Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

PENTINGNYA KELOMPOK TANI BAGI PT.XIP

Sebagai Group Manager, PT.XIP tengah berupaya mengembangkan kelompok tani yang bakal mensuplai kayu secara terus menerus dan berkesinambungan. PT.XIP lebih tepat dikategorikan sebagai Group Manager karena didasarkan atas sistem pemanfaatan kayunya, yaitu kayu jenis Pulai dan Labu sebagai bahan baku berasal dari petani melalui banyak suplayer. Berbeda halnya sistem yang dipakai oleh HPH atau HTI, mereka memiliki ijin untuk mengelola suatu kawasan hutan, oleh karenanya HPH dan HTI lebih tepat dikategorikan sebagai Pengelola Hutan (Forest Manager).Berkaitan dengan hal ini, PT.XIP sangat penting membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan suplayer dan petani demi kelangsungan produksinya.

Dari beberapa obrolan bersama suplayer, ditemukan beberapa kendala dalam hal kelancaran (konsistensi) suplai kayu ke PT.XIP. Tidak seluruh suplayer bisa mensuplai kayu secara teratur ke PT.XIP setiap bulannya. Hal ini banyak faktor yang mempengaruhi, seperti modal dan jarak asal kayu ke pabrik. Selain itu pula musim hujan juga dapat memperlambat proses pengangkutan di mana banyak jalan desa di berbagai daerah masih belum diaspal. Pengangkutan pun terpaksa tertunda 1 atau beberapa hari sampai jalan yang berlumpur kering dan bisa dilewati oleh mobil angkutan.

Seperti yang telah ditekankan oleh SmartWood, PT.XIP wajib membentuk kelompok tani. Hal ini erat kaitannya dengan jaminan pasokan kayu di masa yang akan datang. Dengan terbentuknya kelompok tani pemelihara pulai dan labu, PT.XIP mampu mengatur jadwal tebang masing-masing pohon yang dimiliki oleh petani tersebut.

Logikanya, semakin banyak kelompok tani yang terbentuk, semakin banyak pula pohon yang telah dijadwal untuk ditebang setiap tahunnya. Pengaturan tebangan yang disarankan adalah sepanjang 15 tahun. Dimana berdasarkan pengamatan diketahui bahwa umur masak tebang terlama untuk jenis kayu pulai dan labu adalah 15 tahun. Tentunya setelah penebangan petani wajib menanam pohon minimal sebanyak yang telah ditebang, dimana PT.XIP telah menyiapkan secara cuma-cuma bibit pulai dan labu bagi petani tersebut.

Mengingat pasokan kayu oleh petani ke PT.XIP melalui perantara yaitu suplayer, PT.XIP sangat perlu lebih meningkatkan posisi dan peran suplayer untuk mengembangkan kelompok tani yang dimaksud. Dengan keterlibatannya secara aktif, suplayer pun bisa memasok kayu lebih konsisten dan teratur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selama ini SmartWood menilai bahwa penanaman masih banyak terbebankan pada petani. Suplayer lebih banyak membeli dan memanen kayu daripada menanam. Seharusnya suplayer pun bisa bekerjasama dengan petani setelah kayu dipanen, petani dan suplayer bersama-sama menanam pulai dan labu di lokasi yang sama.

Diharapkan beberapa tahun yang akan datang suplayer bisa memanen kembali kayu pulai/labu yang pernah ditanam bersama petani beberapa waktu yang lalu (sistem rotasi). Disinilah inti atau maksud dan tujuan dari pembentukan kelompok tani yang diwajibkan oleh SmartWood kepada PT.XIP, yaitu meningkatnya kepastian bahan baku yang berkesinambungan.

Dengan terbentuknya kelompok tani, bagi PT.XIP pengorganisasian setiap kegiatan, seperti misalnya sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Cara penebangan berdampak minimal, upaya pengelolaan lingkungan, perbaikan jalan, penerapan lacak balak (Chain of Custody), survey potensi, analisa vegetasi, penyusunan rencana kerja tahunan, pengajuan pembelian kayu setiap bulan dan seterusnya, akan lebih mudah terencana dan terealisasi. Dan seharusnya bagi suplayer keuntungan yang diperoleh terutama, pemasokan kayu bisa lebih teratur setiap tahunnya dan beberapa tahun (5 atau 10 tahun) yang telah dirancang bersama PT.XIP, dan dengan harga tawar yang lebih baik. Petani karet pun bisa memperoleh hasil sampingan dari tanaman pulai atau labunya secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.

Khususnya di bidang pengadaan bahan baku, masih nampak terbelenggu oleh pemikiran adanya kendala keterbatasan staf, atau personel. Apabila ditilik lebih jauh lagi, seluruh kayu yang masuk adalah berasal dari petani melalui suplayer. Suplayer inilah yang menjadi anak buah karena benar-benar langsung dibawah kendali divisi pengadaan bahan baku. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, PT.XIP sangat perlu meningkatkan peranan suplayer mengingat fungsinya amat penting yaitu sebagai ujung tombak bagi perusahaan.

SmartWood menekankankan bahwa dalam upaya pengadaan bahan baku, perusahaan tidak hanya sebatas membeli bahan baku. Tanggung jawab mereka sebenarnya lebih dari itu.

  • Bagaimana perusahaan menjamin pasokan kayu dalam jangka pendek dan jangka panjang?
  • apakah penebangannya merusak lingkungan?
  • apakah penebangan cukup aman bagi para penebang?
  • bagaimana perusahaan melindungi kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan lindung dan konservasi?
  • bagaimana dampak sosial yang diakibatkan oleh penebangan?
  • bagaimana perusahaan merawat jalan dan cara mencegah erosi akibat penebangan?
  • bagaimana dampak ekonomi bagi suplayer, regu penebang hingga ke petani akibat operasi penebangan yang dilakukan?
  • berapa besar biaya yang diperlukan untuk kegiatan itu semua? dan seterusnya.

Pengadaan bahan baku melingkupi apa yang disebut sebagai Forest Management (pengelolaan hutan).

Kegiatan-kegiatan yang ada di dalam program sertifikasi (baik dalam maupun luar negeri) bukanlah suatu barang baru bagi setiap perusahaan. Jauh sebelum adanya sertifikasi pemerintah telah banyak mengeluarkan peraturan perundangan dan pedoman-pedoman yang berkaitan dengan bidang usaha suatu perusahaan. Contohnya, masalah K3 baik itu lokasi penebangan maupun di pabrik, berbagai Undang-undang, SK Menteri dll telah diterbitkan dan wajib dilaksanakan oleh perusahaan. Dan sertifikasi itu sendiri dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan resmi oleh suatu lembaga independen (internasional ataupun nasional) bahwa perusahaan mendukung sistem pengelolaan hutan dengan baik dan bertanggung jawab dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah dan perjanjian internasional.

Inti permasalahannya yaitu, komitmen. Dengan kemauan yang sungguh-sungguh oleh berbagai tingkat pimpinan hingga ke petani, seluruh kewajiban yang disebutkan diatas pasti terlaksanakan dengan baik. Demikian dan semoga bermanfaat dan CMIIW

yang terkait:

KELOMPOK TANI

Forest Stewardship Council

Buletin OS Edisi X April 08.pdf (60 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d X

April 20, 2008 - Posted by | XIP | , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: