Ozon-SILAMPARI

Buletin Online Wang Kite

AUDIT TAHUNAN 2008 (1)

Secara umum setiap audit tahunan SmartWood selalu memeriksa dan menilai kinerja perusahaan dalam hal upayanya mentaati 10 Prinsip dan Kriteria FSC

Audit kali ini SmartWood memeriksa banyak hal terutama mengenai perbaikan Rencana Pengelolaan (Management Plan) XIP, sejauh mana Rencana Pengelolaan tersebut menggambarkan aksi pengelolaan pulai dan labu masyarakat hingga realisasinya di lapangan dengan baik, dari tingkat petani, kebun hingga kayu diproses menjadi slat pensil.

PENEBANGAN BERDAMPAK MINIMAL (REDUCED IMPACT LOGGING)

Kemudian hal utama lainnya adalah pengembangan tata cara/prosedur penebangan berdampak minimal. Sampai saat ini realisasi metode penebangan ini memang belum terlaksanakan 100%. Di beberapa lokasi XIP berhasil menekan limbah tebangan, dan beberapa tempat lainnya masih ditemukan sisa tebangan yang seharusnya bisa dimanfaatkan, terlebih untuk lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk (desa)

Semperan/ sisa potongan kayu tidak bisa dikeluarkan dari lokasi tebangan untuk dibawa ke pabrik. Hal ini dikarenakan biaya pengangkutan semperan tersebut sangat tinggi, tidak ekonomis, sehingga semperan lama kelamaan membusuk di tempat.

Lain halnya dengan lokasi tebangan yang berdekatan dengan desa. Tanpa dibawa ke luar, semperan masih mudah diangkut dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan tambahan kayu bakar, kandang ternak, pagar rumah dan lain-lain.

Penekanan jumlah semperan yang tertinggal di lokasi tebangan menjadi topik pembicaraan hangat di XIP. Setelah melalui diskusi berkali-kali ditemukan titik terang, solusi sementara :

  1. Membawa mesin portabel ke lokasi tebangan untuk memproses kembali semperan menjadi slat pensil. Kendala yang dihadapi adalah seberapa besar investasi yang bakal ditanamkan dan seberapa besar hasil yang diperoleh. Mengingat mesin portabel pun memerlukan sumber listrik seperti genset. Belum lagi perangkat pendukung lainnya, pengasah gergaji, bengkel dll.
  2. Mengangkut semperan dan membawanya langsung ke pabrik. Kendala yang dihadapi yaitu biaya pengangkutannya pun ternyata sama besarnya dengan biaya mengangkut log atau pun balok kaleng. Salah satu pertimbangan pekerja adalah tingkat kesulitan membawa semperan cukup tinggi, bentuk semperan yang ada sangat beragam, sedangkan jarak yang ditempuh sama jauhnya dengan membawa log atau balok kaleng.
  3. Mengeluarkan semperan dari lokasi tebangan ke desa terdekat dan menghibahkannya kepada masyarakat guna keperluan tambahan kayu bakar dan keperluan bahan bangunan lainnya. Di antara kemungkinan di atas, alternatif ini merupakan langkah terbaik sebagai upaya memperkecil limbah tebangan di lokasi.

Pelajaran ini sangat bermanfaat khususnya bagi XIP, apabila suatu saat XIP mengelola sumber kayu yang berada jauh dari desa atau juga aksesibilitas yang rendah, sebelum penebangan petugas XIP sangat perlu mensosialisasikan pola kerja di atas, bagi operator chainsaw sangat penting mempraktekkan cara pemotongan kayu seefisien mungkin untuk memperkecil limbah tebangan.

Dalam hal ini pesan penting yang bisa kita tangkap, pemerintah dan lembaga internasional pemberi sertifikat seperti FSC, mewajibkan kepada perusahaan untuk tidak bersikap boros dengan menyia-nyiakan semperan, menghargai kayu yang kita tebang dimana kayu ini berasal dari pohon yang hidup sejak puluhan tahun yang lalu dan kita pun tidak ingat, banyak jasa dan manfaat yang diberikan oleh pohon tersebut bagi lingkungan dan masyarakat.

Selain itu pula secara umum dalam hal melaksanakan kegiatan penebangan seluruh perusahaan wajib memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Pemerintah dan FSC melarang penebangan yang bisa mengakibatkan kerugian dan kerusakan terhadap alam sekitar, merugikan bagi masyarakat dan pekerja, serta penebangan yang tidak memperhatikan kelestarian hasil dimana penebangan melebih stok/jatah yang ditetapkan, melebihi tingkat pertumbuhan pohon/tegakan tersebut.

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SmartWood juga memeriksa pengembangan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja XIP dan juga penerapannya di lapangan. K3 merupakan elemen sangat penting yang harus dijalankan oleh semua perusahaan. Prosedur atau juga dikenal sebagai SOP mengenai K3 telah disusun dan dikembangkan oleh XIP. Samapai ini pun penerapannya juga masih belum sempurna 100%. Kami menyadari bahwa melakukan suatu perubahan perilaku/ budaya kerja dari tingkat petani, suplayer hingga karyawan memerlukan waktu yang panjang, tidak secepat membalikkan tangan. Kewajiban perusahaan adalah menyediakan peraturan kerja/prosedur menyangkut K3, mensosialisasikannya, menyediakan Alat Pelindung Diri (APD), monitoring dan evaluasi, dokumentasi. Dengan adanya Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang baik diharapkan mampu menurunkan angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas di lingkungan kerja.

Audit Tahunan 2008 (2)

Pedoman dan Perspektif Rencana Pengelolaan (pdf. 173 Kb)

Buletin OS Edisi XII (pdf. 52 Kb)

Buletin OS Edisi I s/d XII

Pedoman RIL Indonesia 1 s/d 5

Iklan

Mei 30, 2008 Posted by | XIP | , , , , | 1 Komentar

UPAYA KONSERVASI OLEH WARGA DESA KARANGPANGGUNG KEC. SELANGIT

Untuk mengatasi kendala keterbatasan bibit, PT.XIP bekerjasama dengan anggota kelompok tani yang berada di desa Karangpanggung. Pada periode pertama, ketua kelompok tani Bapak Suryatin menyanggupi menyediakan bibit cabutan Pulai sebanyak 2.000 batang.

Bibit ini akan disalurkan kembali secara cuma-cuma kepada petani yang bersedia bergabung menjadi anggota kelompok tani PT.XIP dan ditanam di sekitar pekarangan atau di sela-sela dan di pinggir kebun karet.

Bagi petani, secara tidak langsung juga memiliki peran:
1. mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh warga/anggota kelompok tani di desa Karangpanggung
2. mendukung upaya pelestarian Pulai dan Labu
3. mendukung upaya keberlanjutan produksi slat pensil oleh PT.XIP di Muara Beliti

Salah satu tujuan utama kerjasama PT.XIP dengan anggota kelompok tani di desa Karangpanggung adalah sebagai upaya dukungan terhadap kegiatan konservasi di wilayah desa tersebut. Dengan penangkaran bibit pulai oleh anggota kelompok tani diharapkan pula kawasan penyangga TNKS akan terjaga dengan baik dan memberikan penghasilan sampingan bagi anggota kelompok tani tersebut.

Hal ini akan lebih baik lagi (sinergis) apabila ada perusahaan atau lembaga lain seperti misalnya LSM di wilayah Kabupaten Musi Rawas turut serta mengikuti kegiatan serupa, ataupun dengan cara yang lain.

Selain bibit Pulai, kelompok tani ini juga menangkarkan jenis bibit lainnya seperti Meranti, Gaharu, Balam dan beberapa lainnya sebagai salah satu upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

PT.XIP berkomitmen akan meningkatkan kerjasama dengan kelompok tani desa Karangpanggung. Selain pengadaan bibit cabutan Pulai maupun Labu, perusahaan akan membahas lebih lanjut lagi berbagai kegiatan lainnya seperti bagaimana meningkatkan produksi padi dengan melibatkan Dinas Pertanian, atau kegiatan lainnya yang relevan dengan kondisi desa di masa yang akan datang.

Satu hal yang menarik lagi dari desa Karangpanggung, padi yang ditanam oleh warga bebas dari pestisida. Mereka mengetahui bahwa beras organik yang menjadi trend saat ini memiliki harga jual yang mahal ketimbang beras yang diproduksi dengan memakai pestisida.

