Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian III)

TEKNIK SILVIKULTUR

Pulai (Alstonia sp) yang dikenal masyarakat sebagai kayu lame adalah tanaman yang tumbuh di daerah yang mempunyai jenis tanah liat atau berpasir atau daerah digenangi air. Namun demikian ada beberapa spesies yang juga sering terdapat di daerah lereng bukit berbatu. Penyebaran dari jenis ini terdapat di seluruh Indonesia. Tempat tumbuh Pulai pada daerah dengan ketinggian antara 0 sampai 1.000 m dpl bahkan lebih, pada hutan tropis dengan tipe curah hujan dari A sampai C.

Buah : Berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm. Buah tersebut berisi banyak benih.

Benih : Panjang dengan ukuran 4 – 5 mm, berwarna coklat, berbentuk pipih memanjang, terdapat dua ikat benang pada ujungnya dengan panjang antara 7 – 13 mm. Benih dari pohon alam dapat disebar oleh angin. Jumlah benih dalam 1 (satu) kilogramnya berkisar antara 37.000 – 87.000 butir.

Pulai (Alstonia sp) termasuk tumbuhan dengan jenis yang selalu hijau/tidak gugur daun. Di Australia tumbuhan ini berbunga pada bulan Oktober – Desember. Sedangkan di Sri Lanka, berbunga sampai dua periode setiap tahunnya yaitu pada bulan April – Juni dan bulan Oktober – Nopember. Musim panen di Sri Lanka pada bulan Pebruari. Di Laos berbunga pada akhir musim hujan dan benihnya dikumpulkan pada bulan Pebruari – Maret. Di Vietnam, berbunga bulan Agustus – September, dan berbuah pada bulan Januari – Pebruari.

Buah dipetik langsung dari pohon atau bisa juga dikumpulkan dari lantai hutan setelah dahannya digoyang.
Benih masak apabila buah telah berubah menjadi coklat, tetapi pengumpulan harus dilakukan sebelum buah merekah dan benihnya tersebar. Pengumpulan harus tepat waktu, karena periode buah masak hingga merekah hanya 2 (dua) minggu.

Bibit tanaman pulai diperoleh dari biji, ditanam melalui persemaian yang dilakukan dengan menyemaikan biji dalam bak kecambah langsung di bawah sinar matahari atau di bawah naungan. Biji diperoleh dari pohon yang telah berbuah, atau dapat dikatakan pada pohon yang telah tua. Lebih baik biji diambil dari pohon yang kondisi fisiknya besar dan baik atau dapat dikatakan sebagai pohon induk, agar hasil bibit yang diperoleh juga seperti induknya.

Di Indonesia, Pulai (Alstonia sp) biasanya berbunga dan berbuah antara bulan Mei sampai Agustus. Buah pulai berbiji sangat banyak. Rata – rata tiap kilogram biji kering berisi  500.000 butir. Biji yang telah dijemur dan disimpan dalam kaleng tertutup rapat dalam jangka waktu dua bulan masih mampu berkecambah sampai 80% – 90%.

Perlakuan Terhadap Benih

Pengolahan, penanganan buah dan benih.
Setelah buah masak dipanen, langkah selanjutnya dijemur sampai terbuka dan benihnya terlepas. Penjemuran ini biasanya memakan waktu sekitar satu minggu.
Apabila buah tersebut dipanen sebelum masak, maka perlu dilakukan pemeraman.

Benih yang ada di dalam buah ukurannya sangat kecil dan sangat mudah tertiup oleh angin selama waktu pengeringan. Untuk menghindari resiko ini dapat dikurangi dengan cara menutupkan jaring plastik selama penjemuran. Di beberapa tempat bulu benih dihilangkan, tetapi belum diketahui pengaruhnya terhadap penyimpanan dan viabilitas benih.

Fisiologi penyimpanan belum diketahui, tetapi benih ukuran kecil ini kenyataanya dapat dikeringkan yang menunjukkan bahwa benih tersebut ortodoks.
Benih segar mempunyai daya kecambah yang sangat tinggi, dengan persen tumbuh mendekati 100%.

Namun demikian benih ini cepat kehilangan viabilitasnya. Benih yang disimpan selama 2 bulan dalam suatu wadah yang kedap udara, dilaporkan dapat berkecambah sampai 90%. Tetapi belum diketahui apakah benih ini bisa bertahan pada suhu yang rendah.

Dormansi dan perlakuan pendahuluan
Benih segar tidak mengalami dormansi, sehingga tidak perlu adanya perlakuan pendahuluan. Kemungkinan adanya dormasi sekunder perlu penyelidikan lebih lanjut.

Tidak ada persyaratan khusus untuk penaburan, kecuali memerlukan sinar matahari penuh. Dengan sedikit ditutup setelah penaburan, penyinaran dan penyiraman yang teratur, benih mulai berkecambah setelah 12 hari dan berlanjut sampai 3 bulan.
Penyapihan bibit dilakukan setelah batas ngandi kayu yaitu pada umur 1 – 1.5 bulan setelah berkecambah.

Bibit sapihan tersebut ditanam pada kantung/polybag ukuran 10 X 15 cm yang berisi media tanam yang merupakan campuran dari tanah dan humus. Maksud dari campuran tanah dan humus adalah agar kondisi media tanam tersebut subur, sehingga prosen tumbuhnya tinggi.

Selain itu selama berada di polybag perlu adanya penambahan pupuk NPK dengan dosis tertentu agar media tersebut tingkat kesuburannya terjaga.
Bibit siap tanam berukuran tinggi 30 – 60 cm setelah berumur 4 – 6 bulan yaitu biasanya sekitar bulan Agustus – Oktober.

Selain bibit, stum yang berdiameter leher akarnya 6 mm juga dapat ditanam. Stum tersebut bisa diperoleh dengan pencabutan yang berasal dari anakan pohon yang berada di alam. Begitu pula sambungan/menyambung dapat dilakukan untuk jenis ini.

Di dalam kegiatan persiapan lahan, meliputi kegiatan yang berupa penataan areal tanaman; pembersihan lapangan; serta pengolahan lahan.

Untuk mempermudah didalam melakukan kegiatan penanaman dan pengawasan, maka sebaiknya areal tanaman dibagi ke dalam blok – blok dan petak. Pembagian blok maupun petak tersebut dilakukan secara fleksibel mengikuti keadaan/kondisi lapangan yang ada.

Pembersihan lahan dilakukan sebaiknya secara mekanik, dengan menghindari cara kimiawi. Apabila pembersihan dengan peralatan yang sederhana sudah cukup, tidak perlu mem pergunakan peralatan berat. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengurangi kerusakan terhadap tekstur dan struktur tanah di areal tersebut. Pohon pengganggu yang berdiameter kurang dari 10 cm tunggulnya sedapat mungkin dibongkar.

Pengolahan tanah disarankan dilakukan secara minimal (minimum tillage) dengan membuat cemplongan. Cemplongan–cemplongan yang dibuat untuk menanam bibit tersebut berbentuk persegi dengan ukuran tertentu. Cemplongan yang sudah dibuat tersebut kemudian diisi humus atau pupuk kandang untuk menambah kandungan unsur hara yang ada di dalamnya.

Penanaman dilaksanakan sekitar bulan Agustus sampai Oktober dengan asumsi pada saat musim hujan tiba diperkirakan akar tanaman sudah dapat tertancap kuat pada tanah, sehingga apabila dataran tergenang oleh air maka tanaman tidak akan hanyut oleh genangan air tersebut.

Penanaman dilaksanakan dengan menanam bibit dari persemaian dengan jarak tanam 3 X 3 m. Pada tempat yang sudah di ajir dibuat lubang tanam yang berukuran 45 cm X 30 cm, tanah digali dengan cangkul. Sedangkan untuk tanah yang berair cukup di ajir lalu ditanam dengan cara membenamkan bibit dari polybag.
Bibit yang siap ditanam di lapangan adalah setelah berumur 4 – 6 bulan dan mempunyai tinggi 30 – 60 cm.

Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman
Kegiatan penyulaman dilakukan pada tahun pertama menjelang musim hujan. Tanaman yang mati dan kerdil segera disulam dengan bibit dari persemaian.
b. Penyiangan
Penyiangan dilaksanakan minimal 2 kali dalam setahun. Penyiangan adalah membebaskan tanaman dari tanaman pengganggu lainnya untuk menghindarkan persaingan unsur hara, sinar matahari dan air.
c. Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk memper-tahankan ketersediaan hara dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman. Tanah-tanah gambut di daerah tropika pada umumnya kekurangan unsur mikro (Cu dan Zn) dan kandungan kation basa serta fosfor. Kekurangan Cu pada daun dapat menyebabkan terjadinya chlorosis mid crown sedangkan kekurangan Zn dapat mengakibatkan terjadinya peat yellow (kuning gambut) pada tajuk tanaman.

