengenai pelacakan dan penanganan produk bersertifikat mulai dari permintaan hingga penjualan dan pengriman produk akhir
• Tanggung jawab karyawan terhadap sistem kontrol
• Catatan pada form/tally sheet atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk melacakan dan penanganan produk bersertifikat
• Prosedur pelabelan dan penggunaan logo
• Penyimpanan seluruh catatan yang berkaitan dengan sertifikasi

Penjualan dan Pengangkutan Produk Bersertifikat:
Perusahaan harus:
• Menempatkan produk bersertifikat secara terpisah dan aman
• Menggunakan tanda/logo dan atau nomor sertifikat FSC pada paket produk bersertifikat dengan jelas
• Memiliki sistem pencatatan mengenai jumlah penjualan produk bersertifikat
• Mengikutsertakan keterangan berikut ini pada invoice:
o Deskripsi produk bersertifikat
o Persentage-based claim, apabila memungkinkan
o Kuantitas/volume setiap item
o nomor sertifikat FSC
• Mengikutsertakan keterangan sertifikasi pada dokumen pengangkutan dengan jelas

Pelatihan
Perusahaan harus:
• Memberikan pelatihan/orientasi dalam penanganan dan penjelasan mengenai produk bersertifikat
• Memberikan sistem kontrol tertulis mengenai prosedur COC dan peraturan lainnya berkaitan dengan produk bersertifikat
Pencatatan produk bersertifikat
Perusahaan harus:
• Menyediakan informasi audit tahunan termasuk ringkasan mengenai pencatatan jumlah penerimaan/pembelian produk bersertifikat, faktor konversi, jumlah penjualan/pengiriman produk bersertifikat
• Menyimpan seluruh catatan/dokumen, pembelian, pengolahan dan penjualan produk bersertifikat, termasuk pemasaran, iklan/promosi (advertising), dan informasi publik lainnya menyangkut sertifikasi minimal selama 5 tahun

Maksud dari StandarD dan Prinsip COC ini hendaknya perusahaan memiliki sumber bahan baku kayu yang diketahui asal-usulnya melalui catatan data administrasi, contohnya: pemberian tulisan pada tunggul dan kayu yang ditebang berupa nama petani, kode wilayah dan nomor urut batang serta sesuai dengan tally sheet yang ada pada lampiran surat jalan. Dengan demikian semua catatan dapat dijadikan sistem control.
Dalam hal penjualan dan pengangkutan produk bersertifikat harus dilengkapi dokumen pengiriman yang menerakan, nomor sertifikat FSC, kuantitas/volume setiap item, dan keterangan produk sertifikat.
Guna menunjang berjalannya standard dan Prinsip COC perusahaan wajib memberikan pelatihan mengenai penanganan produk bersertifikat dan sistem kontrol COC dan peraturan lainnya.

Hal ini ditujukan agar pengertian dan pemahaman akan pentingnya Standard dan Prinsip COC dapat dimiliki setiap individu dalam menunjang jalannya perusahaan.

Semua hal ini harus didukung oleh penyimpanan seluruh catatan/dokumen mulai dari pembelian, pengolahan dan penjualan produk bersertifikat sehingga tersedia saat audit tahunan.

Dengan berjalannya semua sistem ini kita akan merasakan suatu sistem yang teratur dan lestari yang dapat menunjang kemajuan perusahaan. Tentunya rekan-rekan mengharapkan hal tersebut dapat terwujud pada perusahaan kita ini……………………

Rencana buletin Edisi II………
@ Kita akan mengenalkan ruang lingkup Xylo Indah Pratama (XIP) dari sumber bahan baku nya, ketenaga kerjaan sampai program sosilisasi yang ada di XIP.
@ Ulasan mengenai sertifikasi, apa itu Smartwood dan FSC

Kami tim penulis mengharapkan masukan dari rekan-rekan melalui SMS ataupun email……………
Download artikel ini dalam format .doc Buletin OS I Jan2008

Januari 23, 2008 Posted by | Sertifikasi | , , | Tinggalkan komentar