Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

Demi terjaganya lingkungan sekitar XIP berupaya meningkatkan upaya pencegahan terjadinya pencemaran B3, bukan hanya di pabrik melainkan sampai pada tingkat petani.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun pasal 4 menyebutkan ”Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup.”

Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya;

B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. mudah meledak (explosive);
b. pengoksidasi (oxidizing);
c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
d. sangat mudah menyala (highly flammable);
e. mudah menyala (flammable);
f. amat sangat beracun (extremely toxic);
g. sangat beracun (highly toxic);
h. beracun (moderately toxic);
i. berbahaya (harmful);
j. korosif (corrosive);
k. bersifat iritasi (irritant);
l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
m. karsinogenik (carcinogenic);
n. teratogenik (teratogenic);
o. mutagenik (mutagenic).

Untuk di lingkungan pabrik XIP, jenis B3 yang wajib dikelola diantaranya yaitu bahan bakar solar/bensin dan oli. Pengelolaan B3 ini khususnya mengacu pada
1. UU No 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup
2. PP No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
Singkatnya, penggunaan/pemakaian bahan bakar minyak tanah/solar/bensin dan oli di lingkungan pabrik tidak diperbolehkan mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan (air, udara dan tanah). Ceceran/ tumpahan B3 harus diminimalkan sekecil mungkin (termasuk di lokasi kebun tebangan), dengan cara:
1. memiliki catatan penggunaan B3
2. memiliki tempat penyimpanan B3 yg layak (lokasi dan konstruksi)
3. setiap kemasan diberi simbol dan label
4. memiliki sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3
5. melaksanakan uji kesehatan secara berkala
6. menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur
7. mengganti kerugian akibat kecelakaan
8. memulihkan kondisi lingkungan hidup yang rusak dan tercemar

Di lingkungan kebun, B3 yang banyak ditemukan adalah jenis pestisida. Kadang-kadang kita masih menjumpai beberapa warga masih menyalahgunakan fungsi pestisida, salah satunya yaitu untuk menangkap ikan. Kebiasaan ini tentu melanggar hukum, karena nyata-nyata melakukan pencemaran dan perusakan lingkungan. Oleh karena itu XIP mewajibkan bagi anggota kelompok tani, suplayer dan karyawan untuk TIDAK menangkap ikan dengan cara-cara terlarang, sesuai dengan

Perda Kab. Musi Rawas No 11 tahun 2005 tentang Larangan Menangkap Ikan dengan Bahan dan Alat-alat Terlarang pasal 3 yang berbunyi:

Setiap orang atau badan dilarang melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan:
a. Bahan beracun dan sejenisnya
b. Bahan dan alat peledak
c. Alat yang menghasilkan atau mengandung arus listrik
d. Alat jaringan atau corong dan sejenisnya dengan ukuran minimal ½ In (setengah inchi)

XIP juga mewajibkan kepada karyawan, suplayer dan petani berkaitan dengan

PP No 13 tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru pasal 20 menyebutkan:

Perburuan tidak boleh dilakukan dengan cara :
a. menggunakan kendaraan bermotor atau pesawat terbang sebagai tempat berpijak
b. menggunakan bahan peledak dan atau granat;
c. menggunakan binatang pelacak;
d. menggunakan bahan kimia;
e. membakar tempat berburu;
f. menggunakan alat lain untuk menarik atau menggiring satwa buru secara massal;
g. menggunakan jerat/perangkap dan lubang perangkap;
h. menggunakan senjata api yang bukan untuk berburu

HATI HATI MEMAKAI PESTISIDA

DAFTAR PESTISIDA BERBAHAYA FSC

Juni 2, 2008 Posted by | Pestisida, XIP | , , | 6 Komentar

Budidaya Lebah Madu

Berkaitan dengan upaya pemberdayaan masyarakat XIP tengah mendalami kegiatan beternak lebah madu di :

Pusat Perlebahan Pramuka (Apiari Pramuka)
Komplek Wiladatika, Cibubur
Jakarta Timur 13720
Telp/Faks. : 021-8445104

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pembuatan kompos dan kertas daur ulang. Berdasarkan evaluasi internal kedua jenis pelatihan ini masih belum diterima oleh masyarakat dengan baik. Mudah-mudahan dengan hadirnya pelatihan ternak lebah madu, bisa memberikan hasil dan manfaat lebih baik lagi bagi masyarakat.

Perlengkapan ternak lebah madu skala kecil atau masa percobaan diantaranya yaitu:

  1. Kotak kosong unggul 1 buah
  2. Ekstraktor unggul 1 buah
  3. Smoker 1 buah
  4. Topi dan masker 1 buah
  5. Pengungkit dan pisau madu 1 buah
  6. Sikat lebah 1 buah
  7. Sarang pondasi unggul 10 lembar
  8. Bingkai sarang 10 buah
  9. Koloni lebah unggul 2 kotak

Munculnya ide ternak lebah madu diawali ketika XIP dan SmartWood melakukan monitoring penebangan di desa Beringinsakti, Kecamatan Rawasilir. Selepas keluar dari lokasi kami bertemu dengan petani yang menawarkan madu.