Pemeliharaan Tegakan
a. Pemangkasan (Prunning)
Pemangkasan cabang dilakukan untuk meningkatkan kualitas batang melalui peningkatan ukuran panjang batang bebas cabang. Pemangkasan dikerjakan pada waktu cabang-cabangnya garis tengah sekecil mungkin, untuk menghindarkan luka yang terlalu besar dan untuk mencegah timbulnya benjolan besar pada kayu. Prunning dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu pada umur 6 bulan, 1 tahun dan 2 tahun setelah ditanam di lapangan.
b. Penjarangan (Thinning)
Penjarangan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal, sehingga pertumbuhan pohon-pohon yang ditinggalkan dapat tumbuh secara optimal dengan kualitas dan kuantitas produksi kayu yang dihasilkan selama daur meningkat.
Penjarangan dilakukan dengan membuang pohon-pohon yang tertekan, jelek, terserang hama dan penyakit, atau batangnya bengkok, cabang banyak dan lain-lain yang mengganggu pohon tinggal. Penjarangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 5 tahun dan penjarangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 8 tahun.
c. Pencegahan Terhadap Hama dan Penyakit
Secara umum, tidak terdapat penyakit yang ada pada tanaman Pulai (Alstonia sp). Sedangkan hama yang biasa menyerang tanaman Pulai (Alstonia sp) adalah ulat pemakan daun. Hama tersebut dapat dicegah dengan cara mengembangkan predatornya, yaitu jenis serangga tertentu.

Sumber:

Istomo, C. Kusmana, Suwarno dan L. Santoso. 1997. Pengenalan Jenis Pohon Hutan Rawa Gambut. Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
Martawijaya, A., I. Kartasujana, Y. I. Mandang, S. A, Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid 11. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Dorthe Joker, DFSC, 2001. Informasi Singkat Benih ; Taksonomi Alstonia scholaris. Direktoran Pembenihan Tanaman Pangan. Bandung.
Y. I. Mandang, 2004. Anatomi Pepagan Pulai dan Beberapa Jenis Sekerabat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22. . Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.

sebelumnya, ke Bagian I

sebelumnya, ke bagian II

Hari Bumi dan Cara Bikin Pensil

Kasus Tajuk Tanaman Pulai

Februari 1, 2008 - Posted by | Spesies | , , , , , ,

8 Komentar »

  1. […] Bersambung ke Bagian III […]

    Ping balik oleh KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian II) « Ozon-SILAMPARI | Februari 1, 2008

  2. salut saya atas usaha anda untuk mensosialisasikan tanaman pulai. terusterang di kalimantan sangat kurang dikenal oleh masyarakat sekitar.
    saya dari Litbang kehutanan banjarbaru dan kebetulan menjadi teknisi dalam penelitian silvikultur pulai.
    kami disini ingin sharing info dari temen2 yg punya berita bagus tentang pulai.

    Komentar oleh arif susianto | Juni 25, 2008

  3. Oc…terima ksh apresiasi dan kunjungannya Bos, salam kenal juga…. dgn senang hati kita sharing sama2…. kami yakin nilai ekonomis pulai makin lama makin meningkat. Mudah2n di kalimantan juga demikian…. jadi ingat temen di banjabaru, Mas Sapto aji. kalo ga salah beliau sudah pindah ke balaiTN, msh deket dgn banjarbaru

    Komentar oleh O-S | Juni 26, 2008

  4. pupuk organik : makin byk petani yg gunakan bahan kimia untuk pupuk & herbisida dan berlangsung bertahun-tahun ,akibatnya kesuburan tanah berkurang

    Komentar oleh pupuk organik | Juli 16, 2010

  5. i liked your article. It was informative.

    Komentar oleh Y. J. Thanki | Desember 11, 2010

  6. Please send me your atricle bark anatomy of pulai and several related species. my email is- thankiyj@yahoo.com. You may send abstract if full csript is not possible. Thank you.

    Komentar oleh Y.J. Thanki | Desember 11, 2010

  7. mantap tuh pulai..kebetulan bgt saya kerja di TN Berbak Jambi, pulai melimpah ruah
    tp keluar dr konteks, ada yg bisa bantu ga mendapatkan buku pengenalan jenis pohon hutan rawa gambut yang di susun pak istomo dan kawan2 sebagai mana jd rujukan artikel ini, kebetulan sy sangat membutuhkan buku itu untuk mengidentifikasi pohon-pohon yg ada dihutan rawa gambut TN Berbak, atas bantuannya saya ucapkan terimakasih

    Komentar oleh sismanto | April 21, 2011

  8. thanks🙂

    Komentar oleh O-S | Desember 30, 2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: