Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

KADIR: AKTIVIS KOMPOS SEJATI

Mudah2n, cerita di bawah ini meningkatkan semangat kami dan seluruh anggota kelompok tani untuk senantiasa berkarya.

——————————————

Published Date: October 29th, 2007
Sumber: http://www.esp.or.id/2007/10/29/kadir-aktivis-kompos-sejati/

Petani kadir Tak peduli dengan ejekan orang yang memanggilnya pemulung, Kadir terus bergerak menghijaukan lingkungan Desa Pandanrejo dengan kompos dan manajemen sampah

Aktivis sejati. Tanpa buang waktu, Kadir mulai membuat kompos atas inisiatifnya sendiri. Sejak ikut serta dalam program Sekolah Lapangan ESP di Desa Pandanrejo, Batu, Jawa Timur, pada bulan Februari 2006, Kadir, 36 tahun, telah menjadi aktivis sampah sejati. Informasi tentang dampak negatif dari sanitasi dan pengelolaan sampah yang buruk terhadap kesehatan dan lingkungan hidup membuatnya sadar bahaya akibat praktik buang sampah sembarangan ke sungai yang dilakukan warga desanya.
Kadir pun tak peduli dengan keluhan dan ketidakpedulian warga, dan memutuskan memisahkan sendiri sampah-sampah tetangganya. Sejumlah hotel di dekat desanya disambangi Kadir untuk dipilah-pilah sampahnya.

Dia menggunakan komposter Takakura yang disimpannya di kamar tidur, untuk membuktikan kepada para tetangga bahwa keranjang itu bebas bau. Belakangan ini, Kadir sedang asyik membuat kompos dengan komposter aerobik (keranjang dengan lubang-lubang udara untuk mempercepat proses pembuatan kompos) yang memiliki kapasitas lebih besar dan sibuk bereksperimen untuk membuat keranjang komposnya sendiri.

“Saya tak mau desa saya menderita karena banjir dan tak punya tempat untuk membuang sampah lagi. Mumpung masalah-masalah itu belum jadi kenyataan, saya melakukan sesuatu untuk mencegahnya,” kata Kadir.

ESP telah menyumbang 60 keranjang kompos Takakura dan 2 keranjang aerobik sebagai model. Atas usaha mereka sendiri, Kadir dan teman-temannya sudah punya enam keranjang aerobik. Kerja keras Kadir dan warga lain membuat pemerintah setempat menyumbang enam keranjang kompos aerobik. Saat ini, lebih dari 100 kepala keluarga di Pandanrejo aktif membuat kompos dari sampah yang mereka hasilkan di rumah.
Ristina Aprillia, ESP Jawa Timur

Artikel CARA MEMBUAT KOMPOS bisa diambil pada halaman DOWNLOAD

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Februari 28, 2008 Posted by | Umum | , , , , | 2 Komentar

KONSULTASI PUBLIK

Berkaitan dengan program pemenuhan persyaratan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council, PT.XIP mengadakan konsultasi publik, yaitu memohon SARAN dan KRITIK menyangkut pengelolaan hutan/kebun secara lestari (Sustainable Forest Management).

Konsultasi publik merupakan salah satu program yang harus dilaksanakan termasuk dalam hal merevisi Rencana Pengelolaan (Management Plan), dan direncanakan dilakukan setiap setahun sekali. Apabila di kemudian hari ditemukan perubahan-perubahan signifikan terhadap aspek lingkungan, sosial maupun ekonomi akibat aktivitas PT.XIP, konsultasi publik ini akan lebih ditingkatkan frekuensinya.

Selain itu, setiap saat PT.XIP senantiasa menerima saran dan kritik dari seluruh lapisan masyarakat melalui korespondensi maupun weblog. Begitu juga bagi masyarakat yang ingin mengetahui seluk beluk sertifikasi FSC Kami menyediakan dokumen yang berkaitan, atau bisa mengakses buletin online.

Tujuan konsultasi publik adalah untuk menampung aspirasi dari masyarakat (saran maupun kritik) dan akan ditindaklanjuti oleh PT. Xylo Indah Pratama guna memperbaiki kualitas pengelolaan itu sendiri dengan tetap menjaga keseimbangan manfaat ekologi (lingkungan), sosial dan ekonomi.

Saat ini konsultasi publik didistribusikan kepada Yth.:

1. Kepala Dinas Kehutanan Kab. Musi Rawas
2. Kepala Balai Taman Nasional TNKS Kab. Musi Rawas
3. Kepala Bagian Pengendalian Dampak Lingkungan Kab. Musi Rawas
4. Kepala Dinas Perkebunan Kab. Musi Rawas
5. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kab. Musi Rawas
6. Kepala Kecamatan Kab. Musi Rawas (21 kecamatan)
7. Kepala Desa Kab. Musi Rawas (10 desa)
8. Pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di lingkungan (10 lembaga)
9. Suplayer PT. Xylo Indah Pratama (10 orang)
10. Petani (30 orang)

Kepada Yth. seluruh jajaran Pimpinan Pemerintah Daerah berikut staff nya serta seluruh masyarakat yang telah memberikan saran dan kritik, kami sangat mengucapkan ribuan terima kasih. Mudah-mudahan upayakan kami dalam merealisasikan seluruh masukan, senantiasa membawa kebaikan kita bersama.

Khususnya kepada masyarakat yang belum memahami konsultasi publik ini, kami mohon maaf sebesar2nya. Insya Alloh konsultasi publik mendatang kami usahakan dibuat dengan bahasa yg lebih sederhana lagi agar bisa dipahami oleh seluruh kalangan masyarakat.

Berkaitan dengan masukan dari petani, sebagian besar mengusulkan agar dalam pemeliharaan tanaman PT.XIP bersedia memberikan pupuk dan racun tanaman (pestisida), agar tanaman bisa tumbuh subur.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman yang kami peroleh selama ini, pulai darat dan labu yang tumbuh di sela kebun karet maupun pekarangan tidak perlu dipupuk secara khusus. Tanaman jenis ini merupakan tanaman lokal yang memiliki sifat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Selain itu dengan pola penanaman tumpang sari (dicampur dengan tanaman pokok karet), pulai hitam dan labu lebih tahan terhadap serangan penyakit. Berbeda halnya dengan pola penanaman satu jenis tanaman (monokultur), dalam satu hamparan ditanami pulai hitam atau labu semua. Tanaman akan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga memerlukan pestisida lebih banyak lagi.

Sampai saat ini PT.XIP menerapkan program sertifikasi FSC dimana setiap setahun sekali diperiksa oleh lembaga sertifikasi SmartWood.

FSC mewajibkan kepada PT.XIP agar setiap tahunnya mengurangi pemakaian pestisida, dan melarang PT.XIP menggunakan pestisida yang tergolong berbahaya. Untuk itulah PT.XIP berupaya menciptakan sistem kerja yang bisa menekan penggunaan pestisida. Karena memang pada kenyataannya, banyak jenis pestisida sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan, tetapi masyarakat belum menyadari hal ini.

Pada dasarnya pembentukan kelompok tani bersifat partisipatif dan sukarela. Untuk menjawab kebutuhan petani terhadap pupuk dan pestisida, tahun ini kami mencanangkan program pembuatan pupuk kompos dan pestisida organik bagi petani, khususnya bagi anggota kelompok tani pulai kebun karet binaan PT.XIP. (Berkat upaya konsultasi publik sederhana seperti ini, kami terdorong menemukan ide bagus. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih sedalam2nya kepada masyarakat banyak. Kami percaya, dengan meningkatkan kualitas konsultasi publik, kita akan mjd lebih terbuka dan inovatif lagi untuk memperbaiki diri dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat).

Pertimbangan kami tentang pembuatan pupuk kompos ini tidak lain adalah untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada dengan cara memanfaatkan limbah rumah tangga. Selain lebih mendidik (edukatif), masyarakat terbiasa mandiri dan berpeluang mengembangkan jiwa kewirausahaan.

Bagi yang ingin segera memperoleh buku panduan tentang cara pembuatan kompos, Anda bisa menghubungi Koordinator Kelompok Tani Pulai Kebun Karet PT.XIP, Sdr. Hendri Akbar, S.E. Tanpa dipungut biaya alias GRATIS.

SUCCESS STORY

Artikel CARA MEMBUAT KOMPOS bisa diambil pada halaman DOWNLOAD

Februari 28, 2008 Posted by | XIP | , , , , | Tinggalkan komentar

KEADAAN UMUM KABUPATEN MUSI RAWAS

KEADAAN GEOGRAFIS KABUPATEN MUSIRAWAS

Letak Geografis

cool smiley Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan, letaknya disebelah barat di hulu Sungai Musi dan Sepanjang Sungai Rawas. Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jambi di bagian utara, di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Empat Lawang, di bagian Barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyu Asin dan Kabupaten Muara Enim.
Kabupaten Musi Rawas beribukota di Kota Lubuklinggau dengan ketinggian 129 meter dari permukaan laut dan terletak pada 20,00 LS-30,40 LS dan 102,0,00 BT-1030,45 BT.

Keadaan Alam

Kabupaten Musi Rawas mempunyai iklim tropis dan basah dengan curah hujan yang bervariasi, dimana setiap tahun jarang sekali ditemukan bulan kering. Luas Kabupaten Musi Rawas seluruhnya adalah 1.236.582,66 Ha terdiri dari 66,5 derajat dataran rendah yang subur dengan struktur 62,75 derajat tanah liat dan keadaan alamnya terbagi dari hutan potensial, sawah, ladang, kebun karet cadas dan kebun lainnya. tidak terdapat gunung berapi di kabupaten ini, di sebelah barat terdapat dataran rendah yang sempit dan berbatasan dengan bukit barisan, dataran ini semakin ke timur semakin luas.

Kawasan Hutan

Total luas kawasan hutan di kabupaten Musi Rawas adalah 631.104 ha dimana Taman Nasional Kerinci Seblat menjadi kawasan hutan yang terluas, yaitu 251.252 ha, terletak di bagian barat kabupaten berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu.

