Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

Salam Rimba…………….

Tepatnya tanggal 22 April kemaren dirayakan sebagai “Hari Bumi”. Dimana saat itu kita semua harus meliat keadaan alam kita saat ini, gimana lingkungan hidup kita mengarah pada kehancuran, hal ini dapat terliat dengan jelas; – Banjir melanda di beberapa daerah di Indonesia. – Adanya kenaikan suhu panas bumi yang mulai meyengat pada siang hari – Perubahan cuaca yang tidak menentu yang mempersulit ekonomi pertanian. Semua itu menendakan betapa kerusakan alam kita. Ini disebabkan menipisnya lapisan ozon karena pembabatan hutan yang tidak teratur . Meliat hal itu maka kami mengajak pembaca “Ozon Silampari” untuk melakukan penyelamatan pada lingkungan hidup kita. “Dengan cara menanam pohon minimal 1 batang setiap pembaca buletin dan memeliharanya.” Gampangkan …………….., maka mari kita bersama-sama mulai melakukan gerakan tersebut. Pesan Sponsor : “ Janganlah kita cuman melihat kerusakan lingkungan hidup kita tanpa bisa berbuat apapun” Sylvanus, S.Hut. Sebentar ya…barusan browsing dapet link mengenai pensil dan pembuatannya yaitu di wiki . Buat rekan-rekan yg belum tau, link ini sangat bermanfaat dan banyak menceritakan sejarah pemakaian pensil ratusan tahun yang lalu.

sawn timber-slat-lead-pensil

sumber:

en.wikipedia.org

pencils.com

id.wikipedia.org

video pembuatan pensil, STAEDTLER.mpg (55.3 MB)

screenshot terbaru

April 26, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , | 15 Komentar

Perjalanan Ke Desa Tri Anggun Jaya

Pada hari Jumat tanggal 18 April kami berempat melakukan tugas ke Desa Tri Anggun Jaya SP 5. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan sepeda motor, kondisi jalan yang berlumpur, berbatu agak menghambat perjalanan kami. Dengan kondisi badan yang kotor akibat Lumpur yang mengenai badan kami akhirnya kami sampai di desa tujuan kami, tempat yang pertama kami tuju adalah rumah kepala desa.
Sambil melepas lelah dan melakukan makan siang kami berbincang dengan kepala desa dan beberapa petani yang kami jumpai dimana kami menyampaikan maksud dan tujuan kami datang, dimana kami akan melakukan pengukuran batang pohon pulai dan labu yang masuk dalam kelompok tani serta melakukan pembayaran kompensasi.
Setelah merasa badan sudah cukup istirahat kami melakukan tugas dengan melakukan pengecekan ke kebun dan mengamati pertumbuhan diameter dan tinggi pohon yang terdaftar dalam kelompok tani,ada beberapa petani yang bersedia menemani kami melakukan tugas tersebut terutama yang punya kebun.
Sambil melakukan pengamatan kami melakukan sosilisasi akan penebangan berdampak minimal (Reduced Impact Logging) dimana diantaranya program K3 (Keselamatan dan kesehatan Kerja) penebangan melalui penggunaan alat pengaman mulai dari sepatu sampai penggunaan helm dan pemanfaatan sisa tebangan.
Pertanyaan yang sering kami temui selama kami kerja dari para petani adalah keinginan mereka melakukan penebangan seluruh batang pulai dan labu yang terdapat dalam kebun mereka agar bertujuan memperoleh keuntungan duit saat ini.
Namun hal itu kami jawab dengan guyon bahwa penebangan dilakukan sesuai jadwal tebang yang telah dibuat agar pengaturan kesediaan bahan baku untuk PT Xylo Indah Pratama dapat berjalan terus secara kontinyu dan fungsi tanaman dapat berjalan. Akhirnya petani dapat mengerti juga dengan penjelasan kami. Menjelang sore kami pulang dan berjanji pada esok hari akan ketemu lagi.
Selama tiga hari kami menjalan tugas ini, perjalanan yang menempuh jalan yang berlumpur dan berlubang kami lalui dengan senang, akhirnya tugas kami selesai juga. Rasa cape kami hilang seiring dengan tingginya minat petani akan kelompok ini dimana hal ini dapat terlihat dari tidak adanya batang pohon pulai dan labu yang ditebang di luar jadwal tebang oleh petani, keinginan menambah jumlah tegakan yang terdapat dari lahan kebun karet para petani, serta pertemuan kami dengan kepala desa SP 6 Desa Tri anggun Jaya yang menginginkan didesanya dibentuk kelompok tani pulai dan labu..
Kami membayangkan betapa indahnya apabila pasokan bahan baku yang masuk ke PT Xylo Indah Pratama adalah kayu yang berasal dari kelompok tani dan sesuai dengan pembuatan jadwal tebang, maka ketersedian bahan baku akan terus berjalan seiring dengan penanaman yang dilakukan setelah penebangan yang dapat mengganti fungsi tanaman yang telah ditebang. Dan dapat disusun lagi jadwal tebang baru yang dapat berlangsung terus menerus.
Untuk diketahui Di desa Tri Anggun Jaya terdapat 18 petani dalam satu kelompok yang semuanya memiliki tegakan pohon pulai dan labu pada kebun karet .
Akhirnya selesai juga tugas kami, kami pun kembali berpamitan kepada kepala desa dan beberapa petani yang menyertai kami selama melakukan tugas. Sebelum kami pergi kami berpesan bahwa kami akan kembali lagi untuk melakukan penebangan pada tegakan yang telah masuk jadwal tebang tahun 2008.