Mungkin pertanyaan yang ada di benak kita adalah apakah pertanian organik tersebut? Bagaimana prosesnya suatu produk, misalnya beras, disebut sebagai beras organik? Bagaimana dan siapakah yang akan menjamin bahwa produk tersebut merupakan produk organik? Bagaimana strategi pemasarannya? Dan seterusnya.

Tim Redaksi memiliki bayangan, jika beras yang dihasilkan oleh warga desa Karangpanggung memang termasuk beras organik, bersama-sama kita bisa memikirkan dan mengundang investor untuk membantu melaksanakan pemasarannya.

Tentunya hal ini ini akan memiliki banyak dampak positif khususnya bagi warga desa Karangpanggung dan masyarakat sekitar, di antaranya yaitu
1. meningkatkan pendapatan masyarakat dan
2. meningkatkan kesehatan masyarakat,
3. menurunkan pencemaran lingkungan,
4. terjaganya kawasan penyangga TNKS.

Untuk kita ingat saja, warga desa Karangpanggung memiliki berbagai penghargaan tingkat nasional dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan karena didukung oleh sikap warga yang mencintai lingkungan dan semangat kerja yang kuat.
Mulai minggu kemarin telah dilaksanakan penebangan perdana di Kelompok Tani desa Sadarkarya. PT.XIP berusaha keras menerapkan penebangan berdampak minimal dengan memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja regu penebang.

Untuk itulah PT.XIP mewajibkan regu penebang untuk memakai Alat Pelindung Diri (APD) sebagai antisipasi kecelakaan yang mungkin terjadi.
Di dalam prosedur penebangan berdampak minimal (RIL/ Reduced Impact Logging) mewajibkan perusahaan memikirkan dan memperkecil segala dampak yang bisa timbul akibat penebangan, sejak dari rencana penebangan, sampai paska penebangan.

Dampak yang dimaksud di antaranya kerusakan lingkungan akibat penebangan yang dilakukan di sekitar sungai dan sumber mata air. Kerusakan ini dapat menimbulkan erosi, menurunnya debit air, menurunnya kualitas air akibat tergerusnya tanah ataupun tumpahnya bahan bakar yang digunakan oleh mesin chainsaw di tanah maupun air. Oleh karenanya PT.XIP tidak akan menebang pohon yang berada di sekitar wilayah yang dimaksud di atas.

Selain itu pula, penebangan pohon harus memperhatikan limbah tebangan. Penebangan diwajibkan serendah mungkin dari tanah dan sebisa mungkin setiap cabang kayu dimanfaatkan baik oleh penebang ataupun oleh petani, mungkin untuk kandang ternak, pagar, ataupun bahan bakar. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan manfaat pohon tebangan sehingga limbah tebangan bisa ditekan sekecil mungkin. Tidak dibenarkan penebangan yang menghasilkan banyak limbah yang berserakan di lokasi, yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan oleh kita.

Setelah penebangan, diwajibkan juga untuk merapikan dan membersihkan lokasi tebangan, begitu juga jika ada camp di situ. Areal yang terbuka wajib direhabilitasi dengan melakukan penanaman kembali. Menyingkirkan kayu yang dapat menghalangi aliran sungai dan parit.

Dalam hal mengeluarkan kayu dari lokasi ke tumpukan sementara, hal positif yang ditemukan adalah kegiatan tersebut dilakukan oleh regu kerja PT.XIP secara manual, sehingga tidak terjadi kerusakan tanah. Pengangkutan kayu dilakukan oleh tenaga kerja dengan memanggul kayu ataupun menggunakan gerobak. Tidak seperti layaknya perusahaan yang besar seperti HPH yang menggunakan alat berat seperti Grader maupun excavator yang mengakibatkan banyaknya tanah terbuka sehingga rawan longsor dan erosi. Selain itu pula baru-baru ini sedang memperbaiki jalan dan jembatan yang ada di desa Tingkip.

baca juga:

Pelestarian Pohon Pulai dan Labu

Pemberdayaan Masyarakat

April 26, 2008 Posted by | Musirawas | , , , , , , , , , , | 1 Komentar