Luas Kawasan Hutan dalam Wilayah Kabupaten Musi Rawas

Tahun 2006

NO

Kelompok Hutan

Fungsi Hutan

Luas

Kecamatan

(Ha)

1

HP Meranti Mura

HPT

34.470

Nibung

2

TNKS

HAS

251.252

BKL Ulu, Karang Jaya, Ulu Rawas, Selangit

3

HPT Rawas Lakitan

HPt

20.991

Karang Jaya

4

HP Rawas Lakitan

HPT

44.121

Karang Jaya

5

HP Rawas Utara I

HPT

3.980

Rawas Ulu

6

HP Rawas Utara II

HPT

11.160

Ulu Rawas

7

HP Lakitan Utara I

HPT

31.795

Megang Sakti, Karang Dapo

8

HP Lakitan Utara II

HPT

3.890

Megang Sakti, Karang Dapo

9

HP Lakitan Selatan

HPT

22.292

Megang Sakti, Karang Dapo

10

HL Bukit Cermin

HPt

1192

STL Ulu

11

HL Bukit Cogong I

HL

567

STL Ulu

12

HL Bukit Cogong II

HL

1.222

STL Ulu

13

HL Bukit Botak

HL

53

STL Ulu

14

HPT Terawas

HPt

5.370

STL Ulu

15

HP Benakat Semangus

HPT

143.350

BTS Ulu

(HP Kelompok HTI)

16

HP Kungku (register)

HPT

6.400

Jayaloka

17

Kelompok HP

HPK

50.072

Ma. Kelingi, Karang Jaya

Jumlah

631.104

Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas

Keterangan:

HL

: Hutan Lindung

HP

: Hutan Produksi

HPT

: Hutan Produksi Tetap

HPt

: Hutan Produksi Terbatas

HPK

: Hutan Produksi Konversi

TNKS

: Taman Nasional Kerinci Seblat

Keadaan Tanah di Kabupaten Musi Rawas terdiri dari :
Aluvial, dengan ciri warna coklat kekuning-kuningan terbentuk oleh endapan liat dan pasir dijumpai di Kecamatan Tugu Mulyo dan Muara Kelingi. Tanah jenis ini 8,05% dari Luas Kabupaten dan cocok untuk tanaman padi dan palawija.
Litosol, 7,17% dari luas kabupaten digunakan untuk tanaman keras, rumput-rumputan dan usaha ternak.
Assosiasi Latisol, tidak luas hanya 0,77 % dari luas kabupaten, 55,89 % di Kecamatan STL. Ulu dan Rupit.
Regosol, luasnya sama seperti Assosiasi Latisol, 55,89 % di Kecamatan Muara Beliti dan 13,34 % di Kecamatan Rawas Ulu, cocok untuk padi sawah, palawija dan tanaman keras lainnya.
Podsolik, 37,72 % dari luas kabupaten, merupakan jenis tanah terluas di Kabupaten Musi Rawas, sebagian besar di Kecamatan Rupit, Rawas Ulu, Muara Lakitan dan Jayaloka, baik untuk padi sawah, padi ladang dan tanaman karet.
Assosiasi Podsolik, hanya terdapat di Kecamatan Muara Lakitan dan Rawas Ilir, luasnya 29,59 dari luas kabupaten.
Komplek Podsolik, hanya terdapat di Kecamatan Rawas Ulu.

Keadaan Hidrologi

Kabupaten Musi Rawas banyak mempunyai sungai-sungai besar yang dapat dilayari, kebanyakan sungai-sungai itu bermata air dari bukit barisan adapun sungai-sungai yang terdapat di Kabupaten Musi Rawas adalah Sungai Rawas, Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Rupit dan Sungai Musi.

NAMA SUNGAI DAN ANAK SUNGAI PADA DAS DI KABUPATEN MUSI RAWAS

No

Sungai Utama

Panjang

Debit Rerata

Anak Sungai

(Km)

(m3/dt)

1

Musi

51,71

279

Keruh, Lintang, Kungku

2

Rawas

67,23

123,87

Rupit, Liam, Klumpang, Kemang, Kulus, Kutu

3

Lakitan

70,08

10,92

Hitam, Megang, Malus, Pelikai, Sumuk, Makai

4

Kelingi

49,53

22,29

Pring, Beliti, Noman, Kati

5

Semangus

60,12

89,73

Kerus, Teras, Sialang, Temuan, Sembuta

Sumber: Data Dasar DAS Musi Rawas Tahun 2000

Flora dan Fauna

Daerah hutan yang luas di Kabupaten Musi Rawas maka banyak dijumpai bermacam-macam jenis kayu antara lain: Merawan, Sungkai, Merbau, Kolim, Rotan dan lain-lain. Hutan dalam Kabupaten Musi Rawas banyak dihuni satwa-satwa seperti Harimau, Gajah, Monyet, Rusa, Kijang, Ayam Hutan dan Lain-lain.

sumber: MUSI RAWAS DALAM ANGKA 2007

PETA KAWASAN KONSERVASI MUSI RAWAS disa didonlot pada halaman…DOWNLOAD

Februari 23, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , , , , | 15 Komentar

KODE TEBANGAN

Baru liat buletin kaya gitu, Baru liat juga kan… buletin kaya gini…???