Penyusun : Silvanus S.Hut.

April 26, 2008 Posted by | XIP | , , , , | 1 Komentar

UPAYA KONSERVASI OLEH WARGA DESA KARANGPANGGUNG KEC. SELANGIT

Untuk mengatasi kendala keterbatasan bibit, PT.XIP bekerjasama dengan anggota kelompok tani yang berada di desa Karangpanggung. Pada periode pertama, ketua kelompok tani Bapak Suryatin menyanggupi menyediakan bibit cabutan Pulai sebanyak 2.000 batang.

Bibit ini akan disalurkan kembali secara cuma-cuma kepada petani yang bersedia bergabung menjadi anggota kelompok tani PT.XIP dan ditanam di sekitar pekarangan atau di sela-sela dan di pinggir kebun karet.

Bagi petani, secara tidak langsung juga memiliki peran:
1. mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh warga/anggota kelompok tani di desa Karangpanggung
2. mendukung upaya pelestarian Pulai dan Labu
3. mendukung upaya keberlanjutan produksi slat pensil oleh PT.XIP di Muara Beliti

Salah satu tujuan utama kerjasama PT.XIP dengan anggota kelompok tani di desa Karangpanggung adalah sebagai upaya dukungan terhadap kegiatan konservasi di wilayah desa tersebut. Dengan penangkaran bibit pulai oleh anggota kelompok tani diharapkan pula kawasan penyangga TNKS akan terjaga dengan baik dan memberikan penghasilan sampingan bagi anggota kelompok tani tersebut.

Hal ini akan lebih baik lagi (sinergis) apabila ada perusahaan atau lembaga lain seperti misalnya LSM di wilayah Kabupaten Musi Rawas turut serta mengikuti kegiatan serupa, ataupun dengan cara yang lain.

Selain bibit Pulai, kelompok tani ini juga menangkarkan jenis bibit lainnya seperti Meranti, Gaharu, Balam dan beberapa lainnya sebagai salah satu upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

PT.XIP berkomitmen akan meningkatkan kerjasama dengan kelompok tani desa Karangpanggung. Selain pengadaan bibit cabutan Pulai maupun Labu, perusahaan akan membahas lebih lanjut lagi berbagai kegiatan lainnya seperti bagaimana meningkatkan produksi padi dengan melibatkan Dinas Pertanian, atau kegiatan lainnya yang relevan dengan kondisi desa di masa yang akan datang.

Satu hal yang menarik lagi dari desa Karangpanggung, padi yang ditanam oleh warga bebas dari pestisida. Mereka mengetahui bahwa beras organik yang menjadi trend saat ini memiliki harga jual yang mahal ketimbang beras yang diproduksi dengan memakai pestisida.

Mungkin pertanyaan yang ada di benak kita adalah apakah pertanian organik tersebut? Bagaimana prosesnya suatu produk, misalnya beras, disebut sebagai beras organik? Bagaimana dan siapakah yang akan menjamin bahwa produk tersebut merupakan produk organik? Bagaimana strategi pemasarannya? Dan seterusnya.

Tim Redaksi memiliki bayangan, jika beras yang dihasilkan oleh warga desa Karangpanggung memang termasuk beras organik, bersama-sama kita bisa memikirkan dan mengundang investor untuk membantu melaksanakan pemasarannya.

Tentunya hal ini ini akan memiliki banyak dampak positif khususnya bagi warga desa Karangpanggung dan masyarakat sekitar, di antaranya yaitu
1. meningkatkan pendapatan masyarakat dan
2. meningkatkan kesehatan masyarakat,
3. menurunkan pencemaran lingkungan,
4. terjaganya kawasan penyangga TNKS.

