Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

Kasus Tajuk Tanaman Pulai

Dari beberapa kunjungan ke lapangan di desa Tambahasri, petugas XIP menemukan beberapa kasus berkaitan dengan pemeliharaan Pulai yang ditanam di pinggiran kebun karet, dimana pulai tersebut tumbuh subur tetapi belum muncul trubusan atau cabang yang tumbuh ke atas (pulai subur tapi pendek)

Pertumbuhan pulai tidak ke atas (vertikal), melainkan tumbuh ke samping dengan membentuk tajuk yang cukup lebat.

Beberapa kali telah dilakukan upaya pemangkasan tajuk, dengan maksud untuk mempercepat tumbuhnya cabang ke atas sehingga tinggi tanaman akan bertambah.

Kondisi yang ada, pulai ditanam pada kebun yang baru diremajakan. Jarak antar tanaman pulai lebih dari cukup yaitu 5 meter. Tanaman selain pulai adalah karet dan sedikit gulma seperti alang-alang dan beberapa jenis rumput-rumputan.

Berdasarkan pengamatan awal di atas, pulai tumbuh dalam keadaan leluasa, ruang tumbuhnya termasuk lebar. Hal ini memberikan kesempatan bagi pulai mendapatlkan cahaya secara penuh sepanjang hari tanpa bersaing dengan tanaman lainnya, sehingga pulai tidak terpacu untuk tumbuh ke atas berlomba dengan tanaman pokok, yaitu karet.

Sering kita jumpai juga pohon pulai yang tumbuh di antara kebun karet dewasa berumur lebih dari 7 tahun, terlihat beberapa tajuk pohon pulai sedikit lebih tinggi dari tajuk pohon karet di sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa pulai termasuk tanaman yang suka mencari celah untuk mendapatkan cahaya matahari lebih banyak (gap opportunity)

Dengan sifat tanaman pulai seperti ini, mulai minggu ini kami akan melakukan suatu percobaan penanaman pulai dengan jarak yang lebih rapat untuk menguji pertumbuhan trubus, sesuai dengan sifatnya di atas.

Pengadaan Bibit Pulai melalui Stek

Kenalilah Pulai (Bagian I)

Kenalilah Pulai (Bagian II)

Kenalilah Pulai (Bagian III)

Tutorial Blur Impact oleh ilmugrafis.com

Portable GIMP for Windows

Portable INKSCAPE for Windows

HACKERGOTCHI by NICU

Iklan

Juli 5, 2008 Posted by | Silvikultur Pulai, Spesies | , , , , , | 2 Komentar

PELESTARIAN POHON PULAI DAN LABU

Pada awal bulan Maret 2008 PT.XIP membagikan bibit pulai darat (pulai hitam) di desa Bumiagung sebanyak 2000 batang kepada 4 petani yaitu:
1. Muhamad (Bapak Kepala Desa)
2. Miskun
3. Marjuki
4. Marsal
Bersamaan dengan pembagian bibit tersebut, dibentuk pula kelompok tani dengan peserta yang sama. Untuk mencapai keberhasilan penanamannya di sela-sela kebun karet dan pekarangan, PT.XIP menyediakan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 1.000,- per batang. Keseluruhan biaya tersebut telah diserahkan kepada Kepala Desa Bumiagung untuk dibagikan kepada anggota kelompok tani.

Dijelaskan pula bahwa biaya pemeliharaan ini akan diberikan setiap setahun sekali selama 3 tahun berturut-turut. Diharapkan setelah pemeliharaan selama 3 tahun ini, tanaman pulai bisa tumbuh secara mandiri dan mampu bersaing dengan tanaman sekitarnya.
Pola pembentukan kelompok tani seperti ini akan terus dilanjutkan untuk menggantikan pola pembentukan kelompok tani yang terdahulu.

Melalui pengamatan yang cukup lama, ditemukan bahwa pola pertama memiliki tingkat efisiensi yang rendah, di mana biaya produksi lebih tinggi dan membutuhkan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 15 tahun, dimana memerlukan biaya pemeliharaan sebesar Rp.5.000,-/batang/tahun.

Sedangkan pola kedua, saat ini bagi perusahaan merupakan alternatif yang terbaik. Secara teoritis, setiap rotasi memerlukan waktu 5 tahun. Diharapkan mulai tahun keenam (tahun 2013) PT.XIP mampu memanen pohon pulai dengan diameter rata-rata 25 cm sebanyak 100.000 batang.

PT.XIP sangat berharap sekali peran serta dari masyarakat untuk ikut bergabung menjadi kelompok tani demi keberhasilan pelestarian pohon Pulai dan Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

baca juga:

Pentingnya Kelompok Tani

Pohon Pulai

Pohon Labu

Buletin OS Edisi XI April 2008.pdf (44 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d XI

April 26, 2008 Posted by | Musirawas, Spesies, XIP | , , , , , | 1 Komentar

PENTINGNYA PENGUKURAN DIAMETER POHON

Setiap perusahaan yang bergerak di dalam pemanfaatan kayu, secara ekonomis pasti mempunyai limit (batas) terkecil diameter kayu yang ditebang. Tidak terkecuali bagi perusahaan pulp & paper (pembuatan kertas) memiliki hutan tanaman dimana pohon-pohonnya harus dibesarkan terlebih dahulu.

Perusahaan perlu mengetahui berapa lama suatu jenis pohon mampu tumbuh hingga mencapai diameter yang diinginkan. Dengan mengetahui umur masak tebang suatu jenis pohon, perusahaan mampu menetapkan kapan pohon tersebut ditebang, berapa banyak pohon yang boleh ditebang dalam suatu kawasan. Hal ini berkaitan dengan upaya pengaturan hasil hutan kayu secara berkesinambungan.

Pertumbuhan pohon sangat dipengaruhi oleh jenis dan dimana dia tumbuh. Jenis pohon berkaitan erat dengan faktor genetis atau disebut juga faktor keturunan. Walaupun beberapa pohon dengan jenis yang sama, tetapi berasal dari induk yang berlainan, pertumbuhan masing-masing pohon tersebut akan berlainan pula. Apalagi bagi pohon-pohon yang berlainan jenis (misal antara pohon pulai dan pohon labu atau bahkan dengan pohon Jati)

Pohon yang tumbuh di tempat yang berbeda akan menampakkan hasil berlainan. Kita juga mengetahui ada tipe tanah kering dan tipe tanah basah. Selain itu juga ditemukan banyak jenis tanah berlainan, dari segi warna, ada tanah hitam, merah bahkan kekuningkuningan. Ada juga tanah bertekstur halus, sedang dan kasar. Setiap jenis tanah ini mengandung unsur hara berlainan. Oleh karenanya bagi tanaman ditemukan pula tanah yang subur dan tanah yang tandus, atau sering disebut juga tanah marjinal (kurus) karena sangat sedikit mengandung unsur hara yang diperlukan bagi tanaman.

Bagaimana tanah tersebut diketahui ada yang subur dan ada pula yang kurus? Kata para ahli, setiap tanah berasal/ terbentuk dari bahan yang berbeda yaitu dari banyak jenis batu-batuan di masa lampau. Selain itu juga dipengaruhi oleh lamanya pelapukan batu-batuan menjadi tanah.

Faktor ketinggian permukaan tanah juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jenis tanaman di wilayah sekitar pantai pastilah berbeda dengan jenis tanaman di wilayah pegunungan.

Selain jenis tanah, faktor luar (eksternal) yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah iklim. Tanaman yang asalnya tumbuh di daerah iklim yang selalu dingin tidak akan tumbuh dengan baik atau bahkan mati jika ditanam di daerah tropis, begitu juga sebaliknya. Ditemukan berbagai macam jenis tanaman di daerah tropis, namun di daerah dingin seperti di daratan eropa tanaman pohon didominasi oleh tanaman berdaun mirip jarum seperti contohnya Pinus dan Cemara, sering disebut juga sebagai kelompok tanaman Kornifera.

Kembali kepada pengaturan hasil hutan secara lestari, pemerintah selalu menetapkan apa yang disebut dengan Jatah Tebang Tahunan (JTT) bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan hasil hutan kayu. JTT ini ditetapkan berdasarkan penilaian menyuluruh khususnya potensi kayu yang ada di dalam wilayah ijin yang diberikan pemerintah kepada perusahaan guna kelangsungan produksi dalam jangka waktu yang panjang.

Berkaitan dengan hal ini kegiatan pemanenan/ penebangan yang akan dilaksanakan tidak boleh melebihi besarnya tambah tumbuh suatu jenis pohon. Tambah tumbuh atau lebih dikenal dengan Riap diperoleh dari hasil pengukuran diameter dan tinggi suatu jenis pohon yang berada di dalam Plot/Petak Ukur Permanen (PUP).

Untuk kepentingan tersebut sejak tahun 2000 PT.XIP telah mengembangkan 150 buah PUP. Dikarenakan beberapa petani mengundurkan diri karena berbagai alasan seperti kebunnya dijual, dibongkar untuk ditanami dengan pohon karet peremajaan, nomor yang tertulis/tertempel pada pohon hilang dsb, sebagian besar PUP tersebut diganti dengan PUP yang baru.

Di tahun 2007 PT.XIP mengadakan kerjasama lagi dengan petani untuk membuat PUP. Sampai saat ini telah terbentuk PUP sebanyak 60 buah baik untuk jenis pohon Pulai maupun Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

yg terkait:

PENGADAAN Bibit Pulai Melalui STEK

Pohon Labu (Endospermum sp)

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) Jika INGIN MENCINTAINYA (Bagian I)

April 18, 2008 Posted by | Spesies | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PENGADAAN Bibit Pulai Melalui STEK

(Disusun oleh: Silvanus)

A. Pendahuluan
Jenis Pulai (Alstonia scholaris R.Br) sangat langkah ditemukan, sulitnya benih diperoleh menjadi salah satu kendala penanaman jika diusahakan secara besar-besaran. Beberapa penelitian menunjukan bahwa perbayakan jenis Pulai mudah dilakukan melalui pembiakan vegetatif. Hormon tumbuh endogen yang ada dalam bahan stek tersedia dalam jumlah yang cukup merangsang pembentukan tunas dan akar.
Pulai dapat mencapai tinggi total 50 m dengan tinggi bebas cabang sampai 30 m. Diameter sampai 60 cm, batang lurus dan beralur dangkal. Kayunya digunakan antara lain untuk perabotan rumah tangga, korek api, peti, dll. Selai kayunya pohon pulai juga dapat dimanfaatkan getahnya untuk bahan obat dan permen (Martawijaya, et.al. 1981)
Pembiakan sacara vgetatif dapat menghasilkan bibit homogen dengan jumlah dan waktu yang diinginkan dapat digunakan untuk menganalisa tempat tumbuhdan dapat dihasilkan dengan mutu genetic yang sama dengan induknya.

B. Pembangunan Kebun Pangkas
Pengadaan Tanaman Induk.
Sebagaimana hal nya benih, bahan stek juga harus memperhatikan beberapa factor yang mempengaruhi kualitas tegakan dimasa yang akan dating. Variasi dalam tegakan , misalnya variasi geografis, individu dalam tegakan serta veriasi dalam pohon memiliki kontribusi yang sangat besar. Kebun pangkas dapat menghasilkan hutan berproduktifitas tinggi perlu memiliki dua persyaratan, yaitu :
1.    Dibangun dari benih hasil persilangan terkendali antara tetua-teu yang telah teruji.
2.    Secara fisiologi masih dalam keadaan muda.
3.
C. Penanaman dan Pemeliharaan
Agar kebun pangkas dapat menghasilkan bahan stek yang baik, cukup, serta berkesinambungan perlu ditangani secara intensif melalui:
1.    Penyiangan
2.    Pemberantasan hama dan penyakit.
3.    Pelabelan, pemetaan, pecatatan perlakuan
4.    Pengendalian juvenilitas
5.    Manajemen pemupukan
Kegiatan-kegiatan ini sangat memudahkan dalam evaluasi bibit yang dihasilkan
serta kebenaran dan kejelasan asal usul sumber bahan stek. Pengendalian Juvenilisasi ditujukan  untuk mempertahankan kemudahan bahan stek sehingga pertumbuhan kayunya tetap tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemupukan dan pemangkasan.
Luas kebun pangkas tergantung pada luas penanaman yang direncanakan dan persentase keberhasilan perakaran stek. Jarak tanam yang rapat memerlukan penanganan yang lebih intesif.

D. Pruduksi Bahan Stek
Arsitektur Tanaman Pulai
Dalam pembangunan kebun pangkas, arsitektur tanaman perlu diketahui untuk menentukan jarak tanam, model pemangkasan dan dapat untuk memperkirakan produksi bahan steknya. (Lape dan Smith. 1972) mengatakan bahwa keberhasilan stek ditentukan oleh hubungan arsitektur bibit dengan sifat juvenilisasi bahan stek.
Menurut whitmore (1972) mengatakan bahwa pohon pulai muda umumnya memiliki tajuk onopodial dan setelah tua menjadi sympodial. Anakan pulai memiliki batang yang lurus dengan percabangan tipe terminalia. Percabangan akan menua kemudian tumbuh tunas axsilar menjadi batang utama.
Pemangkasan
Dengan memperhatikan arsitektur tanaman muda Pulai , pemangkasan dapat mempergunakan model reiterasiproleptis yaitu pemangkasan untuk merangsang pertumbuhan tunas othotrop yang terdapat pada cabang untuk menggantikan tajuk yang hilang.
Pemangkasan dapat dilakukan sejak tanaman berumur 6 bulan. Produksi bahan stek pada awal pemotongan (umur 6 bulan) , setiap tanaman induk menghasilkan 5 stek. Setelah itu tanaman indukakan menghasilkan tanaman baru rata-rata empat tunas.

E. Perakaran Stek
Bahan Stek
Bahan stek dapat berupa stek batang atau stek pucuk. Bahan stek yang baik adalah bahan yang sudah berkayu tetapi masih juvenile dan dalam keadaan dorma terutama bila menggunakan bahan stek pucuk.
Media Tumbuh
Media tumbuh stek Pulai dapat menggunakan media porus seperti media pasir atau sabut kelapa, tetapi dapat juga menggunakan media tanah yang ditempatkan pada polybag. Pada media pasir pasir dan sabut kelapa masih perlu ditambahkan pupuk NPK (2-3 gram/pollybag) selam masa pembibitan.
Hormon Tumbuh
Untuk mempercepat pembentukan akar stek Pulai dapat menggunakan hormone tumbuh seperti Rotone-F. Pemberian Rotoone-F dengan dosis 50mg/stek pada bahan stek batang bagian pangkal, ditanamn pada media sabut kelapa dapat menghasilkan persen stek bertunas 93,33%. Pemberian hormone perakaran pada stek Pulai tidak mutlak, karena kemungkinan hormone tumbuh endogen untuk perangsangan pembentukan tunas dan akar yang ada dalam bahan stek cukup tinggi sehingga tidak perlu diberikan dari luar. Tanpak pemberian hormone tumbuhpun stek Pulai dapat menumbuhkan tunas dan akar dengan cepat dan normal.
Tempat Pertumbuhan Stek Pulai
Dalam perakaran stek tempat pertumbuhan memiliki peran yang penting, terutama untuk mengoptiumumkan kondisi kelembaban,suhu,cahaya dan kecukupan air serta oksigen. Tempat pertumbuhan dapat menggunakan tempat pertumbuhan yang paling sederhanan seperti sukup plastic atau rumah pertumbuhan stek yang dilengkapin dengan system penyiraman dan pengaturan suhu dan kelembaban yang otomatis. Bahkan pada musim penghujan stek Pulai dapat ditanam langsung pada lokasi lahan yang subur yang digemburkan.
Penanaman
Stek Pulai yang telah berakar, yaitu sekitar berumur 2-3 bulan berada ditempat pertumbuhan akar, kemudian diaklimatisasi atau dikondisikan ditempat persemaian yang dinaungi sadding net dengan intensitas cahaya yang maksimal 50%. Biarkan ditempat ini minimal satu bulan. Setelah itu bibit pulai biakan vegetatif asal stek siap ditanam dilapangan. Penanaman pulai dilapangan dapat menggunakan sitem jalur maupun terbuka. Selain itu pada lubang tanam dapat ditambahkan pupuk NPK 10-20 gram/.lubang.

April 5, 2008 Posted by | Spesies | , , , | 7 Komentar

Pohon Labu (Endospermum sp)

Pohon Labu dengan nama ilmiah Endospermum termasuk famili EUPHORBIACEAE. Beberapa spesies pohon Labu di antaranya:

  1. Endospermum Benth.
  2. Endospermum formicarum Becc.
  3. Endospermum labios Schodde
  4. Endospremum malaccense
  5. Endospermum medullosum
  6. Endospermum diadenum
  7. Endospermum peltatum
  8. Endospermum moluccanum (Teijsm. & Binnend) Kurz.

Nama Inggris : Basswood, whitewood, white milkwood
Nama daerah : Sesendok, sendok-sendok, wakopak, kayu raja, pohon semut
Nama Indonesia : Kayu labu

Endospermum, terdiri dari 13 jenis, tersebar luas mulai dari Asaam (India), seluruh daratan Asia Tenggara dan Cina. Di kepulauan Malesia, jenis tumbuhan ini tumbuh di

  1. Semenanjung Malaysia,
  2. Sumatra,
  3. Borneo,
  4. Filipina,
  5. Sulawesi Utara,
  6. Maluku, dan
  7. New Guinea,

dan di:

  1. Fiji
  2. Queensland Utara


Pohon Labu bisa tumbuh setinggi 50 m, dengan diameter mencapai 150 cm, kulit halus berwarna putih keperakan. Terkadang akar berbanir (akar papan), mirip akar pohon besar yang ada di Kebun Raya Bogor tempat bersembunyi 2 sejoli 😀

Umumnya pohon Labu tumbuh pada daerah dataran rendah, dataran yang rata atau terkadang pada perbukitan, dengan kisaran ketinggian tempat dari permukaan laut hingga 1000-2000 m dpl.

Waktu masih muda, tajuk pohon berarsitektur pagoda tetapi setelah tua pola percabangan ini tidak terlihat lagi namun berbentuk kubah seperti kebanyakan pohon lainnya, dikarenakan jumlah daun dan cabang semakin bertambah. Lain halnya dengan pohon Ketapang (Terminalia catappa), dari muda hingga tua tajuk pagodanya masih kentara sekali.

Daun berbentuk bulat seperti sendok meski lebih lebar. Buah pohon labu kecil terdiri dari beberapa biji berkulit keras, sebesar ketumbar. Biji Endospermum diadenum yang viabel sulit diperoleh karena sering dimakan oleh serangga.

Sebaliknya di Filipina, Endospermum peltatum dapat dengan mudah diperbanyak melalui biji.

  1. Buahnya direndam dalam air selama 24 jam
  2. kemudian dikeringkan atau dijemur sinar matahari selama 2- 3 hari.
  3. Biji-biji tersebut kemudian dapat disimpan dalam kantong polyethylene dengan suhu 15.5?C.


Di Malaysia, penanaman biji-biji dengan tingkat keberhasilan perkecambahan yang tinggi (80%) dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan campuran pasir dan humus sebesar 1 : 3.
Biji-biji yang telah ditanam pada campuran media tanam tadi kemudian dilapisi tanah kembali setebal 2 cm dan ditutup oleh jerami rumput kering serta disiram secara berkala.
Biasanya biji-biji tersebut akan berkecambah setelah 24 hari.

Habitat :
Pohon Labu tumbuh di hutan primer dan sekunder. Tumbuhan ini sering berasosiasi dengan keberadaan sungai atau tempat yang tergenang air (waterlogged) atau bahkan pada hutan payau atau berawa (swamp forest).

Selain itu, juga ditemukan pada lokasi-lokasi dengan pengairan yang baik.
Umumnya Pohon labu tumbuh tersebar namun pernah dilaporkan bahwa spesies ini ditemukan tumbuh mendominasi atau hampir membentuk tegakan murni.

Kebanyakan spesies Endospermum, kecuali Endospermum diadenum, dikenal sebagai spesies oportunis (Gap Oportunis) yang mengkarakterisasi rumpang-rumpang di dalam hutan dan selanjutnya menjadi spesies yang umum mengisi area-area perladangan berpindah. Pohon labu juga tumbuh di sela tumbuhan karet tua milik rakyat.

Pohon labu sering dijumpai tumbuh berassosiasi dengan tipe spesies hutan payau atau rawa lainnya yaitu

  1. Campnosperma spp.
  2. Cratoxylum spp.
  3. Lophopetalum spp.
  4. Terminalia spp.


Manfaat :

  1. Kotak atau peti
  2. Sumpit
  3. Papan tulis
  4. Kerajinan tangan
  5. Pensil
  6. Penghasil bubur kertas dan produksi kertas (batangnya memiliki serat/fiber yang panjang)
  7. Beberapa jenis dari marga tumbuhan ini juga telah digunakan secara ekstensif untuk mereforestasi kawasan, khususnya di Semenanjung Malaysia dan Filipina, juga digunakan untuk mereklamasi lahan-lahan kritis.

Sumber: kehati.or.id dan beberapa lainnya hasil googling

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) Jika INGIN MENCINTAINYA (Bagian I)

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian II)

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian III)

Obat dari Pulai?

Hari Bumi dan Cara bikin Pensil

Maret 10, 2008 Posted by | Spesies | , , , , , | 3 Komentar

Obat dari Pulai?

Mosok sih mas…tanaman pulai bisa untuk obat alternatif…..?
O…yo…Kajian yang akan disajikan berikut adalah hasil pulai selain dari kayu tetapi berupa limbah hasil penebangan. Karena sebenarnya banyak sekali manfaat dari tumbuhan tersebut bagi kehidupan sehari-hari. Salah satunya sebagai sarana kesehatan atau pengobatan sementara dalam kondisi yang mendesak.

Namun demikian apabila pemanfaatan secara maksimal dengan pengestrakan yang baik, hasil dari obat tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Baik itu limbah yang berupa daun, kulit, akar, bahkan serbuknya

Maksud dari pemberitahuan ini adalah untuk memberikan pengertian bagi kita semua bahwa tumbuhan dari jenis Pulai yang tumbuh disekitar kita sangat bermanfaat bagi kita semua. Sedangkan tujuannya adalah agar kita tidak begitu saja membuang/membakar limbah bekas tebangan tanpa memanfaatkan terlebih dahulu fungsinya.

Kandungan Bahan Kimia
Kulit kayu mengandung alkaloida ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triperpen. Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol.

Fungsi
Kulit kayu dapat untuk mengatasi :
Demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis, tenakan darah tinggi, wasir, anemia, gangguan haid, rematik akut.
Daun dapat untuk mengatasi : Borok, bisul, perempuan setelah melahirkan (nifas), beri-beri dan payudara bengkak karena bendungan ASI.
Akar dapat untuk mengatasi : Sakit badan dan dada
Getah dapat untuk mengatasi : Mematangkan bisul, terkena duri, dan radang kulit

Contoh Pemakaian
Demam
Kulit batang pulai sebanyak 3 g dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin airnya disaring kemudian tambahkan 1 sendok makan madu lalu diaduk merata. Minum sekaligus. Kulit batang bagian dalam diremas-remas dengan daun kelinci (Caesalpinia crista Linn.) dan daun sembung, tambahkan sedikit air. Peras dan saring lalu diminum.

Malaria
Kulit batang pulai yang sudah digiling menjadi bubuk, diambil sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin kemudian disaring lalu diminum sekaligus. Lakukan setiap hari sampai sembuh. Selama minum obat ini, hindari makanan yang asam dan pedas. Bila penyakitnya berat, gunakan kulit pulai hitam.

Diare
Minumlah rebusan kulit batang pulai yang telah disaring.
Perut kembung, Limpa membesar
Kulit batang pulai 1/4 jari, daun kumis kucing dan daun poncosudo sebanyak 1/5 genggam, daun pegagan, dan daun meniran masing-masing 1/4 genggam, buah ketapang 1 buah, gula enau 3 jari. Semua bahan dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum. Setiap kali minum cukup 3/4 gelas.

Kencing Manis
Kulit batang pulai sebanyak 2 jari, dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa separonya. Setelah dingin disaring, minum 1/2 jam sebelum makan. Sehari 2 kali, masing-masing 3/4 gelas.

Memperkuat Lambung
Kulit batang pulai lapisan sebelah dalam diremas-remas dengan cuka, lalu minum.

Borok Bernanah
Daun pulai kering digiling menjadi serbuk. Taburkan pada borok bernanah setelah dibersihkan terlebih dahulu. Lakukan 2 kali sehari sampai sembuh.
Membangkitkan selera makan
Sebanyak 10 g bubuk dari kulit batang pula diseduh dengan air mendidih. Tambahkan air perasan 1 buah jeruk limau, 1 sendok makan madu dan sedikit garam, aduk rata. Setelah dingin diminum sekaligus.

Beri-beri
Ambil daun pulai yang masih muda sebanyak 16 lembar, masukkan ke dalam bambu, lalu direbus dengan air bersih. Air rebusannya diminum pada pagi hari. Lakukan setiap hari sampai sembuh.

Sakit Badan dan Dada
Gunakan akar pulai yang dikunyah dengan pinang. Balurkan ke bagian yang sakit.
Wanita Setelah Melahirkan (untuk membersihkan organ dalam)
Sediakan daun pulai dan rimpang jahe yang segar secukupnya, lalu cuci bersih. Buat menjadi jus atau ditumbuk sampai halus. Saring dan peras, airnya lalu diminum.
Kulit pulai dibersihkan, lalu tambahkan sepotong kunyit, sedikit jahe dan separo buah pala. Rebus dengan cuka encer pada periuk tanah yang tertutup rapat. Setelah mendidih diangkat. Minum selagi hangat.

Catatan

Di Nepal, serbuk kulit kayu pulai digunakan sebagai obat kontrasepsi, dan alkaloid akarnya dikatakan berkhasiat hipotensif dan antikanker.

Sumber: Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Dr. Setiawan Dalimartha)/Hadi

Februari 5, 2008 Posted by | Spesies | , , , | 3 Komentar

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian III)

TEKNIK SILVIKULTUR

Pulai (Alstonia sp) yang dikenal masyarakat sebagai kayu lame adalah tanaman yang tumbuh di daerah yang mempunyai jenis tanah liat atau berpasir atau daerah digenangi air. Namun demikian ada beberapa spesies yang juga sering terdapat di daerah lereng bukit berbatu. Penyebaran dari jenis ini terdapat di seluruh Indonesia. Tempat tumbuh Pulai pada daerah dengan ketinggian antara 0 sampai 1.000 m dpl bahkan lebih, pada hutan tropis dengan tipe curah hujan dari A sampai C.

Buah : Berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm. Buah tersebut berisi banyak benih.

Benih : Panjang dengan ukuran 4 – 5 mm, berwarna coklat, berbentuk pipih memanjang, terdapat dua ikat benang pada ujungnya dengan panjang antara 7 – 13 mm. Benih dari pohon alam dapat disebar oleh angin. Jumlah benih dalam 1 (satu) kilogramnya berkisar antara 37.000 – 87.000 butir.

Pulai (Alstonia sp) termasuk tumbuhan dengan jenis yang selalu hijau/tidak gugur daun. Di Australia tumbuhan ini berbunga pada bulan Oktober – Desember. Sedangkan di Sri Lanka, berbunga sampai dua periode setiap tahunnya yaitu pada bulan April – Juni dan bulan Oktober – Nopember. Musim panen di Sri Lanka pada bulan Pebruari. Di Laos berbunga pada akhir musim hujan dan benihnya dikumpulkan pada bulan Pebruari – Maret. Di Vietnam, berbunga bulan Agustus – September, dan berbuah pada bulan Januari – Pebruari.

Buah dipetik langsung dari pohon atau bisa juga dikumpulkan dari lantai hutan setelah dahannya digoyang.
Benih masak apabila buah telah berubah menjadi coklat, tetapi pengumpulan harus dilakukan sebelum buah merekah dan benihnya tersebar. Pengumpulan harus tepat waktu, karena periode buah masak hingga merekah hanya 2 (dua) minggu.

Bibit tanaman pulai diperoleh dari biji, ditanam melalui persemaian yang dilakukan dengan menyemaikan biji dalam bak kecambah langsung di bawah sinar matahari atau di bawah naungan. Biji diperoleh dari pohon yang telah berbuah, atau dapat dikatakan pada pohon yang telah tua. Lebih baik biji diambil dari pohon yang kondisi fisiknya besar dan baik atau dapat dikatakan sebagai pohon induk, agar hasil bibit yang diperoleh juga seperti induknya.

Di Indonesia, Pulai (Alstonia sp) biasanya berbunga dan berbuah antara bulan Mei sampai Agustus. Buah pulai berbiji sangat banyak. Rata – rata tiap kilogram biji kering berisi  500.000 butir. Biji yang telah dijemur dan disimpan dalam kaleng tertutup rapat dalam jangka waktu dua bulan masih mampu berkecambah sampai 80% – 90%.

Perlakuan Terhadap Benih

Pengolahan, penanganan buah dan benih.
Setelah buah masak dipanen, langkah selanjutnya dijemur sampai terbuka dan benihnya terlepas. Penjemuran ini biasanya memakan waktu sekitar satu minggu.
Apabila buah tersebut dipanen sebelum masak, maka perlu dilakukan pemeraman.

Benih yang ada di dalam buah ukurannya sangat kecil dan sangat mudah tertiup oleh angin selama waktu pengeringan. Untuk menghindari resiko ini dapat dikurangi dengan cara menutupkan jaring plastik selama penjemuran. Di beberapa tempat bulu benih dihilangkan, tetapi belum diketahui pengaruhnya terhadap penyimpanan dan viabilitas benih.

Fisiologi penyimpanan belum diketahui, tetapi benih ukuran kecil ini kenyataanya dapat dikeringkan yang menunjukkan bahwa benih tersebut ortodoks.
Benih segar mempunyai daya kecambah yang sangat tinggi, dengan persen tumbuh mendekati 100%.

Namun demikian benih ini cepat kehilangan viabilitasnya. Benih yang disimpan selama 2 bulan dalam suatu wadah yang kedap udara, dilaporkan dapat berkecambah sampai 90%. Tetapi belum diketahui apakah benih ini bisa bertahan pada suhu yang rendah.

Dormansi dan perlakuan pendahuluan
Benih segar tidak mengalami dormansi, sehingga tidak perlu adanya perlakuan pendahuluan. Kemungkinan adanya dormasi sekunder perlu penyelidikan lebih lanjut.

Tidak ada persyaratan khusus untuk penaburan, kecuali memerlukan sinar matahari penuh. Dengan sedikit ditutup setelah penaburan, penyinaran dan penyiraman yang teratur, benih mulai berkecambah setelah 12 hari dan berlanjut sampai 3 bulan.
Penyapihan bibit dilakukan setelah batas ngandi kayu yaitu pada umur 1 – 1.5 bulan setelah berkecambah.

Bibit sapihan tersebut ditanam pada kantung/polybag ukuran 10 X 15 cm yang berisi media tanam yang merupakan campuran dari tanah dan humus. Maksud dari campuran tanah dan humus adalah agar kondisi media tanam tersebut subur, sehingga prosen tumbuhnya tinggi.

Selain itu selama berada di polybag perlu adanya penambahan pupuk NPK dengan dosis tertentu agar media tersebut tingkat kesuburannya terjaga.
Bibit siap tanam berukuran tinggi 30 – 60 cm setelah berumur 4 – 6 bulan yaitu biasanya sekitar bulan Agustus – Oktober.

Selain bibit, stum yang berdiameter leher akarnya 6 mm juga dapat ditanam. Stum tersebut bisa diperoleh dengan pencabutan yang berasal dari anakan pohon yang berada di alam. Begitu pula sambungan/menyambung dapat dilakukan untuk jenis ini.

Di dalam kegiatan persiapan lahan, meliputi kegiatan yang berupa penataan areal tanaman; pembersihan lapangan; serta pengolahan lahan.

Untuk mempermudah didalam melakukan kegiatan penanaman dan pengawasan, maka sebaiknya areal tanaman dibagi ke dalam blok – blok dan petak. Pembagian blok maupun petak tersebut dilakukan secara fleksibel mengikuti keadaan/kondisi lapangan yang ada.

Pembersihan lahan dilakukan sebaiknya secara mekanik, dengan menghindari cara kimiawi. Apabila pembersihan dengan peralatan yang sederhana sudah cukup, tidak perlu mem pergunakan peralatan berat. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengurangi kerusakan terhadap tekstur dan struktur tanah di areal tersebut. Pohon pengganggu yang berdiameter kurang dari 10 cm tunggulnya sedapat mungkin dibongkar.

Pengolahan tanah disarankan dilakukan secara minimal (minimum tillage) dengan membuat cemplongan. Cemplongan–cemplongan yang dibuat untuk menanam bibit tersebut berbentuk persegi dengan ukuran tertentu. Cemplongan yang sudah dibuat tersebut kemudian diisi humus atau pupuk kandang untuk menambah kandungan unsur hara yang ada di dalamnya.

Penanaman dilaksanakan sekitar bulan Agustus sampai Oktober dengan asumsi pada saat musim hujan tiba diperkirakan akar tanaman sudah dapat tertancap kuat pada tanah, sehingga apabila dataran tergenang oleh air maka tanaman tidak akan hanyut oleh genangan air tersebut.

Penanaman dilaksanakan dengan menanam bibit dari persemaian dengan jarak tanam 3 X 3 m. Pada tempat yang sudah di ajir dibuat lubang tanam yang berukuran 45 cm X 30 cm, tanah digali dengan cangkul. Sedangkan untuk tanah yang berair cukup di ajir lalu ditanam dengan cara membenamkan bibit dari polybag.
Bibit yang siap ditanam di lapangan adalah setelah berumur 4 – 6 bulan dan mempunyai tinggi 30 – 60 cm.

Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman
Kegiatan penyulaman dilakukan pada tahun pertama menjelang musim hujan. Tanaman yang mati dan kerdil segera disulam dengan bibit dari persemaian.
b. Penyiangan
Penyiangan dilaksanakan minimal 2 kali dalam setahun. Penyiangan adalah membebaskan tanaman dari tanaman pengganggu lainnya untuk menghindarkan persaingan unsur hara, sinar matahari dan air.
c. Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk memper-tahankan ketersediaan hara dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman. Tanah-tanah gambut di daerah tropika pada umumnya kekurangan unsur mikro (Cu dan Zn) dan kandungan kation basa serta fosfor. Kekurangan Cu pada daun dapat menyebabkan terjadinya chlorosis mid crown sedangkan kekurangan Zn dapat mengakibatkan terjadinya peat yellow (kuning gambut) pada tajuk tanaman.

Pemeliharaan Tegakan
a. Pemangkasan (Prunning)
Pemangkasan cabang dilakukan untuk meningkatkan kualitas batang melalui peningkatan ukuran panjang batang bebas cabang. Pemangkasan dikerjakan pada waktu cabang-cabangnya garis tengah sekecil mungkin, untuk menghindarkan luka yang terlalu besar dan untuk mencegah timbulnya benjolan besar pada kayu. Prunning dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu pada umur 6 bulan, 1 tahun dan 2 tahun setelah ditanam di lapangan.
b. Penjarangan (Thinning)
Penjarangan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal, sehingga pertumbuhan pohon-pohon yang ditinggalkan dapat tumbuh secara optimal dengan kualitas dan kuantitas produksi kayu yang dihasilkan selama daur meningkat.
Penjarangan dilakukan dengan membuang pohon-pohon yang tertekan, jelek, terserang hama dan penyakit, atau batangnya bengkok, cabang banyak dan lain-lain yang mengganggu pohon tinggal. Penjarangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 5 tahun dan penjarangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 8 tahun.
c. Pencegahan Terhadap Hama dan Penyakit
Secara umum, tidak terdapat penyakit yang ada pada tanaman Pulai (Alstonia sp). Sedangkan hama yang biasa menyerang tanaman Pulai (Alstonia sp) adalah ulat pemakan daun. Hama tersebut dapat dicegah dengan cara mengembangkan predatornya, yaitu jenis serangga tertentu.

Sumber:

Istomo, C. Kusmana, Suwarno dan L. Santoso. 1997. Pengenalan Jenis Pohon Hutan Rawa Gambut. Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
Martawijaya, A., I. Kartasujana, Y. I. Mandang, S. A, Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid 11. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Dorthe Joker, DFSC, 2001. Informasi Singkat Benih ; Taksonomi Alstonia scholaris. Direktoran Pembenihan Tanaman Pangan. Bandung.
Y. I. Mandang, 2004. Anatomi Pepagan Pulai dan Beberapa Jenis Sekerabat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22. . Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.

sebelumnya, ke Bagian I

sebelumnya, ke bagian II

Hari Bumi dan Cara Bikin Pensil

Kasus Tajuk Tanaman Pulai

Februari 1, 2008 Posted by | Spesies | , , , , , , | 8 Komentar

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) ….. (Bagian II)

Pulai (Alstonia sp) memiliki sekitar 40 – 60 species yang tersebar di daratan tropika dan sub tropika Afrika, Amerika Tengah, Asia Bagian Selatan, Polynesia dan New South Wales, Quensland dan Australia Bagian Utara, serta beberapa species di daratan Malaisyia.
Klasifikasi dari Pulai (Alstonia sp) adalah sebagai berikut :

Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Family : Apocynaceae
Genus : Alstonia

Dari banyaknya jenis Pulai (Alstonia sp) yang berjumlah sekitar 40 – 60 tersebut diantaranya A. macrophylla, A. angustiloba, A. angustifolia, A. spatulata, A. elliptica, A. oblongifolia, A. pneumatophora, A. scholaris, A. costaca dan lain-lain.

Namun demikian hanya akan dijelaskan beberapa jenis saja karena keterbatasan data dan literatur yang diperoleh. Jenis atau species yang akan dijelaskan adalah Alstonia pneumatophora, Alstonia spatulata, dan Alstonia scholaris.

Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger
Nama daerah dari Alstonia pneumatophora secara umum adalah Pulai Putih. Untuk daerah di wilayah Sumatera biasanya disebut dengan Basung. Pulai dari jenis ini penyebarannya banyak dijumpai di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Alstonia spatulata Blume
Jenis dari tumbuhan ini memiliki nama padanan Alstonia cuneata Wallich ex G. Don., Alstonia cochinchinensis Piere ex Pitard. Secara umum nama daerah dari jenis ini adalah Lame Bodas. Sedangkan kalau di Sumatera namanya biasa disebut dengan Pulai Gabus. Penyebarannya di Sumatera, Bangka, Jawa Barat, dan Kalimantan.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.
Memiliki nama sinonim dengan Echites scholaris L., Echites pala Ham., Tabernaemontana alternitifolia Burn. Nama daerahnya secara umum adalah Pulai Gading. Tersebar luas di Asia Pasifik mulai India dan Sri Lanka sampai daratan Asia Tenggara dan China Selatan, seluruh Malaysia hingga Australia Utara dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia sendiri tersebar luas terutama Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat.

CIRI – CIRI TUMBUHAN

Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger

Ciri dari Pulai jenis ini adalah berupa pohon besar dengan diameter mencapai 100 cm bahkan bisa lebih, dan tingginya bisa mencapai 40-50 m.
Tumbuhan ini mempunyai banir serta berakar lutut, dengan batang bergalur , berwarna abu-abu sampai ke putih. Permukaan batang halus sampai bersisik, kulit bagian dalam sangat tebal dan halus, mempunyai warna orange sampai kecoklatan, granular, mempunyai getah yang sangat melimpah.

Daun yang dimiliki tumbuhan ini adalah tunggal dan tersusun secara vertikal di ujung ranting. Bentuk daun oval atau ellips (ellipticus), dengan pangkal agak lancip (cuneate), ujung bundar atau membusur (rounded), permukaan daun licin atau tidak berbulu (glabrous). Pertulangan daun sejajar, warna daun bagian bawah keputihan dengan ukuran 8 – 12 cm x 3 – 5 cm.

Bunga berwarna putih, berukuran kecil di terminal; buah capsule berpasangan, panjang sekitar 25 – 30 cm, permukaan buah licin sampai kasar (glabrous sampai pubescens).

Alstonia spatulata Blume

Ciri fisik tumbuhan dari jenis ini mempunyai ukuran kecil sampai dengan sedang dengan diameter bisa mencapai 75 cm dan tingginya sampai 20 – 30 m.
Batang dari jenis ini berbentuk silindris, beralur, berwarna abu-abu dan halus; kulit bagian dalam berwarna kuning pucat dengan getah putih yang melimpah.

Komposisi daun tunggal, tata daun vertikal, bentuk pada bagian ujung daun bundar atau membusur besar (rounded), sedangkan pangkal daun agak lancip (cuneate) yang berhenti pada ranting. Daun muda berwarna merah, dengan ukuran daun berukuran antara 4 – 6 cm x 7 – 10 cm. Permukaan daun glabrous (licin dan tak berbulu) dengan pertulangan daun menyirip sejajar.

Bunga berukuran kecil, berwarna putih, memiliki ukuran panjang sekitar antara 4 – 7 cm.
Buah seperti kapsul, kondisi berpasangan, dengan ukuran panjang antara 18 – 20 cm.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Ciri – ciri dari pohon ini memiliki tinggi bisa mencapai lebih dari 40 m. Batang pohon tua beralur sangat jelas, sayatan berwarna krem dan banyak mengeluarkan getah berwarna putih.

Daun tersusun melingkar berbentuk lonjong atau elip. Panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna krem atau hijau, pada percabangan, panjang runjung bunga lebih dar 120 cm.
Buah berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm, berisi banyak benih.

TEMPAT TUMBUH TANAMAN

Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger

Tumbuhan ini tersebar biasanya di hutan rawa gambut, dengan kondisi tanah berpasir dekat dengan pantai, hutan rawa, serta dekat dengan sungai besar.

Alstonia spatulata Blume

Pulai jenis ini tumbuh di daerah rawa atau tergenang air, di tepi aliran sungai, pada gley humus atau aluvial yang kaya pasir. Umumnya tumbuh dibawah 300 m dpl. Sering ditemukan pada hutan sekunder atau vegetasi semak belukar.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Toleran terhadap berbagai macam tanah dan habitat, dijumpai sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan sekunder. Banyak dijumpai di dataran rendah/pesisir dengan curah hujan tahunan 1000-3800 mm. Juga dijumpai pada ketinggian diatas 1000 m dpl. Salah satu sifat adalah dapat tumbuh di atas tanah dangkal. Tidak tumbuhya tanaman ini pada sebaran alami yang suhunya kurang dari 8ºC, yang menunjukkan jenis ini tidak tahan udara dingin.

MANFAAT / KEGUNAAN

Alstonia pneumatophora Back

Kayu komersial yang disebut dengan kayu pulai ini cocok untuk : Ukiran, pembuatan peti, kayu lapis. Sedangkan getahnya bisa digunakan sebagai obat penyakit kulit dan kulitnya sendiri mengandung alkaloid untuk obat.

Alstonia spatulata Blume

Manfaat dari kayu jenis Alstonia spatulata ini sama dengan jenis Alstonia pneumatophora yaitu untuk peti, papan tulis, kayu lapis, ukiran, pensil, dan perkakas rumah tangga.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Kayunya tidak awet, hanya memungkinkan untuk konstuksi ringan di dalam ruangan, atau untuk industri pulp dan kertas, serta digunakan terutama untuk papan tulis sekolah, sehingga dinamakan scholaris.

Selain itu, sebenarnya pohon Pulai ini banyak manfaatnya untuk pengobatan. Terutama dari kulit dan daunnya. Hal ini disebabkan karena banyak kandungan kimia dari kulit dan daun Pulai yang antara lain :

Kulit kayu : mengandung alkaloida ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triperpen.

Daun : mengandung pikrinin. Sedang-kan bunga Pulai mengandung asam ursolat dan lupeol.

Kulit kayu dapat untuk mengatasi:
Demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis, tenakan darah tinggi, wasir, anemia, gangguan haid, rematik akut.

Daun dapat untuk mengatasi:
Borok, bisul, perempuan setelah melahirkan (nifas), beri-beri dan payudara bengkak karena bendungan ASI.

Bersambung ke Bagian III

sebelumnya, ke Bagian I

Hari Bumi dan Cara Bikin Pensil

Februari 1, 2008 Posted by | Spesies | , , , , , | 7 Komentar

KENALI-lah Pulai (Alstonia sp) Jika INGIN MENCINTAINYA (Bagian I)

PT. XYLO INDAH PRATAMA adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan “slat pensil” dengan bahan dasar yang digunakan berupa kayu Pulai.

Pulai adalah tanaman yang tumbuh di daerah yang mempunyai jenis tanah liat atau berpasir atau digenangi air.

Beberapa spesies juga sering terdapat di daerah lereng bukit berbatu. Penyebaran dari jenis ini terdapat di Asia Pasifik mulai India dan Srilangka sampai daratan Asia Tenggara dan Cina Selatan, seluruh Malaysia hingga Australia Utara dan Kepulauan Solomon. Diintroduksi ke Amerika Utara sebagai tanaman hias. Pulai dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian antara 0 sampai 1.000 m dpl dalam hutan tropis dengan tipe curah hujan A sampai C.

Pulai yang bernama latin Alstonia sp, secara umum masyarakat mengenalinya dengan sebutan Pule atau Lame. Di mata orang yang bekerja pada pertukangan, kayu jenis ini kurang atau tidak diminati oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena Pule / Lame adalah kayu yang memiliki tingkat keawetan rendah dan kurang mempunyai nilai estetika/keindahan.

Sedangkan para petani utamanya petani karet (para), menganggap Pulai ini merupakan jenis tumbuhan yang sangat mengganggu tanaman. Oleh karena itu mereka beranggapan tumbuhan ini perlu ditebas dan dibuang karena mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.

Melihat adanya kondisi semacam itu maka PT. Xylo Indah Pratama mempunyai inisiatif untuk memberikan pengertian kepada masyarakat untuk lebih mengenal tentang Pulai. Pengertian yang dimaksud adalah tentang jenis, tempat tumbuh, teknik budidaya serta manfaat.

Selain itu khususnya bagi PT. Xylo Indah Pratama yang notabene membutuhkan bahan baku dari jenis ini (Pulai) yang semakin lama memiliki kecenderungan untuk selalu meningkat, maka perlu adanya upaya kelestariannya.

Maksud dari penulisan ini adalah agar kita mengetahui dan memahami apa itu pulai secara umum baik itu berupa jenis, budidayanya, dan kegunaan/manfaat dari kayu pulai itu.

Tujuannya adalah agar masyarakat terutama kami lebih mengenal dan mau berbuat untuk melestarikan lingkungan terutama untuk melestarikan tumbuhan jenis pulai ini, karena selain bisa meningkatkan taraf hidup baik bagi petani, pengusaha, maupun negara, juga berperan menjaga terhadap lingkungan dari bahaya erosi, longsor, habitat satwa dan lain-lain.

Bersambung ke Bagian II

Hari Bumi dan Cara Bikin Pensil

Februari 1, 2008 Posted by | Spesies | , , , , | 1 Komentar