Penomoran COC dari tunggak ke pabrikTampilan buletin kali ini berubah, dulunya dengan format mendatar (landscape) sekarang jadi Tegak (Portrait). Ada masukan dari kawan-kawan format lama dirasa kurang enak dipegang, dipandang dan dibaca, Tim Redaksi pun merasakan hal yang sama. Oleh karena itu format buletin sekarang direvisi menggunakan format tegak (Portrait). Setuju kan ?

COC DARI KEBUN HINGGA PABRIK
Melalui edisi V, sengaja Kami ketengahkan kembali kegiatan lacak balak (COC) kayu dari kebun hingga pabrik. Ada perubahan mendasar dalam hal penomoran setiap tunggak (tunggul) dan potongan kayu.

Mengingat PT.XIP menerapkan standard internasional, COC merupakan kegiatan yang sangat penting dan wajib dilaksanakan. Untuk itu seluruh pihak terkait (suplayer,regu tebang, petani dan karyawan) agar bisa memahami dan melaksanakannya dengan baik.

Kode Tebangan Lama
Sebelumnya, PT.XIP menerapkan penomoran dengan Kode Tebangan: Nama Petani/Kode Wilayah/Nomor Pohon. Berdasarkan pengalaman di lapangan, suplayer menemukan kesulitan untuk menuliskan Kode Tebangan yang dinilai terlalu panjang pada potongan kayu yang berdiameter kecil (di bawah 20 cm). Untuk mempermudah pelaksanaan penomoran tersebut, Kode Tebangan diganti dengan yang baru.

Kode Tebangan Baru
Dengan maksud mengefektifkan pelaksanaan penomoran pada tunggak dan potongan kayu, Kode Tebangan disederhanakan menjadi:

NOMOR URUT PETANI/NOMOR POHON

Nomor Urut Petani diberikan oleh Administratur, saat suplayer mengambil Surat Jalan (Faktur Angkutan) Kayu Rakyat di kantor Divisi Sertifikasi, sebelum kayu ditebang.

Dengan metode ini tidak ada alasan lagi bagi suplayer bahwa mereka belum tahu tata cara penomoran yang baru.

Beberapa suplayer, regu penebang dan petani menanyakan untuk apa tunggak dan potongan kayu harus dinomori? Toh di dalam Log List (Data Tegakan) sudah diketahui dan ditandatangani oleh Kepala Desa setempat?

Benar kayu tersebut memang berasal dari kebun karet rakyat. Tetapi hal ini masih belum cukup. Potongan kayu yang berada dalam mobil truck tidak ada tanda/nomor khusus, tidak bisa dilacak hingga ke tunggak. Bisa saja satu atau beberapa potong kayu tersebut berasal dari hutan lindung atau bahkan berasal dari pencurian kayu (ILLEGAL LOGGING). Benar kan?

Berbeda halnya dengan seluruh potongan kayu tersebut telah dinomori. Setiap potongan kayu bisa dilacak/dicocokkan dengan nomor yang sama yang tertera pada tunggak kayu. Siapa pun yang ingin membuktikan asal usul potongan kayu tersebut berasal dari kebun dan tunggak kayu yang mana, suplayer dan regu tebang bisa menunjukkan dengan tepat.

Demi mencapai keberhasilan pelaksanaan COC, khususnya dalam hal penomoran kayu, Kepala Divisi Sertifikasi mengeluarkan surat tertanggal 14 Februari 2008, nomor: 07/XIP-STFK/II/2008 tentang penomoran kayu dimana dijelaskan bahwa perusahaan wajib menjalankan SISTEM COC guna membuktikan asal usul kayu yang diterima.

Surat ini kemudian ditindaklanjuti oleh Kepala Divisi Wood Supply tertanggal 14 Februari 2008, Nomor: 01/XIP-WS/II/2008 mengenai Instruksi kepada Regu Bongkar dan team Grader untuk tidak menerima kayu pulai dan labu baik yang berasal dari kebun karet rakyat maupun dari kebun pulai budidaya (P2HTR) yang tidak dilengkapi dengan penomoran pada setiap tunggak dan potongan/sortimen kayu dan tidak tertib administrasinya (Surat Jalan, Log List dan Surat Perjanjian Petani)

PERATURAN PENGGUNAAN FAKTUR ANGKUTAN KAYU dan SOP PENOMORAN TUNGGAK DAN BATANG bisa Anda ambil di halaman DOWNLOAD

Februari 21, 2008 Posted by | XIP | , , , , , , | Tinggalkan komentar

NGELONG DAY !!

…….adalah bahasa daerah warga Linggau/MURA, kurang lebih artinya “Jalan dulu”. Kata ini sering diucapkan saat seseorang menanyakan kemana tujuan kita pergi.

  • Mane Nga !!
  • Ngelong day..!!

Anda berminat menikmati keindahan alam MUSI RAWAS ? Berikut informasi potensi objek wisata alam yang berada di wilayah Kabupaten Musi Rawas, dikutip dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kab. Musi Rawas 2005 (Renstra SKPD) 2005-2010

OBJEK WISATA Lokasi

Kec. Ulu Rawas
1 Goa Napalicin di Desa Napalicin
2 Kajatan Bujang Kurap di Desa Muara Kulam
3 Hutan Wisata TNKS

Kec. Rawas Ulu
4 Arung Jeram
5 Cottage Sukomoro

Kec. Muara Rupit
6 Danau Raya di Desa Sungai Jernih
7 Suku Anak Dalam di Desa Sungai Jernih

Kec. BKL Ulu Terawas
8 Air Terjun Rehun Tinggi di Desa Suka Raya
9 Air Terjun Rimba di Desa Suka Raya
10 Air Terjun Tiga Beradik di Desa Suka Raya
11 Air Terjun Sri Pengantin di Desa Suka Raya
12 Keramat Napahbo di Desa Suka Raya
13 Keramat Batu Ampar di Desa Suka Raya
14 Nukit Kurungan/Botak di Desa Suka Raya
15 Danau Sukahati di Desa Sumber Harta

Kec. Selangit
16 Air Terjun Bunyi di Desa Taba Gindo
17 Bukit Batu Putih di Desa Taba Gindo

Kec. Purwodadi
18 Danau Tingkip di Desa Purwakarya
19 Bendung Tingkip di Desa Purwakarya

Kec. Tugumulyo
20 Bendung Bharata di Desa E Wonokerto
21 Kolam Pemancingan di Desa B Srikaton

Kec. Muara Beliti
22 Air Terjun Satan di Desa Muara Beliti Baru
23 Air Terjun Kou di Desa Durian Remuk
24 Air Terjun Menai di Desa Durian Remuk
25 Air Terjun Panjang di Desa Durian Remuk
26 Danau Satan di Desa Air Satan

Kec. Muara Kelingi
27 Pancuran Air Panas di Desa Karya Sakti
28 Hutan Berhan di Desa Karya Sakti

Kec. Jayaloka
29 Danau Gegas di Desa Sugih Waras
Undergoing MyBlogLog Verification

LINDUNGI DAN LESTARIKAN ALAM KITA

Februari 15, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , , , , | 2 Komentar

ASAL USUL SILAMPARI

Kabupaten Musi Rawas dan kota Lubuklinggau dikenal juga sebagai kota SILAMPARI dimana berasal dari kata

  • Silam = hilang/sirna
  • Pari = Peri/putri


Ada dua versi cerita yang menjelaskan asal mula kata Silampari :

Cerita 1.
Pada zaman dahulu kala ada 7 bidadari yang sedang turun dari kayangan (kerajaan di langit) untuk mandi di sebuah telaga, dimana pada saat itu hanya terdapat sebuah telaga yang masih terdapat airnya, dikarenakan adanya musim kemarau yang panjang.

Tapi naas bagi bidadari bungsu karena selendang yang dimilikinya hilang diambil oleh seorang pemburu sehingga ia tak dapat pulang lagi kelangit.

Pemuda tersebut bernama Bujang Penulup yang artinya adalah seorang pemburu binatang yang menggunakan alat buru berupa tulup atau sumpit. Sedangkan putri bungsu tersebut bernama Sringga Pisat.

Suatu saat bidadari tersebut menemukan pakaian yang disembuyikan oleh Bujang Penulup, kemudian bidadari tersebut dapat pulang kelangit, namun bujang penulup melihatnya, maka dia berkata “SILAMPARI” (Putri hilang). Karena putri yang ingin kembali berangsur-angsur menghilang.

Cerita 2.
Dahulu kala ada seorang raja bernama Raja Biku 8 dewa dan permaisurinya bernama Putri Ayu Selendang Kuning, Raja ini terkenal dengan kesaktiannya yang tiada tanding karena kepandaiannya terbang. Ilmu 8 dewa yang dia miliki diantaranya: Dewa api, dewa matahari, dewa udara, dewa angin, dewa air,………

Setelah 10 thn berkeluarga raja belum juga memiliki keturunan, akhirnya dia mengakui kelemahannya. Kemudian turun lah dewa mantra sakti tujuh dari langit yang turun dipuncak bukit Rimbo Tenang untuk menolong Raja Biku.

Sang Raja disuruh bertapa/semedi untuk mendapatkan kembang tanjung kelopak enam helai melalui sukma mantra (hanya sukma saja yang pergi). Bunga tanjung digunakan untuk mandi putri dengan ramuannya kembang tanjung kelopak enam, daun pandan, daun purut, dan akar wangi kesemua direndam jadi satu lalu dipakai mandi dan sisanya diminum.

Setelah putri tersebut meminumnya mulailah putri hamil dengan enam kehamilan yang normal sehingga putri mendapatkan enam anak yaitu 1 laki-laki dan 5 perempuan. Nama anak-anak raja tersebut adalah :

1. BUDUR,
2. DAYANG TARE
3. DAYANG DERUJA
4. DAYANG DERUJI
5. DAYANG AYU
6. DAYANG IRENG MANIS

Jumlah anak tersebut sesuai dengan jumlah kelopak kembang tanjung yang diberikan. Tetapi Raja Biku memiliki perjanjian yaitu semua akan kembali seperti semula (SILAM).