Untuk kita ingat saja, warga desa Karangpanggung memiliki berbagai penghargaan tingkat nasional dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan karena didukung oleh sikap warga yang mencintai lingkungan dan semangat kerja yang kuat.
Mulai minggu kemarin telah dilaksanakan penebangan perdana di Kelompok Tani desa Sadarkarya. PT.XIP berusaha keras menerapkan penebangan berdampak minimal dengan memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja regu penebang.

Untuk itulah PT.XIP mewajibkan regu penebang untuk memakai Alat Pelindung Diri (APD) sebagai antisipasi kecelakaan yang mungkin terjadi.
Di dalam prosedur penebangan berdampak minimal (RIL/ Reduced Impact Logging) mewajibkan perusahaan memikirkan dan memperkecil segala dampak yang bisa timbul akibat penebangan, sejak dari rencana penebangan, sampai paska penebangan.

Dampak yang dimaksud di antaranya kerusakan lingkungan akibat penebangan yang dilakukan di sekitar sungai dan sumber mata air. Kerusakan ini dapat menimbulkan erosi, menurunnya debit air, menurunnya kualitas air akibat tergerusnya tanah ataupun tumpahnya bahan bakar yang digunakan oleh mesin chainsaw di tanah maupun air. Oleh karenanya PT.XIP tidak akan menebang pohon yang berada di sekitar wilayah yang dimaksud di atas.

Selain itu pula, penebangan pohon harus memperhatikan limbah tebangan. Penebangan diwajibkan serendah mungkin dari tanah dan sebisa mungkin setiap cabang kayu dimanfaatkan baik oleh penebang ataupun oleh petani, mungkin untuk kandang ternak, pagar, ataupun bahan bakar. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan manfaat pohon tebangan sehingga limbah tebangan bisa ditekan sekecil mungkin. Tidak dibenarkan penebangan yang menghasilkan banyak limbah yang berserakan di lokasi, yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan oleh kita.

Setelah penebangan, diwajibkan juga untuk merapikan dan membersihkan lokasi tebangan, begitu juga jika ada camp di situ. Areal yang terbuka wajib direhabilitasi dengan melakukan penanaman kembali. Menyingkirkan kayu yang dapat menghalangi aliran sungai dan parit.

Dalam hal mengeluarkan kayu dari lokasi ke tumpukan sementara, hal positif yang ditemukan adalah kegiatan tersebut dilakukan oleh regu kerja PT.XIP secara manual, sehingga tidak terjadi kerusakan tanah. Pengangkutan kayu dilakukan oleh tenaga kerja dengan memanggul kayu ataupun menggunakan gerobak. Tidak seperti layaknya perusahaan yang besar seperti HPH yang menggunakan alat berat seperti Grader maupun excavator yang mengakibatkan banyaknya tanah terbuka sehingga rawan longsor dan erosi. Selain itu pula baru-baru ini sedang memperbaiki jalan dan jembatan yang ada di desa Tingkip.

baca juga:

Pelestarian Pohon Pulai dan Labu

Pemberdayaan Masyarakat

April 26, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , , , , , | 1 Komentar

PELESTARIAN POHON PULAI DAN LABU

Pada awal bulan Maret 2008 PT.XIP membagikan bibit pulai darat (pulai hitam) di desa Bumiagung sebanyak 2000 batang kepada 4 petani yaitu:
1. Muhamad (Bapak Kepala Desa)
2. Miskun
3. Marjuki
4. Marsal
Bersamaan dengan pembagian bibit tersebut, dibentuk pula kelompok tani dengan peserta yang sama. Untuk mencapai keberhasilan penanamannya di sela-sela kebun karet dan pekarangan, PT.XIP menyediakan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 1.000,- per batang. Keseluruhan biaya tersebut telah diserahkan kepada Kepala Desa Bumiagung untuk dibagikan kepada anggota kelompok tani.

Dijelaskan pula bahwa biaya pemeliharaan ini akan diberikan setiap setahun sekali selama 3 tahun berturut-turut. Diharapkan setelah pemeliharaan selama 3 tahun ini, tanaman pulai bisa tumbuh secara mandiri dan mampu bersaing dengan tanaman sekitarnya.
Pola pembentukan kelompok tani seperti ini akan terus dilanjutkan untuk menggantikan pola pembentukan kelompok tani yang terdahulu.

Melalui pengamatan yang cukup lama, ditemukan bahwa pola pertama memiliki tingkat efisiensi yang rendah, di mana biaya produksi lebih tinggi dan membutuhkan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 15 tahun, dimana memerlukan biaya pemeliharaan sebesar Rp.5.000,-/batang/tahun.