Dia menjelaskan bahwa madu yang berasal dari kebunnya tersebut dihasilkan dari lebah yang menghisap madu dari bunga tanaman dan pohon yang tumbuh di sekitar rawa-rawa.

Kita juga mengetahui bahwa madu yang dijual masyarakat disini kebanyakan berasal dari alam. Muncullah ide budidaya/ternak lebah madu.

Berdasarkan literatur, madu yang dikonsumsi secara teratur memiliki manfaat:

  1. meningkatkan daya tahan tubuh
  2. menyembuhkan darah tinggi dan darah rendah
  3. membuat enak tidur
  4. mengobati rematik
  5. memperlancar fungsi otak
  6. menyembuhkan luka bakar

Pemberdayaan Masyarakat

Mei 30, 2008 Posted by | XIP | , , | 43 Komentar

AUDIT TAHUNAN (2)

Pola pemanfaatan kayu rakyat yang dianut mengondisikan dan mewajibkan XIP untuk terus mengembangkan kelompok tani yang ada setiap tahunnya. Dengan terbentuknya kelompok tani kebun karet binaan PT.XIP, akan meningkatkan kualitas COC yang sedang dijalankan XIP sekaligus lebih menjamin pengaturan hasil hutan/kebunnya di masa yang akan datang. Sehingga pengamatan stok kayu bisa berjalan lebih baik lagi.

Di lain pihak, evaluasi yang baru saja dilakukan khususnya berkaitan dengan persyaratan keanggotaan kelompok tani di desa Sumberharta, ditemukan sekitar 50 % anggota bersedia melengkapi salah satu persyaratan administrasinya yaitu memberikan salinan surat kepemilikan lahan.

Berdasarkan keterangan Ketua Kelompok Tani Sumberharta Bapak Riyadi, sebagian besar anggota kelompok tani masih ragu untuk memberikan salinan/focopy surat kepemilikan lahan kepada XIP. Mereka khawatir dengan memberikan salinan tersebut lahan beserta isinya suatu saat akan diambil oleh XIP. Bapak Riyadi sudah berupaya menjelaskan sejelas-jelasnya, tapi anggota masih juga ragu.

XIP bisa memahami kekhawatiran anggota. Perlu dijelaskan bahwa tujuan XIP meminta salinan surat kepemilikan lahan ini adalah XIP hanya ingin memastikan bahwa pulai/labu yang didaftarkan oleh anggota memang benar-benar berada di lahan mereka atau tidak, itu saja. Seperti yang dijelaskan pada Prinsip FSC nomor 2 tentang HAK DAN TANGGUNG JAWAB PENGGUNAAN LAHAN SERTA KEPASTIAN KAWASAN bahwa XIP yang sedang menjalani program sertifikasi wajib menjamin kepastian lahan yang dikelola, termasuk lahan kelompok tani, dengan cara menunjukkan salinan surat kepemilikan lahan yang sah.

Perlu kita pahami pula bahwa, salinan/fotocopy surat kepemilikan lahan tidak bisa digunakan oleh siapapun untuk mengakui lahan yang tercantum dalam surat tersebut. Jadi tidak mungkin XIP akan secara otomatis menyerobot lahan petani, hanya karena diberi salinan/fotocopy surat kepemilikan lahan.

Seperti yang tercantum di dalam Surat Pendaftaran Anggota Kelompok Tani, dijelaskan bahwa keanggotaan bersifat sukarela. Dan dijelaskan pula bahwa petani yang mendaftar menjadi anggota kelompok tani binaan XIP, wajib melengkapi persyaratan dan mentaati kewajiban-kewajiban yang ada. Artinya, anggota yang tidak memenuhi persyaratan dan tidak mentaati kewajiban dianggap mengundurkan diri.

Mudah-mudahan uraian ini bisa dipahami, dan dalam waktu dekat petugas XIP akan mengajak diskusi secara langsung dengan anggota kelompok tani.

Audit Tahunan 2008 (1)

Pentingnya Kelompok Tani bagi PT.XIP

FSC STD 01 001 V4 0 EN FSC Principles and Criteria.pdf

Uraian singkat 10 Prinsip dan Kriteria FSC

Mei 30, 2008 Posted by | XIP | , | 1 Komentar

AUDIT TAHUNAN 2008 (1)

Secara umum setiap audit tahunan SmartWood selalu memeriksa dan menilai kinerja perusahaan dalam hal upayanya mentaati 10 Prinsip dan Kriteria FSC

Audit kali ini SmartWood memeriksa banyak hal terutama mengenai perbaikan Rencana Pengelolaan (Management Plan) XIP, sejauh mana Rencana Pengelolaan tersebut menggambarkan aksi pengelolaan pulai dan labu masyarakat hingga realisasinya di lapangan dengan baik, dari tingkat petani, kebun hingga kayu diproses menjadi slat pensil.