Saat itu pun tiba, mula-mula yang hilang adalah putri Dayang Tare karena dia yang pertama kali mengadu kepada dewa tentang deritanya di dunia, dia hilang di Rimbo Tenang.

Kemudian yang hilang selanjutnya, yaitu Dayang Deruja yang hilang di Rejang Rebo dan diberi tanda pohon ketapang kuning.

Kemudian Dayang Ayu, Dayang Ireng Manis Dayang Deruji beserta ibunya hilang di bukit ayu.

Raja Biku hilang di laut cina sedangkan Budur hilang di Ulak Lebar. Karena putra-putri hilang maka masyarakat berkata “SILAMPARI” (Putri yang hilang).

Nara Sumber : Drs H. Suwandi
Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Kab. Musi Rawas.

Februari 15, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , | 15 Komentar

KELOMPOK TANI PULAI KEBUN KARET PT.XIP

Seperti yang diulas beberapa waktu yang lalu salah satu sumber bahan baku PT.XIP di masa yang akan datang salah satunya pulai dan labu yang berasal dari Kelompok Tani bersertifikat FSC.
Kelompok Tani ini memiliki 2 pola pengembangan yaitu:

  1. Kelompok Tani yang terdiri dari anggota yang memiliki pohon pulai atau labu berdiameter 15 cm ke atas
  2. Kelompok Tani yang terdiri dari anggota yang telah menanam bibit pulai dan labu. Bibit ini dibagikan gratis oleh PT.XIP

Berkaitan dengan pola pengembangan ke-2, pada tahun 2008 PT.XIP menargetkan akan tertanam pulai dan labu sebanyak 120.000 batang, dengan komposisi 80 : 20 di 5 desa terpilih untuk Kecamatan Muara Beliti.

Selama 5 tahun bibit bakal tertanam sebanyak 600.000 batang. Dengan asumsi tingkat keberhasilan tumbuh bibit tersebut 80%, pada tahun 2013 nanti PT. XIP memiliki kelompok tani yang memelihara pulai dan labu sebanyak 480.000 batang.

Dalam kondisi normal dan tingkat pertumbuhan tanaman 5 cm/tahun, pada tahun ke-6 PT.XIP mampu memanen pulai tahun tanam ke-1 (tahun 2008) sebanyak 96.000 batang dimana masing-masing pohon rata-rata berdiameter 25 cm dengan ketinggian 5-6 meter dari lahan kebun karet rakyat dan pekarangan anggota kelompok tani.

Untuk keberhasilan tersebut PT.XIP sangat berharap dukungan dari seluruh komponen masyarakat.

Februari 15, 2008 Posted by | XIP | , , , , , | 5 Komentar

SRIWIJAYA FC, DOUBLE WINNER

Dramatis !!! Melalui pertandingan melelahkan, perpanjangan waktu 2 kali 15 menit, di Liga Djarum Indonesia 2007 Laskar Wong Kito berhasil menaklukkan kesebelasan PSMS Medan dengan skors telak 3 : 1 di Stadion Jalak Harupat Bandung (pertandingan tertutup). Gegap gempita masyarakat (di kampung….) menyambut kemenangan ini setelah Sriwijaya FC memenangkan Piala Copa Dji Sam Su. Pelatih Rahmat Darmawan akhirnya berhasil mengawinkan dua gelar, sejarah pertama kali di persepakbolaan Indonesia…..Luar Biasa.

Unggul 1 : 0 pada menit ke 20 babak pertama sempat mengejutkan PSMS Medan. Walau demikian PSMS Medan masih bisa menguasai jalannya pertandingan, meskipun wasit mengeluarkan kartu merah akibat akumulasi kartu kuning.

Bermodal tim yang solid malam ini PSMS Medan menunjukkan permainan yang sangat gigih dan konsisten, Laskar Wong kito pun tidak berhasil memanfaatkan kesempatan. Hingga PSMS Medan berhasil menyamakan kedudukan 1 : 1 dan memaksa laskar Wong Kito bermain di perpanjangan waktu.

Bermain di bawah tekanan Sriwijaya FC justru mampu mencetak gol melalui sundulan Gumb, 2 : 1. Hampir selang beberapa menit kedudukan pun imbang 2 : 2, sayangnya gol pemain PSMS Medan dianulir oleh wasit dikarenakan 2 orang pemain PSMS Medan terjebak posisi Off side.

Dengan maksud membantu kawan-kawan kiper PSMS Medan, Markus, tiba-tiba nyelonong meninggalkan gawang dan mendekati gawang lawan. Tidak sangka bola berlari cepat dikuasai pemain Sriwijaya FC, melalui jarak yang cukup jauh bola pun langsung diarahkan ke gawang PSMS Medan, terciptalah gol ketiga bagi Sriwijaya FC. Hingga perpanjangan waktu berakhir kedudukan tidak berubah 3 : 1 untuk Sriwijaya FC.

Markus, tampak tampil over confidence. Beberapa kali aksi cemerlang menyelamatkan gawang dari serangan Sriwijaya FC dicemari sikap agak mengecewakan.