Sedangkan pola kedua, saat ini bagi perusahaan merupakan alternatif yang terbaik. Secara teoritis, setiap rotasi memerlukan waktu 5 tahun. Diharapkan mulai tahun keenam (tahun 2013) PT.XIP mampu memanen pohon pulai dengan diameter rata-rata 25 cm sebanyak 100.000 batang.

PT.XIP sangat berharap sekali peran serta dari masyarakat untuk ikut bergabung menjadi kelompok tani demi keberhasilan pelestarian pohon Pulai dan Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

baca juga:

Pentingnya Kelompok Tani

Pohon Pulai

Pohon Labu

Buletin OS Edisi XI April 2008.pdf (44 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d XI

April 26, 2008 Posted by | Musirawas, Spesies, XIP | , , , , , | 1 Komentar

PENTINGNYA KELOMPOK TANI BAGI PT.XIP

Sebagai Group Manager, PT.XIP tengah berupaya mengembangkan kelompok tani yang bakal mensuplai kayu secara terus menerus dan berkesinambungan. PT.XIP lebih tepat dikategorikan sebagai Group Manager karena didasarkan atas sistem pemanfaatan kayunya, yaitu kayu jenis Pulai dan Labu sebagai bahan baku berasal dari petani melalui banyak suplayer. Berbeda halnya sistem yang dipakai oleh HPH atau HTI, mereka memiliki ijin untuk mengelola suatu kawasan hutan, oleh karenanya HPH dan HTI lebih tepat dikategorikan sebagai Pengelola Hutan (Forest Manager).Berkaitan dengan hal ini, PT.XIP sangat penting membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan suplayer dan petani demi kelangsungan produksinya.

Dari beberapa obrolan bersama suplayer, ditemukan beberapa kendala dalam hal kelancaran (konsistensi) suplai kayu ke PT.XIP. Tidak seluruh suplayer bisa mensuplai kayu secara teratur ke PT.XIP setiap bulannya. Hal ini banyak faktor yang mempengaruhi, seperti modal dan jarak asal kayu ke pabrik. Selain itu pula musim hujan juga dapat memperlambat proses pengangkutan di mana banyak jalan desa di berbagai daerah masih belum diaspal. Pengangkutan pun terpaksa tertunda 1 atau beberapa hari sampai jalan yang berlumpur kering dan bisa dilewati oleh mobil angkutan.

Seperti yang telah ditekankan oleh SmartWood, PT.XIP wajib membentuk kelompok tani. Hal ini erat kaitannya dengan jaminan pasokan kayu di masa yang akan datang. Dengan terbentuknya kelompok tani pemelihara pulai dan labu, PT.XIP mampu mengatur jadwal tebang masing-masing pohon yang dimiliki oleh petani tersebut.

Logikanya, semakin banyak kelompok tani yang terbentuk, semakin banyak pula pohon yang telah dijadwal untuk ditebang setiap tahunnya. Pengaturan tebangan yang disarankan adalah sepanjang 15 tahun. Dimana berdasarkan pengamatan diketahui bahwa umur masak tebang terlama untuk jenis kayu pulai dan labu adalah 15 tahun. Tentunya setelah penebangan petani wajib menanam pohon minimal sebanyak yang telah ditebang, dimana PT.XIP telah menyiapkan secara cuma-cuma bibit pulai dan labu bagi petani tersebut.

Mengingat pasokan kayu oleh petani ke PT.XIP melalui perantara yaitu suplayer, PT.XIP sangat perlu lebih meningkatkan posisi dan peran suplayer untuk mengembangkan kelompok tani yang dimaksud. Dengan keterlibatannya secara aktif, suplayer pun bisa memasok kayu lebih konsisten dan teratur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selama ini SmartWood menilai bahwa penanaman masih banyak terbebankan pada petani. Suplayer lebih banyak membeli dan memanen kayu daripada menanam. Seharusnya suplayer pun bisa bekerjasama dengan petani setelah kayu dipanen, petani dan suplayer bersama-sama menanam pulai dan labu di lokasi yang sama.

Diharapkan beberapa tahun yang akan datang suplayer bisa memanen kembali kayu pulai/labu yang pernah ditanam bersama petani beberapa waktu yang lalu (sistem rotasi). Disinilah inti atau maksud dan tujuan dari pembentukan kelompok tani yang diwajibkan oleh SmartWood kepada PT.XIP, yaitu meningkatnya kepastian bahan baku yang berkesinambungan.