PENEBANGAN BERDAMPAK MINIMAL (REDUCED IMPACT LOGGING)

Kemudian hal utama lainnya adalah pengembangan tata cara/prosedur penebangan berdampak minimal. Sampai saat ini realisasi metode penebangan ini memang belum terlaksanakan 100%. Di beberapa lokasi XIP berhasil menekan limbah tebangan, dan beberapa tempat lainnya masih ditemukan sisa tebangan yang seharusnya bisa dimanfaatkan, terlebih untuk lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk (desa)

Semperan/ sisa potongan kayu tidak bisa dikeluarkan dari lokasi tebangan untuk dibawa ke pabrik. Hal ini dikarenakan biaya pengangkutan semperan tersebut sangat tinggi, tidak ekonomis, sehingga semperan lama kelamaan membusuk di tempat.

Lain halnya dengan lokasi tebangan yang berdekatan dengan desa. Tanpa dibawa ke luar, semperan masih mudah diangkut dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan tambahan kayu bakar, kandang ternak, pagar rumah dan lain-lain.

Penekanan jumlah semperan yang tertinggal di lokasi tebangan menjadi topik pembicaraan hangat di XIP. Setelah melalui diskusi berkali-kali ditemukan titik terang, solusi sementara :

  1. Membawa mesin portabel ke lokasi tebangan untuk memproses kembali semperan menjadi slat pensil. Kendala yang dihadapi adalah seberapa besar investasi yang bakal ditanamkan dan seberapa besar hasil yang diperoleh. Mengingat mesin portabel pun memerlukan sumber listrik seperti genset. Belum lagi perangkat pendukung lainnya, pengasah gergaji, bengkel dll.
  2. Mengangkut semperan dan membawanya langsung ke pabrik. Kendala yang dihadapi yaitu biaya pengangkutannya pun ternyata sama besarnya dengan biaya mengangkut log atau pun balok kaleng. Salah satu pertimbangan pekerja adalah tingkat kesulitan membawa semperan cukup tinggi, bentuk semperan yang ada sangat beragam, sedangkan jarak yang ditempuh sama jauhnya dengan membawa log atau balok kaleng.
  3. Mengeluarkan semperan dari lokasi tebangan ke desa terdekat dan menghibahkannya kepada masyarakat guna keperluan tambahan kayu bakar dan keperluan bahan bangunan lainnya. Di antara kemungkinan di atas, alternatif ini merupakan langkah terbaik sebagai upaya memperkecil limbah tebangan di lokasi.

Pelajaran ini sangat bermanfaat khususnya bagi XIP, apabila suatu saat XIP mengelola sumber kayu yang berada jauh dari desa atau juga aksesibilitas yang rendah, sebelum penebangan petugas XIP sangat perlu mensosialisasikan pola kerja di atas, bagi operator chainsaw sangat penting mempraktekkan cara pemotongan kayu seefisien mungkin untuk memperkecil limbah tebangan.

Dalam hal ini pesan penting yang bisa kita tangkap, pemerintah dan lembaga internasional pemberi sertifikat seperti FSC, mewajibkan kepada perusahaan untuk tidak bersikap boros dengan menyia-nyiakan semperan, menghargai kayu yang kita tebang dimana kayu ini berasal dari pohon yang hidup sejak puluhan tahun yang lalu dan kita pun tidak ingat, banyak jasa dan manfaat yang diberikan oleh pohon tersebut bagi lingkungan dan masyarakat.

Selain itu pula secara umum dalam hal melaksanakan kegiatan penebangan seluruh perusahaan wajib memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Pemerintah dan FSC melarang penebangan yang bisa mengakibatkan kerugian dan kerusakan terhadap alam sekitar, merugikan bagi masyarakat dan pekerja, serta penebangan yang tidak memperhatikan kelestarian hasil dimana penebangan melebih stok/jatah yang ditetapkan, melebihi tingkat pertumbuhan pohon/tegakan tersebut.

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SmartWood juga memeriksa pengembangan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja XIP dan juga penerapannya di lapangan. K3 merupakan elemen sangat penting yang harus dijalankan oleh semua perusahaan. Prosedur atau juga dikenal sebagai SOP mengenai K3 telah disusun dan dikembangkan oleh XIP. Samapai ini pun penerapannya juga masih belum sempurna 100%. Kami menyadari bahwa melakukan suatu perubahan perilaku/ budaya kerja dari tingkat petani, suplayer hingga karyawan memerlukan waktu yang panjang, tidak secepat membalikkan tangan. Kewajiban perusahaan adalah menyediakan peraturan kerja/prosedur menyangkut K3, mensosialisasikannya, menyediakan Alat Pelindung Diri (APD), monitoring dan evaluasi, dokumentasi. Dengan adanya Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang baik diharapkan mampu menurunkan angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas di lingkungan kerja.

Audit Tahunan 2008 (2)

Pedoman dan Perspektif Rencana Pengelolaan (pdf. 173 Kb)

Buletin OS Edisi XII (pdf. 52 Kb)

Buletin OS Edisi I s/d XII

Pedoman RIL Indonesia 1 s/d 5

Mei 30, 2008 Posted by | XIP | , , , , | 1 Komentar

Perjalanan Ke Desa Tri Anggun Jaya

Pada hari Jumat tanggal 18 April kami berempat melakukan tugas ke Desa Tri Anggun Jaya SP 5. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan sepeda motor, kondisi jalan yang berlumpur, berbatu agak menghambat perjalanan kami. Dengan kondisi badan yang kotor akibat Lumpur yang mengenai badan kami akhirnya kami sampai di desa tujuan kami, tempat yang pertama kami tuju adalah rumah kepala desa.
Sambil melepas lelah dan melakukan makan siang kami berbincang dengan kepala desa dan beberapa petani yang kami jumpai dimana kami menyampaikan maksud dan tujuan kami datang, dimana kami akan melakukan pengukuran batang pohon pulai dan labu yang masuk dalam kelompok tani serta melakukan pembayaran kompensasi.
Setelah merasa badan sudah cukup istirahat kami melakukan tugas dengan melakukan pengecekan ke kebun dan mengamati pertumbuhan diameter dan tinggi pohon yang terdaftar dalam kelompok tani,ada beberapa petani yang bersedia menemani kami melakukan tugas tersebut terutama yang punya kebun.
Sambil melakukan pengamatan kami melakukan sosilisasi akan penebangan berdampak minimal (Reduced Impact Logging) dimana diantaranya program K3 (Keselamatan dan kesehatan Kerja) penebangan melalui penggunaan alat pengaman mulai dari sepatu sampai penggunaan helm dan pemanfaatan sisa tebangan.
Pertanyaan yang sering kami temui selama kami kerja dari para petani adalah keinginan mereka melakukan penebangan seluruh batang pulai dan labu yang terdapat dalam kebun mereka agar bertujuan memperoleh keuntungan duit saat ini.
Namun hal itu kami jawab dengan guyon bahwa penebangan dilakukan sesuai jadwal tebang yang telah dibuat agar pengaturan kesediaan bahan baku untuk PT Xylo Indah Pratama dapat berjalan terus secara kontinyu dan fungsi tanaman dapat berjalan. Akhirnya petani dapat mengerti juga dengan penjelasan kami. Menjelang sore kami pulang dan berjanji pada esok hari akan ketemu lagi.
Selama tiga hari kami menjalan tugas ini, perjalanan yang menempuh jalan yang berlumpur dan berlubang kami lalui dengan senang, akhirnya tugas kami selesai juga. Rasa cape kami hilang seiring dengan tingginya minat petani akan kelompok ini dimana hal ini dapat terlihat dari tidak adanya batang pohon pulai dan labu yang ditebang di luar jadwal tebang oleh petani, keinginan menambah jumlah tegakan yang terdapat dari lahan kebun karet para petani, serta pertemuan kami dengan kepala desa SP 6 Desa Tri anggun Jaya yang menginginkan didesanya dibentuk kelompok tani pulai dan labu..
Kami membayangkan betapa indahnya apabila pasokan bahan baku yang masuk ke PT Xylo Indah Pratama adalah kayu yang berasal dari kelompok tani dan sesuai dengan pembuatan jadwal tebang, maka ketersedian bahan baku akan terus berjalan seiring dengan penanaman yang dilakukan setelah penebangan yang dapat mengganti fungsi tanaman yang telah ditebang. Dan dapat disusun lagi jadwal tebang baru yang dapat berlangsung terus menerus.
Untuk diketahui Di desa Tri Anggun Jaya terdapat 18 petani dalam satu kelompok yang semuanya memiliki tegakan pohon pulai dan labu pada kebun karet .
Akhirnya selesai juga tugas kami, kami pun kembali berpamitan kepada kepala desa dan beberapa petani yang menyertai kami selama melakukan tugas. Sebelum kami pergi kami berpesan bahwa kami akan kembali lagi untuk melakukan penebangan pada tegakan yang telah masuk jadwal tebang tahun 2008.

Penyusun : Silvanus S.Hut.

April 26, 2008 Posted by | XIP | , , , , | 1 Komentar

PELESTARIAN POHON PULAI DAN LABU

Pada awal bulan Maret 2008 PT.XIP membagikan bibit pulai darat (pulai hitam) di desa Bumiagung sebanyak 2000 batang kepada 4 petani yaitu:
1. Muhamad (Bapak Kepala Desa)
2. Miskun
3. Marjuki
4. Marsal
Bersamaan dengan pembagian bibit tersebut, dibentuk pula kelompok tani dengan peserta yang sama. Untuk mencapai keberhasilan penanamannya di sela-sela kebun karet dan pekarangan, PT.XIP menyediakan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 1.000,- per batang. Keseluruhan biaya tersebut telah diserahkan kepada Kepala Desa Bumiagung untuk dibagikan kepada anggota kelompok tani.

Dijelaskan pula bahwa biaya pemeliharaan ini akan diberikan setiap setahun sekali selama 3 tahun berturut-turut. Diharapkan setelah pemeliharaan selama 3 tahun ini, tanaman pulai bisa tumbuh secara mandiri dan mampu bersaing dengan tanaman sekitarnya.
Pola pembentukan kelompok tani seperti ini akan terus dilanjutkan untuk menggantikan pola pembentukan kelompok tani yang terdahulu.

Melalui pengamatan yang cukup lama, ditemukan bahwa pola pertama memiliki tingkat efisiensi yang rendah, di mana biaya produksi lebih tinggi dan membutuhkan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 15 tahun, dimana memerlukan biaya pemeliharaan sebesar Rp.5.000,-/batang/tahun.

Sedangkan pola kedua, saat ini bagi perusahaan merupakan alternatif yang terbaik. Secara teoritis, setiap rotasi memerlukan waktu 5 tahun. Diharapkan mulai tahun keenam (tahun 2013) PT.XIP mampu memanen pohon pulai dengan diameter rata-rata 25 cm sebanyak 100.000 batang.

PT.XIP sangat berharap sekali peran serta dari masyarakat untuk ikut bergabung menjadi kelompok tani demi keberhasilan pelestarian pohon Pulai dan Labu di wilayah Kabupaten Musi Rawas.

baca juga:

Pentingnya Kelompok Tani

Pohon Pulai

Pohon Labu

Buletin OS Edisi XI April 2008.pdf (44 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d XI

April 26, 2008 Posted by | Musirawas, Spesies, XIP | , , , , , | 1 Komentar

PENTINGNYA KELOMPOK TANI BAGI PT.XIP

Sebagai Group Manager, PT.XIP tengah berupaya mengembangkan kelompok tani yang bakal mensuplai kayu secara terus menerus dan berkesinambungan. PT.XIP lebih tepat dikategorikan sebagai Group Manager karena didasarkan atas sistem pemanfaatan kayunya, yaitu kayu jenis Pulai dan Labu sebagai bahan baku berasal dari petani melalui banyak suplayer. Berbeda halnya sistem yang dipakai oleh HPH atau HTI, mereka memiliki ijin untuk mengelola suatu kawasan hutan, oleh karenanya HPH dan HTI lebih tepat dikategorikan sebagai Pengelola Hutan (Forest Manager).Berkaitan dengan hal ini, PT.XIP sangat penting membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan suplayer dan petani demi kelangsungan produksinya.

Dari beberapa obrolan bersama suplayer, ditemukan beberapa kendala dalam hal kelancaran (konsistensi) suplai kayu ke PT.XIP. Tidak seluruh suplayer bisa mensuplai kayu secara teratur ke PT.XIP setiap bulannya. Hal ini banyak faktor yang mempengaruhi, seperti modal dan jarak asal kayu ke pabrik. Selain itu pula musim hujan juga dapat memperlambat proses pengangkutan di mana banyak jalan desa di berbagai daerah masih belum diaspal. Pengangkutan pun terpaksa tertunda 1 atau beberapa hari sampai jalan yang berlumpur kering dan bisa dilewati oleh mobil angkutan.

Seperti yang telah ditekankan oleh SmartWood, PT.XIP wajib membentuk kelompok tani. Hal ini erat kaitannya dengan jaminan pasokan kayu di masa yang akan datang. Dengan terbentuknya kelompok tani pemelihara pulai dan labu, PT.XIP mampu mengatur jadwal tebang masing-masing pohon yang dimiliki oleh petani tersebut.

Logikanya, semakin banyak kelompok tani yang terbentuk, semakin banyak pula pohon yang telah dijadwal untuk ditebang setiap tahunnya. Pengaturan tebangan yang disarankan adalah sepanjang 15 tahun. Dimana berdasarkan pengamatan diketahui bahwa umur masak tebang terlama untuk jenis kayu pulai dan labu adalah 15 tahun. Tentunya setelah penebangan petani wajib menanam pohon minimal sebanyak yang telah ditebang, dimana PT.XIP telah menyiapkan secara cuma-cuma bibit pulai dan labu bagi petani tersebut.

Mengingat pasokan kayu oleh petani ke PT.XIP melalui perantara yaitu suplayer, PT.XIP sangat perlu lebih meningkatkan posisi dan peran suplayer untuk mengembangkan kelompok tani yang dimaksud. Dengan keterlibatannya secara aktif, suplayer pun bisa memasok kayu lebih konsisten dan teratur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selama ini SmartWood menilai bahwa penanaman masih banyak terbebankan pada petani. Suplayer lebih banyak membeli dan memanen kayu daripada menanam. Seharusnya suplayer pun bisa bekerjasama dengan petani setelah kayu dipanen, petani dan suplayer bersama-sama menanam pulai dan labu di lokasi yang sama.

Diharapkan beberapa tahun yang akan datang suplayer bisa memanen kembali kayu pulai/labu yang pernah ditanam bersama petani beberapa waktu yang lalu (sistem rotasi). Disinilah inti atau maksud dan tujuan dari pembentukan kelompok tani yang diwajibkan oleh SmartWood kepada PT.XIP, yaitu meningkatnya kepastian bahan baku yang berkesinambungan.

Dengan terbentuknya kelompok tani, bagi PT.XIP pengorganisasian setiap kegiatan, seperti misalnya sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Cara penebangan berdampak minimal, upaya pengelolaan lingkungan, perbaikan jalan, penerapan lacak balak (Chain of Custody), survey potensi, analisa vegetasi, penyusunan rencana kerja tahunan, pengajuan pembelian kayu setiap bulan dan seterusnya, akan lebih mudah terencana dan terealisasi. Dan seharusnya bagi suplayer keuntungan yang diperoleh terutama, pemasokan kayu bisa lebih teratur setiap tahunnya dan beberapa tahun (5 atau 10 tahun) yang telah dirancang bersama PT.XIP, dan dengan harga tawar yang lebih baik. Petani karet pun bisa memperoleh hasil sampingan dari tanaman pulai atau labunya secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.

Khususnya di bidang pengadaan bahan baku, masih nampak terbelenggu oleh pemikiran adanya kendala keterbatasan staf, atau personel. Apabila ditilik lebih jauh lagi, seluruh kayu yang masuk adalah berasal dari petani melalui suplayer. Suplayer inilah yang menjadi anak buah karena benar-benar langsung dibawah kendali divisi pengadaan bahan baku. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, PT.XIP sangat perlu meningkatkan peranan suplayer mengingat fungsinya amat penting yaitu sebagai ujung tombak bagi perusahaan.

SmartWood menekankankan bahwa dalam upaya pengadaan bahan baku, perusahaan tidak hanya sebatas membeli bahan baku. Tanggung jawab mereka sebenarnya lebih dari itu.

  • Bagaimana perusahaan menjamin pasokan kayu dalam jangka pendek dan jangka panjang?
  • apakah penebangannya merusak lingkungan?
  • apakah penebangan cukup aman bagi para penebang?
  • bagaimana perusahaan melindungi kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan lindung dan konservasi?
  • bagaimana dampak sosial yang diakibatkan oleh penebangan?
  • bagaimana perusahaan merawat jalan dan cara mencegah erosi akibat penebangan?
  • bagaimana dampak ekonomi bagi suplayer, regu penebang hingga ke petani akibat operasi penebangan yang dilakukan?
  • berapa besar biaya yang diperlukan untuk kegiatan itu semua? dan seterusnya.

Pengadaan bahan baku melingkupi apa yang disebut sebagai Forest Management (pengelolaan hutan).

Kegiatan-kegiatan yang ada di dalam program sertifikasi (baik dalam maupun luar negeri) bukanlah suatu barang baru bagi setiap perusahaan. Jauh sebelum adanya sertifikasi pemerintah telah banyak mengeluarkan peraturan perundangan dan pedoman-pedoman yang berkaitan dengan bidang usaha suatu perusahaan. Contohnya, masalah K3 baik itu lokasi penebangan maupun di pabrik, berbagai Undang-undang, SK Menteri dll telah diterbitkan dan wajib dilaksanakan oleh perusahaan. Dan sertifikasi itu sendiri dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan resmi oleh suatu lembaga independen (internasional ataupun nasional) bahwa perusahaan mendukung sistem pengelolaan hutan dengan baik dan bertanggung jawab dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah dan perjanjian internasional.

Inti permasalahannya yaitu, komitmen. Dengan kemauan yang sungguh-sungguh oleh berbagai tingkat pimpinan hingga ke petani, seluruh kewajiban yang disebutkan diatas pasti terlaksanakan dengan baik. Demikian dan semoga bermanfaat dan CMIIW

yang terkait:

KELOMPOK TANI

Forest Stewardship Council

Buletin OS Edisi X April 08.pdf (60 kb)

Donlot Buletin OS Edisi I s/d X

April 20, 2008 Posted by | XIP | , , , , , | Tinggalkan komentar

Jadwal Audit

Pertama- tama kami mohon maaf sudah sebulan buletin tidak terbit. Hal ini disebabkan kesibukan tim redaksi mempersiapkan Audit tahunan yang diselenggarakan bulan maret dan Mei 2008.

Seperti yang telah diketahui pada tahun 2007 PT.XIP berhasil memperoleh 2 sertifikat FSC, yaitu sertifikat FM (Forest Management) dan sertifikat COC (Chain of Custody).

Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya audit kedua jenis sertifikat di atas dilaksanakan bersamaan, yaitu kurang lebih 10 hari. Sebagai auditor sertifikasi, SmartWood, setelah memberitahukan kepada publik, auditor langsung melakukan penilaian PT.XIP di pabrik dan beberapa lokasi desa yang dituju.

Karena jadwal audit SmartWood saat ini lagi padat, audit sertifikasi untuk PT.XIP terpaksa dilakukan dua kali yaitu bulan maret dan awal bulan Mei. Oleh karena itu tim redaksi sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya dan mohon bisa dimaklumi.

Seperti yang kami rencanakan sebelumnya, kembali edisi ini akan mengulas sedikit mengenai pelaksanaan pelatihan pembuatan kertas daur ulang dan pembuatan kompos.

Pada minggu yang lalu kami telah menyampaikan surat permohonan sosialisasi kegiatan tersebut kepada Kepala Desa Selangit. Karangpanggung Terawas dan Sadarkarya.

Pelatihan telah dilaksanakan di Desa Sadarkarya yang dihadiri oleh beberapa anggota kelompok tani, sedangkan di desa lainnya belum ada konfirmasi dari Kepala Desa masing-masing, mungkin dikarenakan banyaknya kegiatan yang harus dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.

Khususnya bagi warga Sadarkarya mereka sudah lama membuat kompos secara mandiri, hanya saja tidak secara intensif.

Warga merasa agak keberatan apabila pembuatan kompos dilakukan secara berkelompok. Hal ini dirasa menyita waktu, mengingat waktu yang dimiliki cukup sempit. Umumnya petani karet, mereka mengurus kebun dari pagi hingga sore hari.

Menyangkut pelatihan pembuatan kertas daur ulang, sementara ini disimpulkan bahwa masyarakat belum begitu berminat untuk mengembangkannya, disamping kendala keterbatasan waktu yang ada.

Berdasarkan sedikit pengalaman ini, kami menyadari masih perlu banyak belajar untuk menciptakan program yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, kami juga perlu meneliti lebih dalam lagi tentang bagaimana caranya kedua program ini bisa menarik bagi masyarakat.

Buletin OS IX

Download Buletin OS I s/d VIII

Proses Perijinan Sosialisasi

Maret 26, 2008 Posted by | Sertifikasi, XIP | , , , | Tinggalkan komentar

PROSES PERIJINAN SOSIALISASI

Permohonan ijin sosialisasi cara pembuatan kompos dan kertas daur ulang telah disampaikan kepada Kepala Desa Selangit, Terawas, Karang Panggung dan Sadar Karya. Surat ini ditembuskan kepada Kepala Kecamatan masing-masing, Kepala Balai TNKS, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas.

Biasanya setiap kegiatan surat hanya ditujukan kepada Kepala Desa setempat saja. Belajar dari Saran dan Kritik yang disampaikan oleh Pemerintah Daerah melalui konsultasi publik yang baru saja dijalankan, Kami pun membiasakan diri berkoordinasi dengan pemerintah terkait dengan selalu memberikan tembusan untuk setiap kegiatan.

Sekali lagi Kami ingin menyampaikan bahwa tujuan jangka pendek dari sosialisasi ini adalah untuk mengajak masyarakat memproses limbah rumah tangga menjadi lebih bermanfaat serta meningkatkan kesadaran untuk lebih mencintai lingkungan.

Dan harapan Kami, menjadikan suatu langkah awal untuk menciptakan ide-ide lain yang lebih baru lagi dan cocok/ bermanfaat bagi masyarakat, baik untuk petani maupun pemuda karang taruna . Secara perlahan dapat mengurangi potensi illegal logging yang terjadi di kawasan konservasi maupun kawasan yang dilindungi.

Manfaat yang sangat berharga yang Kami peroleh salah satunya adalah respon positif dari Balai TNKS Kab. Musi Rawas.

Setelah menerima surat tembusan dari PT.XIP, Bapak Zaenudin dari pihak Balai TNKS Kab. Musi Rawas memberikan saran agar pelatihan sebaiknya dilaksanakan di Desa Karang Panggung Kec. Selangit. Menurut beliau di desa tersebut ada kelompok tani/pemberdayaan masyarakat yang telah terbentuk. Mereka sudah terbiasa menjaga lingkungan seperti menanam pohon-pohonan di tepi sungai, mengumpulkan bibit cabutan berbagai jenis tanaman seperti gaharu, meranti dan lain-lain. Bagi Kami informasi ini sangat berharga agar program berjalan lebih mengenai sasaran. Sekali lagi Kami ucapkan terima kasih.

Di desa Karang Panggung Kami diperkenalkan dengan Ketua Kelompok Tani/Pemberdayaan Desa yaitu Bapak Suryatin. Beliau adalah pelopor penggerak lingkungan di desa dan telah berhasil mengembangkan pembibitan berbagai jenis tanaman serta memproduksi kompos dengan memakai Effective Microorganism 4 (EM4).

Disebutkan pula, masyarakat Desa Karang Panggung selalu mempertahankan untuk tidak menggunakan pestisida karena telah diketahui sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Melihat hasil karya Bapak Suryatin, Kami merasa salut dan Kami perlu banyak menimba pengalaman dengan Beliau.

Di waktu yang akan datang setiap edisi berikutnya akan Kami cantumkan produk dari Bapak Suryatin beserta no HP nya, andai beliau tidak keberatan. Hal ini merupakan upaya dari Kami untuk memasarkan produk-produk ramah lingkungan yang dihasilkan oleh masyarakat Kabupaten Musi Rawas.

Selain itu pula, produk seperti di atas akan Kami tampilkan di weblog Ozon-SILAMPARI, agar jangkauan pemasaran lebih luas lagi. Dengan dicantumkan nama dan no HP, konsumen dari berbagai kota bisa kontak langsung dengan pemiliknya.

Dengan kemajuan jaman yang mempermudah komunikasi dan informasi, menjadikan internet sebagai salah satu media alternatif yang murah dan efektif di bidang pemasaran (marketing).

Dua puluh tahun yang lalu telepon adalah barang mahal, hanya orang berduit saja yang memilikinya. Sekarang, hampir semua orang memegang HP. Tidak menutup kemungkinan beberapa tahun yang akan datang Internet akan digunakan sehari-hari oleh seluruh lapisan masyarakat.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 

Buletin OS Edisi VIII Maret 2008.pdf (52kb)

Buletin OS Edisi I s/d VIII ada di sini 

 

Maret 14, 2008 Posted by | XIP | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

VISI DAN MISI PT.XIP

Visi :

Mewujudkan PT. XIP sebagai perusahaan manufaktur pensil terbesar dan terpadu yang berasaskan pengelolaan hutan secara lestari dengan cara memelihara sumber bahan baku dan tetap menjaga keseimbangan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi serta manfaat secara terus menerus dan berkelanjutan.

Misi :

  1. Menerapkan 10 Prinsip dan Kriteria FSC
  2. Meningkatkan Kualitas Penebangan sesuai dengan Konsep RIL dan COC
  3. Efisensi Bahan Baku dengan meningkatkan Nilai Tambah Limbah Semperan Kayu yang Diproduksi Kembali menjadi Slat Pensil dan pemanfaatan serbuk kayu sebagai media tanam jamur oleh masyarakat
  4. Mengaktifkan Kembali Serikat Pekerja
  5. Pembentukan Kelompok Tani dan membagikan bibit 120.000 batang per tahun
  6. Swakelola Limbah Rumah Tangga untuk Dijadikan Pupuk Kompos dan Pestisida Organik oleh Kelompok Tani Pulai/Labu Kebun Karet dan warga desa yang berdekatan dengan Kawasan Konservasi dan Kawasan yang Dilindungi

Tujuan Pengelolaan Hutan Lestari

Tujuan PT Xylo Indah Pratama dalam pengelolaan hutan di Kabupaten Musi Rawas adalah

  1. Melestarikan dan mengembangkan hutan rakyat dengan jenis pulai dan labu pada lahan kebun atau pekarangan masyarakat dan jenis pulai budidaya pada lahan masyarakat sesuai persyaratan SFM standar FSC
  2. Memanfaatkan/memanen Kayu Jenis Pulai dan Labu sesuai kapasitas hutan rakyat.
  3. Memproduksi Produk slat pensil dari kayu Jenis Pulai dan Labu yang dapat ditelusuri asal pohonnya
  4. Memberikan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Musi Rawas, diantaranya dengan Memberikan peluang kesempatan kerja dan kesempatan berusaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
  5. Melakukan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Musi Rawas yang ramah lingkungan dan tidak merusak kondisi ekologis.
  6. Merehabilitasi lahan di luar lahan kebun atau pekarangan masyarakat (kawasan hutan) yang tidak produktif dengan penanaman tanaman kayu-kayuan antara lain dengan jenis Pulai atau Labu, untuk meningkatkan kualitas lingkungan/ekologis.

PT.XYLO INDAH PRATAMA

DIVISI SERTIFIKASI 

KELOMPOK TANI PULAI KEBUN KARET PT.XIP

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

KONSULTASI PUBLIK

KODE TEBANGAN

Maret 12, 2008 Posted by | XIP | , , , , , , | Tinggalkan komentar