  1. Tendangan pemain Sriwijaya FC yang jauh melambung di atas mistar gawang disambut dengan acungan 2 jempol.
  2. Bola yang tertangkap dibalas dengan menempelkan jari telunjuk ke jidat (pake otak, pen).
  3. Aksi meninggalkan gawang agar dirobek sang lawan.

Ah biasa aja, terlepas itu semua PSMS Medan harus bertekuk lutut dan mengangkat topi kepada Laskar Wong Kito Sriwijaya FC.

SELAMAT UNTUK SRIWIJAYA FC DAN MASYARAKAT SUMSEL

Februari 10, 2008 Posted by | Olahraga | , , , , | 1 Komentar

DIVISI SERTIFIKASI

Berdasarkan pengamatan masih ada saja beberapa karyawan yang belum memahami tugas divisi sertifikasi itu apa. Hal ini bisa dimaklumi karena memang setiap tahun pasti ada karyawan yang baru saja masuk bekerja di XIP.

Mereka hanya mengetahui bahwa Div. Sertifikasi adalah divisi yang hanya bertugas memberikan Surat jalan (Faktur Angkutan kayu) kepada suplayer. Memang benar salah satu tugas Div. Sertifikasi seperti yang disebutkan di atas, dan itu hanya sebagian keci dari tugas-tugas yang ada.

Tugas pokok Div. Sertifikasi itu sendiri adalah memastikan apakah program Sertifikasi FSC sudah dilaksanakan oleh seluruh divisi yang ada di XIP (Div. WS, Produksi, maupun P2HTR) atau belum.

Setiap tahun selalu ada Audit dari badan sertifikasi internasional, yaitu SmartWood. Dan Setiap tahun pula dari hasil audit tersebut muncul tugas-tugas yang diberikan oleh SmartWood kepada XIP. Untuk itulah Div. Sertifikasi menjelaskan tugas-tugas tersebut kepada divisi yang bersangkutan dan memberikan solusi bagaimana tugas tersebut diselesaikan sepanjang tahun.

Garis besarnya, beberapa contoh program kerja Div. Sertifikasi di antaranya:

  1. menyusun prosedur kerja (SOP) tentang COC lapangan dan COC pabrik
    • mensosialisasikan SOP tersebut kepada seluruh pihak yang terkait (petani, suplayer, karyawan) baik melalui pertemuan maupun buletin
    • melakukan pemantauan pelaksanaan COC lapangan dan pabrik
  2. menyusun prosedur kerja penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun Non B3
    • mensosialisasikan prosedur
    • melakukan pemantauan penanganan B3 dan Non B3 di lokasi tebangan, persemaian dan pabrik
    • pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan
  3. menyusun program kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi regu penebang dan karyawan pabrik
    • mensosialisasikan cara menebang yang aman sesuai dengan panduan penebangan yang berdampak minimal (Reduced Impact Logging/RIL) kepada petani, suplayer, regu penebang
    • mensosialisasikan K3 kepada karyawan pabrik
    • melakukan pemantauan pelaksanaan K3
  4. Pembentukan Kelompok Tani
    • Mensosialisasikan program sertifikasi FSC
    • Pembentukan Kelompok Tani
    • Menyusun program kerja Kelompok Tani
    • Menetapkan jatah tebang dan menyusun Rencana penebangan
  5. Menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan)

Kesimpulan kuisioner Feb 2008 :
Pada dasarnya sekitar 90% karyawan telah mengetahui adanya program FSC yang dijalankan oleh PT Xylo Indah Pratama, namun kurang mengetahui akan prinsip-prinsip dari program tersebut dari tujuan nya sampai apa saja hal-hal yang ada dalam program tersebut. Oleh karena itu sosialisasi harus lebih ditingkatkan lagi.

Dalam hal K3 karyawan sangat mendukung pelaksanaan program tersebut dan bersedia menjalankan dengan catatan menajemen perusahaan harus ikut mendukung program tersebut dengan pembagian masker yang berkualitas (tidak mudah putus,rusak), seragam kerja, dan melengkapin fasilitas yang ada di Poliklinik. Adanya sikap tegas dari manejemen dalam menjalankan program ini bagi para karyawan, serta dijalankan secara menyeluruh dan seterusnya.
Catatan : Penggunaan sarung tangan akan membahayakan para pekerja. Sarung tangan diperlukan hanya beberapa bagian tertentu saja.

Program Pelatihan Ketrampilan

Dari 100 lembar kuisioner, karyawan menghendaki pelatihan:
1. montir : 55 orang karyawan
2. ternak ayam: 15 orang
3. ternak ikan: 5 orang
4. komputer: 3 orang
5. 22 karyawan tidak menjawab kuisioner

Div. Sertifikasi segera mengusulkan pelatihan montir/mekanik kepada pimpinan yang rencananya dilaksanakan pada tahun ini, dan yang lain pada tahun berikutnya.

Februari 8, 2008 Posted by | XIP | , | 1 Komentar

PT.XYLO INDAH PRATAMA

XIP merupakan industri di bidang kehutanan yang memproduksi slat pensil dari jenis kayu pulai dan labu. Keduanya termasuk tumbuhan lokal yang banyak tumbuh merata di sela-sela kebun karet atau pekarangan masyarakat. Walaupun tidak seluruh kelompok kayu lunak bisa dimanfaatkan, pulai dan labu cukup bagus dipakai sebagai bahan baku pensil.

Pada awalnya pohon pulai dan labu bukan termasuk kayu yang berharga mengingat sifat fisiknya tidak bagus untuk bahan bangunan atau konstruksi lainnya, kayunya pun mudah diserang bubuk kayu. Tetapi seiring berkembangnya permintaan pasar terhadap pensil, kayu pulai dan labu pun semakin meningkat nilai ekonomisnya sehingga masyarakat lebih gemar memelihara anakan kayu tersebut.

Sumber bahan baku XIP bisa dikelompokkan dalam 2 bagian

  1. Kebun karet dan pekarangan masyarakat
    • Pembelian kayu rakyat melalui suplayer. Kegiatan dari kebun hingga pabrik seperti pembelian pohon ke petani, penebangan, hingga pengangkutan kayu dilakukan oleh suplayer. Seluruh kegiatan ini dikelola oleh Divisi Wood Supply. Sampai saat ini bahan baku XIP terutama berasal dari pola pembelian oleh suplayer ini
    • Dalam rangka menjaga kesinambungan bahan baku dalam jangka waktu yang panjang XIP menjalankan program pembentukan Kelompok Tani dimana setiap pohon pulai dan labu mereka telah direncanakan ditebang pada waktu yang telah ditentukan.
  2. Hutan Tanaman Rakyat
    • Saat ini XIP telah membangun hutan tanaman rakyat seluas 5000 ha di beberapa kecamatan dengan pola patungan bersama petani pemilik lahan. Jenis kayu yang ditanam adalah pulai gading dan pulai darat. Penanaman pulai dimulai pada tahun 1996. Pada tahun ini telah dilakukan penebangan di beberapa lokasi hingga pada tahun 2010/2011 nanti.
    • Selain program pembentukan Kelompok Tani di atas, sebagai program utama, pada tahun 2007 XIP tengah menyelesaikan proses perizinan pembangunan HTI seluas 4000 ha.

    Dalam rangka mewujudkan Pengelolaan Hutan/Kebun secara Lestari dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi serta memastikan kayu Pulai dan Labu berasal dari kebun karet milik masyarakat yang dikelola dengan baik berdasarkan 10 Prinsip dan Kriteria FSC , maka XIP berkomitmen, bahwa kayu Pulai dan Labu sebagai bahan baku industri TIDAK BERASAL dari :

    1. Penebangan Liar
    2. Penebangan yang melanggar hak-hak masyarakat setempat maupun hak-hak tradisional
    3. Hutan yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi, seperti Hutan Lindung, Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa
    4. Penebangan pada kawasan hutan yang akan dikonversi menjadi perkebunan atau Areal Penggunaan Lain (APL)
    5. Penebangan pada hutan tanaman hasil rekayasa genetika

    Berkaitan aktivitas XIP, ada beberapa LSM lokal yang menanyakan bahwa mengapa XIP diizinkan oleh pemerintah beroperasi sedangkan XIP tidak memiliki konsesi lahan seperti layaknya HPH. Mereka berpendapat bahwa XIP harus memiliki izin konsesi lahan. Oleh karenanya mereka menuntut agar Pemda menghentikan XIP beroperasi.

    XIP bisa memaklumi rasa ingin tahu LSm tersebut, walaupun singkat XIP berkenan menjelaskan sistem pengelolaannya.

    Di dalam Undang-Undang No 41 tahun 1999 pasal 5 menyebutkan:

    Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari:
    1. Hutan Negara
    2. Hutan Hak

    Juga dijelaskan bahwa Hutan Negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Sedangkan hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah

    Sistem pengelolaan yang dianut oleh HPH/HTI itu sangat berbeda sekali dengan XIP. Pada umumnya HPH mengelola (memanfaatkan) kayu berasal dari Hutan Negara (Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Konversi). Untuk itulah HPH harus memiliki konsesi lahan selama beberapa puluh tahun.

    Ilustrasi singkat dan sederhana:

    Suatu perusahaan telah melakukan survey potensi pada suatu kawasan hutan , dan menilai bahwa kawasan tersebut layak dikelola, perusahaan tersebut mengajukan usulan kepada Dinas Kehutanan setempat untuk mengelola kawasan yang dimaksud. Setelah melalui beberapa tingkat verikasi (penelitian terpadu) barulah pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memberikan izin pemanfaatan (konsesi) atau tidak kepada perusahaan tersebut.

    Berbeda halnya dengan XIP yang memanfaatkan hasil hutan kayu dari kebun karet dan pekarangan milik rakyat, bukan mengelola kawasan hutan. Oleh karenanya XIP tidak perlu memiliki konsesi/ sewa lahan seperti HPH di atas. Mengenai proses perizinan pemanfaatannya, secara prinsip tetap sama dengan seperti yang dilakukan oleh HPH.

    CMIIW

    Semoga bermanfaat

    Februari 6, 2008 Posted by | XIP | , , | 8 Komentar