Dengan terbentuknya kelompok tani, bagi PT.XIP pengorganisasian setiap kegiatan, seperti misalnya sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Cara penebangan berdampak minimal, upaya pengelolaan lingkungan, perbaikan jalan, penerapan lacak balak (Chain of Custody), survey potensi, analisa vegetasi, penyusunan rencana kerja tahunan, pengajuan pembelian kayu setiap bulan dan seterusnya, akan lebih mudah terencana dan terealisasi. Dan seharusnya bagi suplayer keuntungan yang diperoleh terutama, pemasokan kayu bisa lebih teratur setiap tahunnya dan beberapa tahun (5 atau 10 tahun) yang telah dirancang bersama PT.XIP, dan dengan harga tawar yang lebih baik. Petani karet pun bisa memperoleh hasil sampingan dari tanaman pulai atau labunya secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.

Khususnya di bidang pengadaan bahan baku, masih nampak terbelenggu oleh pemikiran adanya kendala keterbatasan staf, atau personel. Apabila ditilik lebih jauh lagi, seluruh kayu yang masuk adalah berasal dari petani melalui suplayer. Suplayer inilah yang menjadi anak buah karena benar-benar langsung dibawah kendali divisi pengadaan bahan baku. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, PT.XIP sangat perlu meningkatkan peranan suplayer mengingat fungsinya amat penting yaitu sebagai ujung tombak bagi perusahaan.

SmartWood menekankankan bahwa dalam upaya pengadaan bahan baku, perusahaan tidak hanya sebatas membeli bahan baku. Tanggung jawab mereka sebenarnya lebih dari itu.

  • Bagaimana perusahaan menjamin pasokan kayu dalam jangka pendek dan jangka panjang?
  • apakah penebangannya merusak lingkungan?
  • apakah penebangan cukup aman bagi para penebang?
  • bagaimana perusahaan melindungi kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan lindung dan konservasi?
  • bagaimana dampak sosial yang diakibatkan oleh penebangan?
  • bagaimana perusahaan merawat jalan dan cara mencegah erosi akibat penebangan?
  • bagaimana dampak ekonomi bagi suplayer, regu penebang hingga ke petani akibat operasi penebangan yang dilakukan?
  • berapa besar biaya yang diperlukan untuk kegiatan itu semua? dan seterusnya.

Pengadaan bahan baku melingkupi apa yang disebut sebagai Forest Management (pengelolaan hutan).

Kegiatan-kegiatan yang ada di dalam program sertifikasi (baik dalam maupun luar negeri) bukanlah suatu barang baru bagi setiap perusahaan. Jauh sebelum adanya sertifikasi pemerintah telah banyak mengeluarkan peraturan perundangan dan pedoman-pedoman yang berkaitan dengan bidang usaha suatu perusahaan. Contohnya, masalah K3 baik itu lokasi penebangan maupun di pabrik, berbagai Undang-undang, SK Menteri dll telah diterbitkan dan wajib dilaksanakan oleh perusahaan. Dan sertifikasi itu sendiri dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan resmi oleh suatu lembaga independen (internasional ataupun nasional) bahwa perusahaan mendukung sistem pengelolaan hutan dengan baik dan bertanggung jawab dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah dan perjanjian internasional.

Inti permasalahannya yaitu, komitmen. Dengan kemauan yang sungguh-sungguh oleh berbagai tingkat pimpinan hingga ke petani, seluruh kewajiban yang disebutkan diatas pasti terlaksanakan dengan baik. Demikian dan semoga bermanfaat dan CMIIW

yang terkait:

KELOMPOK TANI

Forest Stewardship Council

Buletin OS Edisi X April 08.pdf (60 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d X

April 20, 2008 Posted by | XIP | , , , , , | Tinggalkan komentar

PENTINGNYA PENGUKURAN DIAMETER POHON

Setiap perusahaan yang bergerak di dalam pemanfaatan kayu, secara ekonomis pasti mempunyai limit (batas) terkecil diameter kayu yang ditebang. Tidak terkecuali bagi perusahaan pulp & paper (pembuatan kertas) memiliki hutan tanaman dimana pohon-pohonnya harus dibesarkan terlebih dahulu.

Perusahaan perlu mengetahui berapa lama suatu jenis pohon mampu tumbuh hingga mencapai diameter yang diinginkan. Dengan mengetahui umur masak tebang suatu jenis pohon, perusahaan mampu menetapkan kapan pohon tersebut ditebang, berapa banyak pohon yang boleh ditebang dalam suatu kawasan. Hal ini berkaitan dengan upaya pengaturan hasil hutan kayu secara berkesinambungan.

Pertumbuhan pohon sangat dipengaruhi oleh jenis dan dimana dia tumbuh. Jenis pohon berkaitan erat dengan faktor genetis atau disebut juga faktor keturunan. Walaupun beberapa pohon dengan jenis yang sama, tetapi berasal dari induk yang berlainan, pertumbuhan masing-masing pohon tersebut akan berlainan pula. Apalagi bagi pohon-pohon yang berlainan jenis (misal antara pohon pulai dan pohon labu atau bahkan dengan pohon Jati)

Pohon yang tumbuh di tempat yang berbeda akan menampakkan hasil berlainan. Kita juga mengetahui ada tipe tanah kering dan tipe tanah basah. Selain itu juga ditemukan banyak jenis tanah berlainan, dari segi warna, ada tanah hitam, merah bahkan kekuningkuningan. Ada juga tanah bertekstur halus, sedang dan kasar. Setiap jenis tanah ini mengandung unsur hara berlainan. Oleh karenanya bagi tanaman ditemukan pula tanah yang subur dan tanah yang tandus, atau sering disebut juga tanah marjinal (kurus) karena sangat sedikit mengandung unsur hara yang diperlukan bagi tanaman.

Bagaimana tanah tersebut diketahui ada yang subur dan ada pula yang kurus? Kata para ahli, setiap tanah berasal/ terbentuk dari bahan yang berbeda yaitu dari banyak jenis batu-batuan di masa lampau. Selain itu juga dipengaruhi oleh lamanya pelapukan batu-batuan menjadi tanah.

Faktor ketinggian permukaan tanah juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jenis tanaman di wilayah sekitar pantai pastilah berbeda dengan jenis tanaman di wilayah pegunungan.

Selain jenis tanah, faktor luar (eksternal) yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah iklim. Tanaman yang asalnya tumbuh di daerah iklim yang selalu dingin tidak akan tumbuh dengan baik atau bahkan mati jika ditanam di daerah tropis, begitu juga sebaliknya. Ditemukan berbagai macam jenis tanaman di daerah tropis, namun di daerah dingin seperti di daratan eropa tanaman pohon didominasi oleh tanaman berdaun mirip jarum seperti contohnya Pinus dan Cemara, sering disebut juga sebagai kelompok tanaman Kornifera.

Kembali kepada pengaturan hasil hutan secara lestari, pemerintah selalu menetapkan apa yang disebut dengan Jatah Tebang Tahunan (JTT) bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan hasil hutan kayu. JTT ini ditetapkan berdasarkan penilaian menyuluruh khususnya potensi kayu yang ada di dalam wilayah ijin yang diberikan pemerintah kepada perusahaan guna kelangsungan produksi dalam jangka waktu yang panjang.

Berkaitan dengan hal ini kegiatan pemanenan/ penebangan yang akan dilaksanakan tidak boleh melebihi besarnya tambah tumbuh suatu jenis pohon. Tambah tumbuh atau lebih dikenal dengan Riap diperoleh dari hasil pengukuran diameter dan tinggi suatu jenis pohon yang berada di dalam Plot/Petak Ukur Permanen (PUP).

Untuk kepentingan tersebut sejak tahun 2000 PT.XIP telah mengembangkan 150 buah PUP. Dikarenakan beberapa petani mengundurkan diri karena berbagai alasan seperti kebunnya dijual, dibongkar untuk ditanami dengan pohon karet peremajaan, nomor yang tertulis/tertempel pada pohon hilang dsb, sebagian besar PUP tersebut diganti dengan PUP yang baru.

Di tahun 2007 PT.XIP mengadakan kerjasama lagi dengan petani untuk membuat PUP. Sampai saat ini telah terbentuk PUP sebanyak 60 buah baik untuk jenis pohon Pulai maupun Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

yg terkait:

PENGADAAN Bibit Pulai Melalui STEK

Pohon Labu (Endospermum sp)

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) Jika INGIN MENCINTAINYA (Bagian I)

April 18, 2008 Posted by | Spesies | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Jorge Lorenzo, ARRRRGH !!!!!

Mungkin Anda pun akan meramal, Lorenzo lah Juara Dunia MotoGP musim ini. Aksi membalap lomba sore tadi di Portugal amat mengagumkan penonton. Pada laps 16 terakhir Lorenzo mampu memotong pimpinan sementara, Valentono Rossi, tepat di dua tikungan aduhai dan sedikit nanjak, balik memimpin tanpa terkejar hingga garis finish 28 laps. Dari namanya saja sudah keren, lidah orang Indonesia pun tidak sulit mengucapkannya. Enakan Jorge Lorenzo ketimbang Horge Lorenzo 😀

Iya seh, terlalu dini menyebut Jorge Lorenzo sebagai Juara MotoGP 2008. Pada sesi pertama Sang Juara Dunia penunggang Ducati, Casey Stoner berhasil menyelesaikan lomba dengan sempurna. Dia tidak akan menyerahkan mahkotanya dengan gampang, apalagi kepada pendatang baru 😉 . Pada Sesi lomba ke dua di sirkuit Jerez Spanyol Dani Pedrosa meraih podium pertama dan meninggalkan jauh pembalap lainnya. Lawan tangguh lainnya Valentino Rossi pun nampaknya haus kemenangan.

MotoGP 2008 akan berlangsung penuh kejutan dan tentunya menyegarkan. Jago-jago 250 cc berdatangan menantang kehebatan motor Ducati; Lorenzo, Dovizioso, Toseland, Angelis.

Peluang juara untuk Rossi masih ada, walaupun pertandingan ini semakin ketat. Setelah dikalahkan oleh Hayden di tahun 2006, Rossi berharap bisa menyabet gelar di tahun 2007. Tidak disangka, Stoner tampil dominan dan benar-benar mengesankan. Ducati terlampau kuat untuk dikalahkan, Rossi pun selalu menyalahkan ban Michelin yang selalu kedodoran. Bos Yamaha pun mengabulkan permintaannya, tahun 2008 Rossi boleh pake Bridgestone. Tiga kali berlomba hasilnya lumayan, walaupun belum terlalu signifikan Michelin jadi biang kerok kekalahan race musim lalu, kasih daaaah 😀 Lorenzo dan Pedrosa pake Michelin lho

Rossi merupakan pembalap flamboyan, punya segudang teknik hebat. Makanya dia bisa Juara dunia di dua motor yang berbeda, Honda dan Yamaha. Sampai-sampai pengamat waktu itu bilang, motor apapun yang dipake Rossi, dia akan masih bisa jadi juara. Mungkin eranya sudah akan lewat, bibit-bibit unggul bermunculan.

Hasil sementara

  1. Lorenzo 61
  2. Pedrosa 61
  3. Rossi 47
  4. Stoner 40
  5. Toseland 29
  6. Capirossi 26
  7. Hopkins 24
  8. Edwards 22
  9. Dovizioso 21
  10. Hayden 19

Pertandingan selanjutnya di negeri tirai bambu Shanghai Circuit 4 mei 2008

Buletin Wang Kite kok ngebahas MotoGP seh? hehehehhe abis suka seh…gapapa kan?

DAHSYATNYA LORENZO

MOTOGP

DUCATIMONSTER

April 14, 2008 Posted by | Olahraga | , , , , , | 2 Komentar

PENGADAAN Bibit Pulai Melalui STEK

(Disusun oleh: Silvanus)

A. Pendahuluan
Jenis Pulai (Alstonia scholaris R.Br) sangat langkah ditemukan, sulitnya benih diperoleh menjadi salah satu kendala penanaman jika diusahakan secara besar-besaran. Beberapa penelitian menunjukan bahwa perbayakan jenis Pulai mudah dilakukan melalui pembiakan vegetatif. Hormon tumbuh endogen yang ada dalam bahan stek tersedia dalam jumlah yang cukup merangsang pembentukan tunas dan akar.
Pulai dapat mencapai tinggi total 50 m dengan tinggi bebas cabang sampai 30 m. Diameter sampai 60 cm, batang lurus dan beralur dangkal. Kayunya digunakan antara lain untuk perabotan rumah tangga, korek api, peti, dll. Selai kayunya pohon pulai juga dapat dimanfaatkan getahnya untuk bahan obat dan permen (Martawijaya, et.al. 1981)
Pembiakan sacara vgetatif dapat menghasilkan bibit homogen dengan jumlah dan waktu yang diinginkan dapat digunakan untuk menganalisa tempat tumbuhdan dapat dihasilkan dengan mutu genetic yang sama dengan induknya.

B. Pembangunan Kebun Pangkas
Pengadaan Tanaman Induk.
Sebagaimana hal nya benih, bahan stek juga harus memperhatikan beberapa factor yang mempengaruhi kualitas tegakan dimasa yang akan dating. Variasi dalam tegakan , misalnya variasi geografis, individu dalam tegakan serta veriasi dalam pohon memiliki kontribusi yang sangat besar. Kebun pangkas dapat menghasilkan hutan berproduktifitas tinggi perlu memiliki dua persyaratan, yaitu :
1.    Dibangun dari benih hasil persilangan terkendali antara tetua-teu yang telah teruji.
2.    Secara fisiologi masih dalam keadaan muda.
3.
C. Penanaman dan Pemeliharaan
Agar kebun pangkas dapat menghasilkan bahan stek yang baik, cukup, serta berkesinambungan perlu ditangani secara intensif melalui:
1.    Penyiangan
2.    Pemberantasan hama dan penyakit.
3.    Pelabelan, pemetaan, pecatatan perlakuan
4.    Pengendalian juvenilitas
5.    Manajemen pemupukan
Kegiatan-kegiatan ini sangat memudahkan dalam evaluasi bibit yang dihasilkan
serta kebenaran dan kejelasan asal usul sumber bahan stek. Pengendalian Juvenilisasi ditujukan  untuk mempertahankan kemudahan bahan stek sehingga pertumbuhan kayunya tetap tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemupukan dan pemangkasan.
Luas kebun pangkas tergantung pada luas penanaman yang direncanakan dan persentase keberhasilan perakaran stek. Jarak tanam yang rapat memerlukan penanganan yang lebih intesif.

D. Pruduksi Bahan Stek
Arsitektur Tanaman Pulai
Dalam pembangunan kebun pangkas, arsitektur tanaman perlu diketahui untuk menentukan jarak tanam, model pemangkasan dan dapat untuk memperkirakan produksi bahan steknya. (Lape dan Smith. 1972) mengatakan bahwa keberhasilan stek ditentukan oleh hubungan arsitektur bibit dengan sifat juvenilisasi bahan stek.
Menurut whitmore (1972) mengatakan bahwa pohon pulai muda umumnya memiliki tajuk onopodial dan setelah tua menjadi sympodial. Anakan pulai memiliki batang yang lurus dengan percabangan tipe terminalia. Percabangan akan menua kemudian tumbuh tunas axsilar menjadi batang utama.
Pemangkasan
Dengan memperhatikan arsitektur tanaman muda Pulai , pemangkasan dapat mempergunakan model reiterasiproleptis yaitu pemangkasan untuk merangsang pertumbuhan tunas othotrop yang terdapat pada cabang untuk menggantikan tajuk yang hilang.
Pemangkasan dapat dilakukan sejak tanaman berumur 6 bulan. Produksi bahan stek pada awal pemotongan (umur 6 bulan) , setiap tanaman induk menghasilkan 5 stek. Setelah itu tanaman indukakan menghasilkan tanaman baru rata-rata empat tunas.

E. Perakaran Stek
Bahan Stek
Bahan stek dapat berupa stek batang atau stek pucuk. Bahan stek yang baik adalah bahan yang sudah berkayu tetapi masih juvenile dan dalam keadaan dorma terutama bila menggunakan bahan stek pucuk.
Media Tumbuh
Media tumbuh stek Pulai dapat menggunakan media porus seperti media pasir atau sabut kelapa, tetapi dapat juga menggunakan media tanah yang ditempatkan pada polybag. Pada media pasir pasir dan sabut kelapa masih perlu ditambahkan pupuk NPK (2-3 gram/pollybag) selam masa pembibitan.
Hormon Tumbuh
Untuk mempercepat pembentukan akar stek Pulai dapat menggunakan hormone tumbuh seperti Rotone-F. Pemberian Rotoone-F dengan dosis 50mg/stek pada bahan stek batang bagian pangkal, ditanamn pada media sabut kelapa dapat menghasilkan persen stek bertunas 93,33%. Pemberian hormone perakaran pada stek Pulai tidak mutlak, karena kemungkinan hormone tumbuh endogen untuk perangsangan pembentukan tunas dan akar yang ada dalam bahan stek cukup tinggi sehingga tidak perlu diberikan dari luar. Tanpak pemberian hormone tumbuhpun stek Pulai dapat menumbuhkan tunas dan akar dengan cepat dan normal.
Tempat Pertumbuhan Stek Pulai
Dalam perakaran stek tempat pertumbuhan memiliki peran yang penting, terutama untuk mengoptiumumkan kondisi kelembaban,suhu,cahaya dan kecukupan air serta oksigen. Tempat pertumbuhan dapat menggunakan tempat pertumbuhan yang paling sederhanan seperti sukup plastic atau rumah pertumbuhan stek yang dilengkapin dengan system penyiraman dan pengaturan suhu dan kelembaban yang otomatis. Bahkan pada musim penghujan stek Pulai dapat ditanam langsung pada lokasi lahan yang subur yang digemburkan.
Penanaman
Stek Pulai yang telah berakar, yaitu sekitar berumur 2-3 bulan berada ditempat pertumbuhan akar, kemudian diaklimatisasi atau dikondisikan ditempat persemaian yang dinaungi sadding net dengan intensitas cahaya yang maksimal 50%. Biarkan ditempat ini minimal satu bulan. Setelah itu bibit pulai biakan vegetatif asal stek siap ditanam dilapangan. Penanaman pulai dilapangan dapat menggunakan sitem jalur maupun terbuka. Selain itu pada lubang tanam dapat ditambahkan pupuk NPK 10-20 gram/.lubang.

April 5, 2008 Posted by | Spesies | , , , | 7 Komentar