Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

Salam Rimba…………….

Tepatnya tanggal 22 April kemaren dirayakan sebagai “Hari Bumi”. Dimana saat itu kita semua harus meliat keadaan alam kita saat ini, gimana lingkungan hidup kita mengarah pada kehancuran, hal ini dapat terliat dengan jelas; – Banjir melanda di beberapa daerah di Indonesia. – Adanya kenaikan suhu panas bumi yang mulai meyengat pada siang hari – Perubahan cuaca yang tidak menentu yang mempersulit ekonomi pertanian. Semua itu menendakan betapa kerusakan alam kita. Ini disebabkan menipisnya lapisan ozon karena pembabatan hutan yang tidak teratur . Meliat hal itu maka kami mengajak pembaca “Ozon Silampari” untuk melakukan penyelamatan pada lingkungan hidup kita. “Dengan cara menanam pohon minimal 1 batang setiap pembaca buletin dan memeliharanya.” Gampangkan …………….., maka mari kita bersama-sama mulai melakukan gerakan tersebut. Pesan Sponsor : “ Janganlah kita cuman melihat kerusakan lingkungan hidup kita tanpa bisa berbuat apapun” Sylvanus, S.Hut. Sebentar ya…barusan browsing dapet link mengenai pensil dan pembuatannya yaitu di wiki . Buat rekan-rekan yg belum tau, link ini sangat bermanfaat dan banyak menceritakan sejarah pemakaian pensil ratusan tahun yang lalu.

sawn timber-slat-lead-pensil

sumber:

en.wikipedia.org

pencils.com

id.wikipedia.org

video pembuatan pensil, STAEDTLER.mpg (55.3 MB)

screenshot terbaru

Iklan

April 26, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , | 15 Komentar

Perjalanan Ke Desa Tri Anggun Jaya

Pada hari Jumat tanggal 18 April kami berempat melakukan tugas ke Desa Tri Anggun Jaya SP 5. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan sepeda motor, kondisi jalan yang berlumpur, berbatu agak menghambat perjalanan kami. Dengan kondisi badan yang kotor akibat Lumpur yang mengenai badan kami akhirnya kami sampai di desa tujuan kami, tempat yang pertama kami tuju adalah rumah kepala desa.
Sambil melepas lelah dan melakukan makan siang kami berbincang dengan kepala desa dan beberapa petani yang kami jumpai dimana kami menyampaikan maksud dan tujuan kami datang, dimana kami akan melakukan pengukuran batang pohon pulai dan labu yang masuk dalam kelompok tani serta melakukan pembayaran kompensasi.
Setelah merasa badan sudah cukup istirahat kami melakukan tugas dengan melakukan pengecekan ke kebun dan mengamati pertumbuhan diameter dan tinggi pohon yang terdaftar dalam kelompok tani,ada beberapa petani yang bersedia menemani kami melakukan tugas tersebut terutama yang punya kebun.
Sambil melakukan pengamatan kami melakukan sosilisasi akan penebangan berdampak minimal (Reduced Impact Logging) dimana diantaranya program K3 (Keselamatan dan kesehatan Kerja) penebangan melalui penggunaan alat pengaman mulai dari sepatu sampai penggunaan helm dan pemanfaatan sisa tebangan.
Pertanyaan yang sering kami temui selama kami kerja dari para petani adalah keinginan mereka melakukan penebangan seluruh batang pulai dan labu yang terdapat dalam kebun mereka agar bertujuan memperoleh keuntungan duit saat ini.
Namun hal itu kami jawab dengan guyon bahwa penebangan dilakukan sesuai jadwal tebang yang telah dibuat agar pengaturan kesediaan bahan baku untuk PT Xylo Indah Pratama dapat berjalan terus secara kontinyu dan fungsi tanaman dapat berjalan. Akhirnya petani dapat mengerti juga dengan penjelasan kami. Menjelang sore kami pulang dan berjanji pada esok hari akan ketemu lagi.
Selama tiga hari kami menjalan tugas ini, perjalanan yang menempuh jalan yang berlumpur dan berlubang kami lalui dengan senang, akhirnya tugas kami selesai juga. Rasa cape kami hilang seiring dengan tingginya minat petani akan kelompok ini dimana hal ini dapat terlihat dari tidak adanya batang pohon pulai dan labu yang ditebang di luar jadwal tebang oleh petani, keinginan menambah jumlah tegakan yang terdapat dari lahan kebun karet para petani, serta pertemuan kami dengan kepala desa SP 6 Desa Tri anggun Jaya yang menginginkan didesanya dibentuk kelompok tani pulai dan labu..
Kami membayangkan betapa indahnya apabila pasokan bahan baku yang masuk ke PT Xylo Indah Pratama adalah kayu yang berasal dari kelompok tani dan sesuai dengan pembuatan jadwal tebang, maka ketersedian bahan baku akan terus berjalan seiring dengan penanaman yang dilakukan setelah penebangan yang dapat mengganti fungsi tanaman yang telah ditebang. Dan dapat disusun lagi jadwal tebang baru yang dapat berlangsung terus menerus.
Untuk diketahui Di desa Tri Anggun Jaya terdapat 18 petani dalam satu kelompok yang semuanya memiliki tegakan pohon pulai dan labu pada kebun karet .
Akhirnya selesai juga tugas kami, kami pun kembali berpamitan kepada kepala desa dan beberapa petani yang menyertai kami selama melakukan tugas. Sebelum kami pergi kami berpesan bahwa kami akan kembali lagi untuk melakukan penebangan pada tegakan yang telah masuk jadwal tebang tahun 2008.

Penyusun : Silvanus S.Hut.

April 26, 2008 Posted by | XIP | , , , , | 1 Komentar

UPAYA KONSERVASI OLEH WARGA DESA KARANGPANGGUNG KEC. SELANGIT

Untuk mengatasi kendala keterbatasan bibit, PT.XIP bekerjasama dengan anggota kelompok tani yang berada di desa Karangpanggung. Pada periode pertama, ketua kelompok tani Bapak Suryatin menyanggupi menyediakan bibit cabutan Pulai sebanyak 2.000 batang.

Bibit ini akan disalurkan kembali secara cuma-cuma kepada petani yang bersedia bergabung menjadi anggota kelompok tani PT.XIP dan ditanam di sekitar pekarangan atau di sela-sela dan di pinggir kebun karet.

Bagi petani, secara tidak langsung juga memiliki peran:
1. mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh warga/anggota kelompok tani di desa Karangpanggung
2. mendukung upaya pelestarian Pulai dan Labu
3. mendukung upaya keberlanjutan produksi slat pensil oleh PT.XIP di Muara Beliti

Salah satu tujuan utama kerjasama PT.XIP dengan anggota kelompok tani di desa Karangpanggung adalah sebagai upaya dukungan terhadap kegiatan konservasi di wilayah desa tersebut. Dengan penangkaran bibit pulai oleh anggota kelompok tani diharapkan pula kawasan penyangga TNKS akan terjaga dengan baik dan memberikan penghasilan sampingan bagi anggota kelompok tani tersebut.

Hal ini akan lebih baik lagi (sinergis) apabila ada perusahaan atau lembaga lain seperti misalnya LSM di wilayah Kabupaten Musi Rawas turut serta mengikuti kegiatan serupa, ataupun dengan cara yang lain.

Selain bibit Pulai, kelompok tani ini juga menangkarkan jenis bibit lainnya seperti Meranti, Gaharu, Balam dan beberapa lainnya sebagai salah satu upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

PT.XIP berkomitmen akan meningkatkan kerjasama dengan kelompok tani desa Karangpanggung. Selain pengadaan bibit cabutan Pulai maupun Labu, perusahaan akan membahas lebih lanjut lagi berbagai kegiatan lainnya seperti bagaimana meningkatkan produksi padi dengan melibatkan Dinas Pertanian, atau kegiatan lainnya yang relevan dengan kondisi desa di masa yang akan datang.

Satu hal yang menarik lagi dari desa Karangpanggung, padi yang ditanam oleh warga bebas dari pestisida. Mereka mengetahui bahwa beras organik yang menjadi trend saat ini memiliki harga jual yang mahal ketimbang beras yang diproduksi dengan memakai pestisida.

Mungkin pertanyaan yang ada di benak kita adalah apakah pertanian organik tersebut? Bagaimana prosesnya suatu produk, misalnya beras, disebut sebagai beras organik? Bagaimana dan siapakah yang akan menjamin bahwa produk tersebut merupakan produk organik? Bagaimana strategi pemasarannya? Dan seterusnya.

Tim Redaksi memiliki bayangan, jika beras yang dihasilkan oleh warga desa Karangpanggung memang termasuk beras organik, bersama-sama kita bisa memikirkan dan mengundang investor untuk membantu melaksanakan pemasarannya.

Tentunya hal ini ini akan memiliki banyak dampak positif khususnya bagi warga desa Karangpanggung dan masyarakat sekitar, di antaranya yaitu
1. meningkatkan pendapatan masyarakat dan
2. meningkatkan kesehatan masyarakat,
3. menurunkan pencemaran lingkungan,
4. terjaganya kawasan penyangga TNKS.

Untuk kita ingat saja, warga desa Karangpanggung memiliki berbagai penghargaan tingkat nasional dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan karena didukung oleh sikap warga yang mencintai lingkungan dan semangat kerja yang kuat.
Mulai minggu kemarin telah dilaksanakan penebangan perdana di Kelompok Tani desa Sadarkarya. PT.XIP berusaha keras menerapkan penebangan berdampak minimal dengan memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja regu penebang.

Untuk itulah PT.XIP mewajibkan regu penebang untuk memakai Alat Pelindung Diri (APD) sebagai antisipasi kecelakaan yang mungkin terjadi.
Di dalam prosedur penebangan berdampak minimal (RIL/ Reduced Impact Logging) mewajibkan perusahaan memikirkan dan memperkecil segala dampak yang bisa timbul akibat penebangan, sejak dari rencana penebangan, sampai paska penebangan.

Dampak yang dimaksud di antaranya kerusakan lingkungan akibat penebangan yang dilakukan di sekitar sungai dan sumber mata air. Kerusakan ini dapat menimbulkan erosi, menurunnya debit air, menurunnya kualitas air akibat tergerusnya tanah ataupun tumpahnya bahan bakar yang digunakan oleh mesin chainsaw di tanah maupun air. Oleh karenanya PT.XIP tidak akan menebang pohon yang berada di sekitar wilayah yang dimaksud di atas.

Selain itu pula, penebangan pohon harus memperhatikan limbah tebangan. Penebangan diwajibkan serendah mungkin dari tanah dan sebisa mungkin setiap cabang kayu dimanfaatkan baik oleh penebang ataupun oleh petani, mungkin untuk kandang ternak, pagar, ataupun bahan bakar. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan manfaat pohon tebangan sehingga limbah tebangan bisa ditekan sekecil mungkin. Tidak dibenarkan penebangan yang menghasilkan banyak limbah yang berserakan di lokasi, yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan oleh kita.

Setelah penebangan, diwajibkan juga untuk merapikan dan membersihkan lokasi tebangan, begitu juga jika ada camp di situ. Areal yang terbuka wajib direhabilitasi dengan melakukan penanaman kembali. Menyingkirkan kayu yang dapat menghalangi aliran sungai dan parit.

Dalam hal mengeluarkan kayu dari lokasi ke tumpukan sementara, hal positif yang ditemukan adalah kegiatan tersebut dilakukan oleh regu kerja PT.XIP secara manual, sehingga tidak terjadi kerusakan tanah. Pengangkutan kayu dilakukan oleh tenaga kerja dengan memanggul kayu ataupun menggunakan gerobak. Tidak seperti layaknya perusahaan yang besar seperti HPH yang menggunakan alat berat seperti Grader maupun excavator yang mengakibatkan banyaknya tanah terbuka sehingga rawan longsor dan erosi. Selain itu pula baru-baru ini sedang memperbaiki jalan dan jembatan yang ada di desa Tingkip.

baca juga:

Pelestarian Pohon Pulai dan Labu

Pemberdayaan Masyarakat

April 26, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , , , , , | 1 Komentar

PELESTARIAN POHON PULAI DAN LABU

Pada awal bulan Maret 2008 PT.XIP membagikan bibit pulai darat (pulai hitam) di desa Bumiagung sebanyak 2000 batang kepada 4 petani yaitu:
1. Muhamad (Bapak Kepala Desa)
2. Miskun
3. Marjuki
4. Marsal
Bersamaan dengan pembagian bibit tersebut, dibentuk pula kelompok tani dengan peserta yang sama. Untuk mencapai keberhasilan penanamannya di sela-sela kebun karet dan pekarangan, PT.XIP menyediakan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 1.000,- per batang. Keseluruhan biaya tersebut telah diserahkan kepada Kepala Desa Bumiagung untuk dibagikan kepada anggota kelompok tani.

Dijelaskan pula bahwa biaya pemeliharaan ini akan diberikan setiap setahun sekali selama 3 tahun berturut-turut. Diharapkan setelah pemeliharaan selama 3 tahun ini, tanaman pulai bisa tumbuh secara mandiri dan mampu bersaing dengan tanaman sekitarnya.
Pola pembentukan kelompok tani seperti ini akan terus dilanjutkan untuk menggantikan pola pembentukan kelompok tani yang terdahulu.

Melalui pengamatan yang cukup lama, ditemukan bahwa pola pertama memiliki tingkat efisiensi yang rendah, di mana biaya produksi lebih tinggi dan membutuhkan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 15 tahun, dimana memerlukan biaya pemeliharaan sebesar Rp.5.000,-/batang/tahun.

Sedangkan pola kedua, saat ini bagi perusahaan merupakan alternatif yang terbaik. Secara teoritis, setiap rotasi memerlukan waktu 5 tahun. Diharapkan mulai tahun keenam (tahun 2013) PT.XIP mampu memanen pohon pulai dengan diameter rata-rata 25 cm sebanyak 100.000 batang.

PT.XIP sangat berharap sekali peran serta dari masyarakat untuk ikut bergabung menjadi kelompok tani demi keberhasilan pelestarian pohon Pulai dan Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

baca juga:

Pentingnya Kelompok Tani

Pohon Pulai

Pohon Labu

Buletin OS Edisi XI April 2008.pdf (44 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d XI

April 26, 2008 Posted by | Musirawas, Spesies, XIP | , , , , , | 1 Komentar